Walau Nyentil Australlia, Abbot Siap Fokus Kerjasama Dengan Jokowi

Walau Nyentil Australlia, Abbot Siap Fokus Kerjasama Dengan Jokowi

Joko "Jokowi" Widodo, sempat menyentil Australia agar tidak memasuki perairan Indonesia seenaknya, dan kini  menjelang pelantikannya sebagai presiden di Jakarta, Senin, Tony Aboot Perdana Menteri Australia pun mengujungi pelantikannya.

Perdana Menteri Tony Abbott berangkat Australia ke Jakarta, Minggu pada misi untuk membangun hubungan lebih baik lagi dengan Jokowi.

Perjalanan Abbott, ini sendiri demi menghadiri pelantikan Jokowi pada Senin hari ini (20/10), akan menjadi kunjungan keempat ke Indonesia.

Dalam pernyataan video yang direkam sebelum meninggalkan Australia, Abbott menyebut Jokowi akan menjadi satu-satunya presiden yang dipilih secara langsung kedua di Indonesia, yang mengambil alih kepresidenan dengan "goodwill besar."

"Australia ingin presiden baru (Indonesia) untuk berhasil - karena Indonesia yang kuat, makmur, yang demokratis memiliki begitu banyak yang bisa ditawarkan pada dunia," kata Abbott.

Dia pun menambahkan Indonesia memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia, dan menjadi negara demokrasi terbesar ketiga di dunia dan, bersama dengan India, yang lantas bisa menjadi negara adidaya demokratis yang muncul dari Asia.

Sebelumnya dalam sebuah wawancara dengan Fairfax Media yang diterbitkan pada hari Sabtu (18/10), Jokowi menguraikan rencana untuk memperkuat hubungan, termasuk meningkatkan kerjasama militer dan intelijen, tetapi memperingatkan bahwa dia akan "lebih tegas" dalam hal kedaulatan.

Jokowi lantas menyuarakan keprihatinan tentang kapal angkatan laut Australia yang merambah ke perairan Indonesia tanpa izin seperti yang mereka lakukan pada enam kali dalam satu tahun terakhir.

"Kami akan memberikan peringatan bahwa ini tidak dapat diterima," ujar Jokowi.

"Kami memiliki hukum internasional, Anda harus menghormati hukum internasional," jelasnya kepada Fairfax Media.

Dalam pernyataannya direkam, Abbott mengulangi pandangannya bahwa kebijakan luar negeri Australia lebih fokus ke "Jakarta" daripada ke "Geneva (G20)"

"Hampir satu juta warga Australia mengunjungi Indonesia, termasuk Bali, setiap tahun dan lebih dari 17.000 mahasiswa Indonesia belajar di Australia setiap tahun," katanya.***Fey (sumber SMH)