Vaksin Campak Disabotase 50 Anak Suriah jadi Korban

Vaksin Campak Disabotase 50 Anak Suriah jadi Korban

Vaksin campak yang kadaluwarsa atau mungkin disabotase telah membunuh sebanyak 50 anak di daerah barat laut Suriah, memaksa penangguhan kampanye vaksinasi besar-besaran ditujukan untuk menghentikan penyebaran campak, gondok, rubella, dan polio, relawan dari organisasi medis melaporkan pada Rabu (17/9).

Para korban, beberapa dari mereka yang masih bayi, meninggal pada Selasa (16/9), sebagian besar terkonsentrasi di kota-kota Jarjanaz dan Sinjar di provinsi Idlib, daerah yang dikontrol oleh pasukan yang menentang Presiden Bashar Assad.

Kekuatan oposisi ini telah berusaha untuk berfungsi sebagai pemerintah sementara dan memberikan pelayanan kesehatan dasar, termasuk inokulasi dan vaksinasi kepada anak-anak, mengingat runtuhnya sistem perawatan kesehatan masyarakat Suriah sejak perang saudara yang dimulai lebih dari tiga tahun yang lalu.

Puluhan anak-anak lain di Idlib dilaporkan telah muntah-muntah setelah divaksin. Dr. Abdulla Ajaj, seorang dokter yang membantu mengelola vaksin, mengatakan bahwa dosis vaksin diterima tiga hari sebelum mereka digunakan. "Ini adalah pertama kalinya kami memiliki masalah seperti itu," katanya dalam sebuah wawancara lewat Skype.

Asal vaksin masih belum jelas, tapi Ajaj berspekulasi bahwa mereka mungkin telah disimpan pada suhu yang tidak benar. "Kemungkinan besar kadaluwarsa karena disimpan di dalam lemari es," katanya.

Syrian American Medical Society, yang mengoperasikan rumah sakit di Idlib, mengatakan bahwa penerima vaksin basi ini mulai menunjukkan gejala-gejala dalam beberapa menit, termasuk sesak napas, detak jantung melambat, mengi, dan radang laring.

Mereka sendiri waktu itu memproses 65 pasien, katanya dalam sebuah pernyataan, dan 15 meninggal pada saat kedatangan, semua di bawah usia 1 tahun.

Dokter untuk Hak Asasi Manusia, sebuah organisasi berbasis di New York yang memiliki penghubung di daerah yang dikuasai oposisi dari barat laut Suriah, mendistribusikan email internal yang mengatakan bahwa sebanyak 50 anak-anak mungkin telah meninggal karena vaksin itu, dan kemudian mengirim sampel ke Turki untuk analisis.

Pemerintah sementara itu membuat sebuah pernyataan di situsnya bahwa mereka telah menghentikan kampanye vaksinasi dan menyelidiki "untuk mempelajari kebenaran di balik bencana kemanusiaan ini." ***intan (Sumber: The Globe and Mail)