Tarif Kereta Api Jarak Jauh Meroket, Tarif KRL? Aman!

Tarif Kereta Api Jarak Jauh Meroket, Tarif KRL? Aman!

PT Kereta Api Indonesia hari ini, Rabu (1/4), mulai memberlakukan mekanisme perhitungan tarif progresif berdasarkan jarak kilometer yang ditempuh oleh para penumpang. Tak tanggung-tanggung, kenaikan di beberapa rute kereta ekonomi jarak jauh bahkan mengalami kenaikan hingga 100%.  


Adapun sejumlah rute kereta ekonomi yang melonjak antara lain adalah, Kuto Jaya Utara jurusan Kutoarjo—Pasar Senin dari tarif awal sebesar Rp 40.000 menjadi Rp 80.000.


Kenaikan tarif disesuaikan dengan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 17 Tahun 2015 tentang Tarif Angkutan Orang dengan Kereta Api Pelayanan Kelas Ekonomi untuk Melaksanakan Kewajiban Pelayanan Publik.


Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero) Edi Sukmoro mengatakan, kereta api ekonomi jarak jauh memang mendapatkan subisidi PSO (Public Service Obligation) dari pemerintah setiap tahun.

Untuk tahun ini, subsidi yang diberikan untuk kereta api jarak jauh adalah Rp 115 miliar, lalu Rp 131 miliar untuk kereta api jarak sedang, Rp 464 miliar untuk kereta api jarak dekat, Rp 44 miliar untuk KRD ekonomi, Rp 754 miliar untuk Commuter Line Jabodetabek, dan Rp 13 miliar untuk kereta api angkutan Lebaran.

Awalnya, lanjut Edi, subsidi diberikan hanya sampai bulan Juni 2015, namun pemerintah memutuskan subsidi bisa sampai akhir tahun ini.


“Karena angka PSO yang diberikan harus sampai akhir tahun, semula hanya sampai dengan Juni 2015, maka tarif harus di sesuaikan,” kata Edi di Jakarta, Rabu (1/4)

Menurutnya, kenaikan tarif juga disebabkan oleh faktor lain, yakni pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat (AS) dan juga kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).


Sementara itu, Pengurus Harian YLKI (Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia) Tulus Abadi menjelaskan, pemberlakuan tarif terbaru untuk kereta rel listrik (KRL) tidak memberikan pengaruh yang signifikan kepada masyarakat.


“Yang memberatkan itu yang jarak jauh, KRL masih relatif, karena masih ada PSO-nya, yang memberatkan jarak jauh, kalau KRL itu justru masyarakat terbantu karena ada subsidi dari pemerintah atau PSO,” kata Tulus.


Apabila sebelumnya tarif KRL berdasarkan jumlah stasiun yang dilewati, maka saat ini perhitungan nya adalah dengan melihat 1-25 km pertama para penumpang akan dikenakan tarif sebesar Rp 2.000, lalu untuk 10 km berikutnya atau kelipatan nya, mereka dikenakan biaya tambahan sebesar Rp 1.000. ***Sand (sumber: Kompas.com & Okezone.com)