YLKI Himbau Pertamina Waspadai Migrasi Pengguna Gas Elpiji Non Subsidi

YLKI Himbau Pertamina Waspadai Migrasi Pengguna Gas Elpiji Non Subsidi

Fiskal.co.id, Jakarta – Himbauan bagi Pertamina agar memikirkan lagi keputusan penaikan harga bahan bakar gas LPG untuk gas non-subsidi disampaikan Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, Tulus Abadi yang ditemui Rabu (1/1/2014) lalu. Pihaknya ingin Pertamina agar lebih intensif memperhatikan dampak yang mungkin timbul dari kenaikan harga gas non-subsidi tersebut.

 

Meskipun dianggap wajar jika pertamina menaikan harga gas non-subsidi, namun YLKI berharap besarannya tidak lebih dari 50% dari harga normal.

 

Berkaca dari pengalaman terdahulu, YLKI pernah mencatat dampak yang cukup besar saat Pertamina menaikan harga gas di tahun 2009. Pada waktu itu, YLKI mencatat terdapat perubahan pola konsumsi masyarakat dari yang sebelumnya menggunakan gas non-subsidi jadi beralih menggunakan gas subsidi 3 kilogram. Pada waktu itu terjadi peningkatan hingga 12 % dari jumlah konsumen gas melon 3 kg sebelumnya.


Tentunya bukan tidak mungkin kenaikan harga gas non-subsidi tahun ini juga akan memicu peningkatan konsumsi gas 3 kg. Hingga saat ini, harga gas non-subsidi 12 kg sudah naik kurang lebih Rp 3.959 per kilogram. Dengan begitu harga gas 12 kg kini menjadi Rp 122 ribu per tabung dari yang sebelumnya hanya mencapai Rp 78 ribu per tabung.


Juru bicara Pertamina, Ali Mundakir yang dikonfirmasi kemarin memaparkan bahwa keniakan tersebut merupakan satu-satunya langkah yang harus diambil oleh Pertamina dalam menyikapi keadaan ekonomi saat ini. “Kondisi ini tidak sehat untuk Pertamina dalam menjamin pasokan elpiji ke masyarakat,” tukas nya.

 

Namun pihaknya meyakinkan bahwa Pertamina sudah mempersiapkan langkah jika memang terjadi lonjakan konsumsi gas 3 kg yang tak terkendali. Ia menambahkan, kenaikan ini tidak akan terlalu membebankan masyarakat karena selama ini konsumen gas 12 kg adalah masyarakat kelas menengah atas. [mjd]