World Economic Forum : Indonesia Di Era Jokowi Jangan Dianggap Enteng

World Economic Forum : Indonesia Di Era Jokowi Jangan Dianggap Enteng
Starasia Report
Bertahan melewati pemilu, dan serahkan kekacauan pada pemimpin berikutnya

Setiap pertanyaan baru muncul mengikuti kedatangan presiden yang baru. Setiap diangkatnya pemimpin baru selalu mengikuti harapan harapan baru, tentang bagaimana sang komandan suatu negara menggerakkan tongkat komandonya, terutama di wilayah ekonomi, karena tujuan negara bangsa tidak bukan tidak lain adalah kesejahteraan rakyatnya.

Dus era kini telah berganti, dari era sang jendral paratroopers yang senang menantang diri dan bertahan dalam lubang pertahanannya, kepada seorang pengusaha UMKM mebel yang lantas mendunia karena produknya.

Apa yang ditantang oleh pemimpin saat ini, sudah barang tentu bukan tantangan baru, melainkan tantangan lama yang belum sempat tertangani, dan oleh karena itu serta merta menjadi suatu landmark sang pemimpin di mata rakyatnya. Karena sang rakyat sebelum pemimpin baru diangkat merasakan beban akibatnya. Mereka justru berharap kepemimpinan baru bisa menyelesaikan tantangan yang tidak bisa ditangani oleh pemimpin lama.

Pandangan tersebut jelas sesat pikir, walau sang presiden baru memang berkewajiban menyelesaikan kerja yang belum selesai di era presiden sebelumnya, namun jelas itu bukan landmark, itu tidak bisa menjadi tolak ukur penilaian kepada sang presiden baru yang hanya ambil derita kesalahan kebijakan di era sebelumnya.

Ambil contoh masalah pencabutan subsidi BBM, walau kita mafhum kita berupaya mengerti tidak ada presiden yang ksatria sekaligus gila yang mencabut subsidi energi pada tahun Pemilu. Susilo Bambang Yudhoyonoo (SBY) secara politik jelas masih waras, untuk apa beliauu ambil kebijakan yang walau kebijakan paling tepat dan bisa menyelamatkan negara, jika pada akhirnya partainya nyungsep pada saat pencoblosan?

Pada 2014 lalu, Indonesia mengorbankan pembangunan, dan menambah kembali hutang demi menambal subsidi bahan bakar yang melonjak secara sinting, karena CAD yang meroketkan nilai rupiah, dan pada akhirnya mencekik kas negara untuk pembelian BBM impor yang harus disubsidi.

Pada pertengahan 2013 sejatinya Indonesia tengah krisis, pelarian kapital besar besaran dari Asia karena tapering The Fed AS, menyiratkan AS butuh modal pembangunan besar dengan keuntungan berlipat ganda kepada para investor. Maka para investor pulang kampung, melarikan modalnya dari Asia untuk didaratkan kembali di AS, termasuk yang dari Indonesia.

Dollar menguat dihampir seluruh regional, rupiah menderita paling parah bersama lima negara berkembang lain yang dikategorikan Fragile Five (si lima yang loyo). Walau pondasi ekonomi Indonesia sangat gigantis, tapi yang absen adalah mentalitas petarung, baik dari rakyat maupun dari pemimpinnya. Rakyat perengek, pemimpin embuh ambil kehilangan muka, maka muncul ide yang brilian..

"Bertahan melewati pemilu, dan serahkan kekacauan ekonomi pada pemimpin berikutnya."

Siapa yang di antara pembaca mau menantang pendapat tersebut? Siapa!? Jelas tidak ada, karena tidak ada yang dari Anda (saya yakin  sekali) mau mengorbankan diri secara tidak perlu hanya sekedar membuat pemimpin berikutnya menjadi lebih nyaman melaksanakan janji kampanyenya.

Nyaman dengan kas negara yang penuh, nyaman dengan inflasi yang sudah "di bay" tertangani, dan nyaman dengan wahyu citrawi yang hebat, bahwa ini pemimpin tidak bermasalah, beda dengan SBY, yang pencekik rakyat, yang penaik harga BBM, yang pembuat inflasi besar menjelang pemilu.   

Oleh karena itulah SBY tidak gila. Dan tidak bisa disalahkan dengan langkah politisnya yang tidak mau memberikan karpet merah pada pemimpin berikutnya, entah sang Jendral berwajah tegas keturunan ningrat bernama Prabowo Subianto, atau sang eksportir ndeso Joko Widodo.

Apakah siklus sinting ini akan terus berulang? Jawabannya ya, sejauh mayoritas masyarakat Indonesia masih belum tercerahkan secara fiskal. Belum memahami konteks fiskal atau bagaimana anggaran negara berjalan.

Jokowi Lebih Pro Entepreneur
Karena sekali ini masalah ini terletak pada mentalitas pemimpin dan rakyatnya. Rakyat di Indonesia tidak bergantung pada bagaimana pemimpinnya, tapi takut kehilangan gaya hidup stagnan, takut berjudi dengan nasib, takut mengalami sukses entrepreneur, kerap berminset "modal besar pemenangnya" nol penghematan dan kerja keras.

Namun keajaiban terjadi, rakyat Indonesia diberikan dua pilihan, calon presiden jenderal yang aristokrat, kekar dan berotot, sudah "kaya" selagi dalam buaian, mewakili minset "modal besar", di mana pandangan kepemimpinannya, sim salabim segala kekayaan Indonesia bisa dieksploitasi demi lancarnya pembangunan, dan yang "bocor bocor" oleh aristokrasi politik lain akan dihantamnya, soldier style sangat komandois.

Calon kedua, adalah calon presiden yang terlihat bagai kena anoreksia, kurus kerempeng yang seolah ditiup angin sepoi pun bisa jatuh, dia orang kampung, bukan anak siapa siapa, keluarganya tidak penting, tapi dia pengusaha UMKM, dari nol menuju big entrepreneur, sudah pasti orang yang kenal cara berhemat, beririt, bertahan. Janji kampanyenya memperlihatkan kecenderungan itu, tol laut, maritim, dagang.

Dan rakyat memilih yang kedua, dengan kata lain, segala hutang hutang pekerjaan warisan presiden SBY, akan ditangani oleh manusia hemat, irit, dan doyan mengetatkan ikat pinggang. Dan itulah pula yang Jokowi lakukan dengan Indonesia.

Walau mengeluhkan sempitnya ruang fiskal APBN pada eks menteri Keuangan M. Chatib Basri, Jokowi tidak kehilangan akal, program baru harus jalan terus, walau dilakukan dengan serba irit, serba hemat, dan akhirnya alihkan subsidi BBM ke program nawa cita yang efektifnya bisa dirasakan bertahun-tahun mendatang.

Jokowi tak peduli walau citra "presiden rakyat instan" hancur luluh lantak, dan wahyu kepemimpinannya di mata rakyat terutama kaum buruh pengandal gaji bulanan, berharap presiden baru langsung joss, langsung kasih sejahtera jadi tak tersisa.

Bagi Jokowi terpenting mempertahankan lumbung suara para entreprenur dan UMKM, para petani dan nelayan, dan mereka yang berkerja berdasarkan produktifitas tahun fiskal, berdasarkan musim ke musim, dan bukan para buruh.

Kepada para UMKM, para pekerja di wilayah produksi kolektif dan koperasi, Jokowi memberi gambaran surga, jalan raya baru, pembangkit listrik baru, bendungan, pelabuhan, yang kelak akan bermanfaat untuk para pemodal kecil ini agar bisa menjadi eksportir besar, yang pada akhirnya membawa kesejahteraan pula dalam bentuk kenaikan upah pada pekerja dan buruh.

Fase berikutnya dari pemimpin jenis Jokowi ini, tentu saja akan menghadapi gelombang demi gelombang aksi mahasiswa, salah satu bentuk kekuatan tradisional politik yang sama sekali tidak memiliki kepentingan dengan dunia entrepreneur atau UMKM yang Jokowi sasar.

Bahkan barangkali aktivis mahasiswa membenci dunia entreprenur ini dan menyebutnya sebagai pesaing berat mereka, karena saat kawan mahasiswa mereka yang lain sibuk berbisnis, kawan kawan mereka itu tidak bisa lagi di ajak turun ke jalan, wong sibuk dengan dagangan atau produksi!

Inilah pilihan yang telah diambil Indonesia. Dan tebak, pilihan rakyat Indonesia ini mendapat pujian dari Ketua World Economic Forum, David Aikman.


Tiga yang Menantang Si Kerempeng

Dalam kolomnya di Jakarta Post (14/04) yang berbagi pemahaman dengan penulis, Aikman menulis :

"Dengan produk domestik bruto diperkirakan lebih dari US $ 11 miliar dan pendapatan per kapita $ 10.348 (berdasarkan paritas daya beli) dan peringkat ke-34 dalam Global Competitiveness Report dari World Economic Forum, Indonesia merupakan salah satu negara yang paling dinamis secara global.

Namun Indonesia menghadapi sejumlah tantangan berat: pertumbuhan tengah melambat dalam ekonomi yang malah sudah matang, dan jalinan baik dengan mitra dagang penting; pencemaran dan kerusakan ekologi pembakaran hutan; ketegangan geopolitik yang mengancam stabilitas di Laut Cina Selatan; kebutuhan untuk mempertahankan tradisi Muslim toleran melawan radikalisasi; dan pengembangan lebih lanjut infrastruktur untuk mengatasi pertumbuhan ekonomi. Ini adalah tantangan struktural yang akan ada beberapa waktu lamanya."

itu tantangan langsung Indonesia dari bilik laci sendiri. Namun saat membuka jendela yang lebih luas, ada tantangan lainnya, sebagaimana yang dituliskan oleh Christine Lagarde mantan Menteri Ekonomi Perancis yang kini berada di IMF :

"Pada awal 2015, para pembuat kebijakan di seluruh dunia dihadapkan dengan tiga pilihan dasar: mengupayakan pertumbuhan ekonomi atau menerima stagnasi; bekerja untuk meningkatkan stabilitas atau risiko mengalah pada kerapuhan; dan untuk bekerja sama atau jalan sendiri. Taruhannya tak bisa lebih tinggi; 2015 digadang gadang untuk menjadi tahun bangkit atau bangkrut bagi komunitas global."

Menjawab tantangan Lagarde dus tantangan dari laci sendiri dalam versi Aikman, Jokowi harus langsung menjawabnya,

(1). Pertama pilihan untuk menerima pertumbuhan ekonomi, dengan kata lain Jokowi menitikberatkan upaya "menjual Indonesia" kepada para investor riil, komoditas terolah, yang artinya adalah pertumbuhan ekonomi melalui lapangan kerja baru, pembukaan lahan pertanian baru dengan melibatkan Tentara Nasional Indonesia (TNI), perampingan izin usaha di BKPM, dan menganaktirikan sektor energi dengan menutup beberapa kounter asing pada eksplorasi hulu minyak. Bahkan stagnasi komoditas utama dengan fokus pasar dalam negeri, seperti gas LNG, serta sawit untuk biofuel.

(2). Dalam mengatasi stabilitas di masa mendatang alih alih mengalah pada kerapuhan, Jokowi menarik mundur dana subsidi bahan bakar, dan menyerahkannya pada pembangunan infrastruktur hard dan soft. Demi mengatasi tekanan terhadap rupiah Jokowi melakukan kebijakan impor ketat, walau dari kedua kebijakan antara cabut subsidi dan tekan impor, bisa membuat inflasi atau harga dalam negeri meningkat karena kelangkaan pasokan.

(3). Kerjasama atau jalan sendiri, dalam hal ini Jokowi mengaku siap menghadapi MEA, bahkan dalam kunjungan kenegaraannya Indonesia membuka diri pada kerjasama yang lebih erat dan memperbaharui poros poros antar ibukota, ditambah kebijakan penghapusan biaya visa pada 30 negara baru, mencerminkan Indonesia semakin terbuka dalam kerjasama global.

Pemerintah pusat tengah berkerja, namun Aikman memberikan catatan penting, bahwa perubahan ini bukan lagi melulu soal pusat, tapi soal manusia Indonesia sendiri. Menurutnya salah apabila menganggap enteng Indonesia saat Jokowi yang tengah pegang kendalinya. Karena jokowi di sokong oleh gerakan relawan yang ternyata lebih kuat dari yang diperkirakan.

Dahulu Mereka Mengadu Nasib Ke DPR, Kini...

Bagi Aikman Indonesia tengah berubah, dahulu rakyat bila menghadapi masalah lantas berdemontrasi dan mengadu pada politisi, dan berharap politisi baik pemerintah atau DPR yang mereka bayar dari uang pajak mencarikan solusi untuk gaya hidup mereka. Tapi kali ini ada perubahan besar seiring dengan meningkatya tingkat pendidikan.

Para elite politik kini di pandang sebagai mitra yang tidak menguntungkan oleh munculnya kelas baru di Masyarakat, kelas generasi X mereka yang lahir di era 70-80 yang memandang birokrasi adalah jalur penghambat dibanding jalur cepat menuju kesejahteraan.

"G
enerasi baru leadership yang telah menyadari bahwa sifat kepemimpinan dan kekuasaan berubah. Ini adalah kabar baik bagi Indonesia dan booming para pemudanya." tulis Aikman.

Generasi X ini merasuki wilayah bisnis, menjadi kekuatan baru kelas menengah, dan mereka menjadi kekuatan terbesar dari kampanye mendudukan Joko Widodo menuju pucuk pimpinan. Bagi generasi ini, Jokowi yang terlahir pada era 60 an, adalah senior yang paling mengerti apa yang mereka butuhkan, yakni akses menuju usaha global.

Dengan berhimpun di media sosial, generasi baru ini ada di antara 70 juta pengguna facebook, dan menggunakannya secara cendikia, dan puncaknya pada tahun 2014 di mana pola pola kampanye tradisional melalui pengerahan massa perlahan memudar, berubah menjadi perang Meme dan debat politik di ranah sosial media.

Generasi X tidak bisa dihentikan, dan bertanggungjawab sepenuhnya pada laju reformasi yang mereka gulirkan. Aikman pun melihat peran generasi reformis ini di Indonesia.

"Dalam pekerjaan saya  di Forum’s New Champions Communities, 
saya melihat generasi berikutnya naik ke tantangan global, mengakui pergeseran dalam kekuatan dan, dengan intensitas gairah, mereka hantam tradisi organisasi yang ada sebelum gelombang perubahan ikut membawa mereka pergi. Indonesia adalah contoh yang baik tentang bagaimana generasi baru pemimpin muda yang lebih beragam membawa laju solusi segar dan dinamis untuk tantangan global dan regional." pungkas Aikman.

Indonesia memang terbelah, antara para pemuda entrepreneur yang siap untuk tantangan berikutnya, dengan para pemuda manja yang masih ingin menerima uang kontrakan lancar dari orang tuanya.

Kita lihat saja siapa yang berdaya pada 20 Mei nanti, pada saat hari Kebangkitan Nasional. Yang dibangkitkan para politisi untuk kembali malas, atau yang sudah bangkit enyah dari politisi dan ingin membangkitkan yang lain agar terangkat hidupnya.***Red