Walau Cerah Sektor Perbankan Indonesia harus Berhati hati Pada Langkah the Fed

Walau Cerah Sektor Perbankan Indonesia harus Berhati hati Pada Langkah the Fed

Sektor perbankan masih menjadi sektor utama bagi pertumbuhan industri keuangan Indonesia serta ekspansi ekonomi secara umum karena sektor ini membukukan keuntungan tertinggi di seluruh dunia. Prasetiantoko Augustine, ekonom di Bank Tabungan Negara (BTN), mengatakan bahwa profitabilitas di sektor perbankan Indonesia tidak hanya tertinggi di kawasan Asia Tenggara ASEAN dan tetapi juga di seluruh dunia.

 

Bank Rakyat Indonesia mencatat laba tertinggi perbankan Indonesia pada tahun 2013 (Rp 21 triliun), diikuti oleh Bank Mandiri (Rp 18 triliun) dan BCA (Rp 14 triliun).

 

Menurut Agustinus, setidaknya ada dua faktor yang menjelaskan keuntungan yang tinggi dalam industri perbankan Indonesia. Pertama, net interest margin (NIM) yang tinggi. Per Agustus 2013, NIM di industri perbankan Indonesia mencapai 5,46 persen, tertinggi di seluruh dunia. Kedua, masih ada potensi yang cukup untuk pertumbuhan lebih lanjut dari industri perbankan Indonesia karena penetrasi perbankan di Indonesia berdiri di sekitar 30 persen saja.

 

Agustinus mengatakan bahwa "terutama mengenai kredit mikro, NIM bisa menjadi 12 sampai 13 persen, sebagian karena kurangnya kompetisi." Satu masalah, bagaimanapun, adalah akses ke kredit serta suku bunga yang tinggi yang dibebankan. Selain itu, pasar ini mengandung lebih banyak risiko dan akan meningkatkan banyaknya kredit bermasalah.

 

Sektor perbankan Indonesia mampu tumbuh kuat pada tahun 2013 meski konteksnya lebih rumit. Bank Indonesia menaikkan acuan suku bunga (BI rate) dari 5,75 persen pada Juni 2013 - 7,50 persen pada November 2013 dalam rangka memerangi inflasi yang dipercepat dan mendukung nilai tukar rupiah Indonesia, yang telah terdepresiasi tajam terhadap dollar AS setelah meningkatnya spekulasi tentang berakhirnya program pelonggaran kuantitatif AS di bulan Mei - Desember 2013.

 

Kenyataan ini menyebabkan ekonomi makro bank-bank Indonesia harus mengekang biaya dan menargetkan wilayah pertumbuhan baru. Pertumbuhan kredit diperkirakan akan melambat menjadi sekitar 16 persen pada tahun 2014.

 

Dengan BI rate yang lebih tinggi, NIM pada bank di Indonesia telah mulai berjalan normal pada tahun 2013 - meskipun masih tinggi saat ini - dan tren ini diperkirakan akan terus berlanjut karena BI kemungkinan besar tidak akan menetapkan tingkat bunga yang lebih rendah dalam waktu dekat.*** Int (sumber Indonesia Innvestment)