Tata Kota Buruk Penyebab Banjir Jakarta, Solusinya Tidak Instan

Tata Kota Buruk Penyebab Banjir Jakarta, Solusinya Tidak Instan

Tata ruang yang buruk menjadi penyebab menggunungnya banyak masalah di Jakarta, seperti sulitnya menangani banjir yang telah merusak dan memberi dampak sosial-ekonomi.

 

Jakarta sendiri bukanlah kota yang kokoh mengurus dirinya secara natural, beberapa isu seram yang terkait dengan banjir meliputi penurunan tanah, naiknya permukaan laut, urbanisasi yang tak terkendali, perubahan lahan dan infrastruktur yang tidak memadai, serta ketertiban masyarakat kota yang memiliki minset bahwa mereka itu hanya tamu singgah di kota itu.

 

Desainer perkotaan Andy Siswanto mengatakan manajemen yang buruk dari Jakarta telah menyebabkan kekacauan. Dia telah menyerukan untuk melakukan sinkronisasi data yang terkait dengan faktor-faktor ini dalam rangka untuk memetakan potensi banjir di sekitar Jakarta.

 

Selain itu, Andy menyarankan bahwa perencanaan kota yang buruk ini telah menyebabkan kekumuhan, ghetoisasi, karena adanya jarak antara kawasan industri dan perumahan yang terjangkau telah memaksa para pekerja untuk ngekos bisa dekat tempat kerja mereka.

 

"Tata letak kota (yang baik) bisa memberikan kontribusi untuk kesejahteraan warga setempat dan penting bagi masyarakat miskin dan kaya untuk hidup nyaman," kata Andy seperti dikutip kompas.com, Jumat (07/02).

 

Adapun pengamat perkotaan asal Institut Teknologi Bandung (ITB) Hasanudin Abidin mengatakan penurunan tanah telah menyebabkan kerusakan bangunan dan infrastruktur di Jakarta, dan ini diperburuk oleh banjir karena gangguan sistem drainase.

 

Berdasarkan pengamatan Hasanudin melalui survei GPS, penurunan tanah di Jakarta pada 1997-2011 berkisar antara 1 cm sampai dengan 15 cm per tahun dan bisa sampai 28 cm setiap tahun di beberapa daerah tertentu.

 

Menambah koor Abidin, peneliti di Departemen Teknis Geodesi ITB, Heri Andreas, mengatakan penyebab utama penurunan tanah adalah pengosongan lahan serapan air, dan mengubahnya menjadi bangunan berat dari mal besar dan gedung pencakar langit bertumbuhan dengan kecepatan bagai cawan di musim hujan.

 

Maka solusi yang jelas untuk ini adalah untuk benar-benar menghentikan pembangunan di wilayah serapan air tanah, dan menyediakan situ situ yang cukup untuk menampung air.

 

Upaya minimal telah dilakukan untuk mengembalikan fungsi lahan serapan. Pada 2013, pemerintahan Kota Jakarta membuat 1.507 sumur resapan di berbagai daerah. Sumur ini diharapkan untuk bisa menampung 52.977 meter kubik air setiap hari.

 

"Setiap solusi banjir membutuhkan waktu, masalah ini tidak dapat diselesaikan langsung," jelas Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo .

 

Manajemen struktural dan non - struktural pada daerah hilir dan hulu telah dilakukan dalam rangka pengendalian banjir. Di kota itu sendiri, kapasitas penanganan semakin membaik, dengan optimalisasi banjir kanal Timur dan Barat. Selain itu, pengerukan di Sunter, Cengkareng, dan Muara Barat, ditambah dengan normalisasi tepian Sungai Ciliwung terus dilakukan sepanjang tahun ini.***Fey