Stop Oom Ben, Selamat Jalan Oom Ben

Stop Oom Ben, Selamat Jalan Oom Ben

Indonesia kehilangan "musuh besar" nya. Indonesia kehilangan rival hebat yang mampu menelanjangi watak, membuka aib aib besar bangsa ini langsung ke inti jiwa. Indonesia sekaligus kehilangan seorang profiler besar, detektif yang mampu menunjukkan kesalahan kesalahan langkah dan arah tujuan kebangsaan ini. Indonesia kehilangan Benedict Richard O'Gorman Anderson (26 Agustus 1936 – 13 Desember 2015), yang wafat pada usia 79. Sosok yang biasa Anda sebut sebagai Oom Ben ini meninggal dengan tenang di tempat tidur, di negara yang dicintainya, kota Malang Indonesia.  

Ya betapa malang Indonesia bisa kehilangan sosok seberkualitas dirinya, walau nama Oom Ben ini barangkali amat sangat asing ditelinga siapapun. Siapa Ben? orang mana? Apa perannya? Haruskah dia saya kenal? Karena dia tidak dikenal, berita tentang dia begitu sedikit, artinya dia tidak punya apa apa yang ditawarkan pada orang Indonesia.

Benar, jika asumsi itu mengacu pada sisi popularitas. Ben bukan seorang selebritis, Alih alih dia malah menjadi musuh negara, setidaknya pada era Orde Baru karena kritik kritiknya yang tajam. Bukan lantas karena di orde tersebut pria Amerika Serikat  yang merupakan dosen Universitas Cornell ini dilarang masuk, melainkan pula secara ironis segala kritik Ben diposisikan sebagai intervensi asing, sudut pandang kaum penjajah asing, Snouck Hungronje abad 21, pemecah belah kesatuan bangsa, missionaris dst.

Diskredit itu bagaimanapun masuk akal, karena memang Ben seorang antropolog, sosiolog, sejarawan pengamat kehidupan sosial politik kebangsaan Indonesia. Dia seorang Indonesianis, yang barangkali apabila kita berada dalam kondisi perang, Ben adalah sosok paling berbahaya karena begitu mengetahui jalan pikiran orang Indonesia, dan dari bahan macam apa Indonesia dibangun, yang dengan demikian dalam kondisi apa Indonesia bisa dipecahkan bubar.

Ben pegang kuncinya.

Analisa analisa Ben tentang Indonesia, tentang tubuh kaum kreol (identitas hybrid nasion) yang menjadi bagian komunitas imajiner, komunitas pembayang batas batas nasionalis begitu berbahaya. Ikatan kebangsaan kita yang kuat dan sekaligus lemah, bisa diwakili oleh pemikirannya di buku Komunitas Imajiner, Refleksi dan Awal Persebaran Nasionalisme (1991).

Pemikiran Ben membuat Pancasila yang kita agungkan, tidak ubah sebagai senar senar pengikat 250 juta. Material yang mengikat dan dibantu oleh loyalitas terbayang, di mana pembayangan tersebut dibantu melalui jalan doktrinasi memindahkan kekuasaan suci para raja, kepada kekuatan aparat. Ditambah pembayangan rasa takut apabila negara runtuh, maka terjadi kiamat, kesengsaraan, situasi chaotik. tanpa akhir. 

Sehingga pada akhirnya munculah para kreol, para nasionalis yang menyimpan akar budaya mereka di laci. Dengan lantang mereka berseru, kami bukan sunda tapi Indonesia, kami bukan batak, bukan ambon, bukan dayak, bukan islam, kristen, hindu, tapi Indonesia! Bahkan kita bersedia mati melawan siapapun yang menghina komunitas imajinasi kita.

Ben telah memberikan kita banyak. Pemikirannya menginspirasi para ahli, yang sebagian besarnya sepakat unyuk melanjutkan Indonesia. Walau nasionalis itu hanya permainan imajinasi, walau kita tahu bahwa Indonesia bukan negara yang diset untuk ribuan tahun, bisa lebih pendek usianya, bisa lebih. Bergantung dari bagaimana kualitas imajinasi komunitasnya pada negara. 

Bayangkanlah negaramu, bayangkanlah orang orang yang membayangkan seperti apa yang dirimu yang membayangkan ikatan suci kenegaraan. Apakah mencium merah putih masih relevan? Apakah menyimpan foto dua kepala negara di ruang kerja masih relevan? Apakah memerangi pemikiran para separatis transnasionalis seperti Hizbut Tahrir, Ikhwanul Muslimin, atau separatis lokal seperti OPM di Papua, RMS di Ambon masih relevan? Bukankah mereka membayangkan imajinasi negara yang menjadi hak dasar merdekanya manusia untuk memilih komunitasnya?

Bukankah komunitas nasionalisme bernama Indonesia ini harus bersaing secara fair dengan komunitas nasionalisme seperti HTI, Ikhwanul Muslimin, OPM, RMS, GAM dan seterusnya. Komunitas imajiner alternatif tersebut, yang hidup setapak tanah dengan tanah dan batas peta yang kita namai Indonesia, berupaya menggugat imajinasi kita. Menggugat tata laksana imajinasi kita yang sering meleset.

Demokrasi yang liberal dan mahal, politisi yang didominasi oleh pasien rumah sakit moral, tentara yang ikut berdagang, guru guru yang dimiskinkan, buruh buruh yang berada di ruang etalase budaya massa, kelas menengah yang menyumbang defisit, kelas kaya yang melarikan pajak, petani petani tanpa hak tanah, imajinasi kita tentang Indonesia tengah rusak.

Imajinasi kita bisakah mampu mematahkan argumentasi para demagog OPM, para demagog khilafah Islam, para demagog Republik Kristen? Apabila justru kesengsaraan yang tengah dituai dari berimajinasi tentang Indonesia?

Stop Oom Ben.. hentikan...
Selamat jalan Oom Ben.. kami akan merindukanmu.***Red