SKK Migas: Rakyat Masih Beranggapan Kita Punya Banyak Minyak

SKK Migas: Rakyat Masih Beranggapan Kita Punya Banyak Minyak

Setelah menjadi produsen minyak mentah terbesar di Asia Tenggara, Indonesia menarik diri dari Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada tahun 2008 akibat penurunan output yang mengubah dari eksportir minyak menjadi net importer.

 

Sekarang, negeri di khatulistiwa ini tampaknya akan menghidupkan kembali cadangan minyak mentah yang sempat menurun, yang jumlahnya sekitaran 3,6 miliar barel dan sebagian besar pasokan minyak dan gas sebesar itupun sudah hampir habis sebagai buah peningkatan konsumsi dalam negeri yang tidak bisa cukup diatasi dengan produksi lokal.

 

"Sebagian besar pasokan minyak dan gas kita hampir habis tapi kita malah bertindak seolah kita ini masih memiliki banyak sumber daya minyak dan gas," ujar Gde Pradnyana, sekretaris SKK Migas sebagaimana dikutip dari laman Antara (08/02).

 

Dikarenakan volume cadangan minyak dan gas Indonesia sangat terbatas, Gde menekankan perlunya kampanye untuk eksplorasi intensif untuk meningkatkan cadangan yang ada.

 

Menurutnya, kegiatan eksplorasi di negara ini menghadapi tiga kendala utama, yaitu perizinan, perpajakan, dan hukum.

 

Berkaitan dengan kepastian birokrasi, Gde menunjukkan. "Fiskal masih tidak jelas, sementara perizinan terbentur masalah birokrasi, dan dengan demikian investor diminta untuk sanggup melewati sekitar 281 jenis perizinan sebelum memulai untuk berinvestasi di Indonesia " keluhnya.

 

Baru-baru ini dilaporkan bahwa perusahaan minyak besar Italia Eni berencana untuk meningkatkan investasi di Indonesia. Eni telah menginvestasikan sekitar $ 400 juta di Indonesia sejak tahun 2001 dan telah mengembangkan 13 blok nasional, dan perusahaan ini menjanjikan untuk lebih banyak blok eksploitasi.

 

Produksi minyak Indonesia mencapai puncaknya pada tahun 1976 dan telah berfluktuasi selama dua dekade, mulai menurun pada tahun 1995 karena penuaan ladang dan kurangnya investasi. Lalu menjadi net oil importir pada tahun 2005.

 

Apakah negara ini akan mampu membalikkan nasib minyak dan gas kembali? hanya waktu yang akan memberitahu tapi kemudian Indonesia menjadi pelajaran bagi negara-negara penghasil minyak bahwa sumber daya hidrokarbon itu ada batasnya.***Fey