Welcome to The Jungle bu Ani

Welcome to The Jungle bu Ani

“Kenapa saya yang harus dimarahi.” Keluh ibu Ani Yudhoyono, istri dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, berkaitan dengan aktivitasnya di media sosial. Nah itulah.. Barangkali ada yang lupa mengajarkan pada bu Ani, bahwa nettique atau penekanan etiket bersosial media masih baru di Indonesia, dan tidak ada satu alat negara pun yang bisa menggunakan tangan besi mengajarkan nettique.

 

Di sosial media berkeliaran mereka yang anonim, dan bertindak bagai pendekar paruh waktu melakukan kritik sosial paling pedas, pada siapapun, termasuk pada Nabi, pada kitab suci, bahkan pada Tuhan... Apalagi ibu negara.

 

Dari kalangan anonim itu, ada pula yang beridentitas jelas, dan kebetulan kritis, dan menggunakan hak warga negaranya secara penuh dengan melakukan kritik dan marah marah. Pelepasan penat, kejujuran, atau sekedar usil, segala jenis alasan dan motivasi bisa mendorong orang melakukannya.

 

Sosial media adalah kangouw atau dunia persilatan tersendiri di mana Ibu negara dan presiden tentunya harus berbekal kesaktian tersendiri dalam mengalahkan dan mendebat box demi box komentar, dibandingkan cenderung marah marah sendirian dan bersikap reaksioner.

 

Halaman Facebook Presiden Susilo Bambang Yudhonoyo memiliki lebih dari 1,7 juta fans, dan kata ‘fans’ itu patut dicurigai apakah fans, atau bom waktu yang cerewet. Umumnya, laman resmi pemimpin dunia yang menggunakan platform sosmed, diwakili oleh PR PR terbaik yang mampu berolah kata. Tetapi dalam interaksi online-nya, Ibu Yudhoyono tidak melakukan itu. Dan berjalan di kangouw sendirian.

 

Awal pekan ini misalnya, Ibu Yudhoyono meminta maaf pada lebih dari 320.000 pengikut fasilitas berbagi aplikasi Instagram pada komentar komentar beliau sebelumnya yang cenderung lebih defensif dari perang 300 orang Sparta pimpinan Leonidas melawan Persia di Thermypolae.

 

"Saya ingin berterima kasih kepada semua pengikut saya untuk dorongan mereka , dukungan dan interaksi di akun Instagram saya," tulisnya di halaman account di samping gambar seorang Gardenia putih. "Jika saya mengatakan sesuatu yang tampaknya menyinggung atau tidak menguntungkan bagi beberapa pengikut saya, maka saya minta maaf."

 

Permintaan maaf itu muncul setelah sang ibu menjawab kritik keras bahwa dia sedang sibuk posting gambar cucu sendiri ke akun Instagram ketika banyak orang di Indonesia sedang berjuang dengan banjir dan nasib pengungsi Sinabung yang belum jelas.

 

Pakar media sosial mengatakan wajar lah bahwa orang akan ingin mengikuti tokoh masyarakat populer seperti bu Ani, karena itu memberi mereka sekilas tentang bagaimana para elite menjalani kehidupan nya secara jujur.

 

"Reaksinya pada Instagram telah menciptakan reaksi yang besar, karena orang Indonesia menganggap apa yang dilakukannya insensitivities atau berreaksi berlebihan," kata Enda Nasution, seorang blogger Indonesia yang populer dan guru media sosial. " Pikiran pertama saya adalah' Tidakkah ada yang bilang padanya bahwa jenis reaksi demikian akan membuat dia dan suaminya terlihat [buruk]?" ujarnya sebagaimana dikutip The Wall Street Journal, (24/01).

 

Walau demikian Nasution mengatakan ia memuji Ibu negara karena menggunakan Instagram dan terlibat secara pribadi dengan pengikutnya.

 

"Saya bisa mengerti sudut pandangnya . Pada usianya , dia mungkin memiliki ide tetap tentang bagaimana orang harus bersikap," katanya. "Tapi kadang harus tahu mana yang lebih baik untuk menanggapi pertanyaan yang tidak perlu ditanggapi." Tepat sekali.

 

Dilihat, dari gaya ibu Ani yang panik dan reaktif, memang tampaknya Instagram terlalu ekposed bagi sang Ibu yang seharusnya penuh wibawa. Terlalu ekposed.***Fey