Sepi Antrian, Era Blackberry Sudah Habis!

Sepi Antrian, Era Blackberry Sudah Habis!

Hanya beberapa lusin orang Indonesia yang bersedia antri pada hari Jumat (16/05) untuk membeli handset andalan baru dari BlackBerry, dalam launching perdananya. Tidak ayal  kisah suram ini lauching ini memudarkan nasib pembuat smartphone asal Kanada ini di tengah ketidakpastian tren di Indonesia.

Padahal Blackberry Z3 - dengan kode Jakarta telah diluncurkan untuk menjadi salah satu benteng terakhir Blackberry - dan merupakan bagian dari tes kunci tentang kemampuan perusahaan Kanada yang tengah sakit ini bisa mendapatkan kembali seonggok kekuasaan mereka yang hilang di pasar negara berkembang terebsar di Asia Tengagra ini dan mengalahkan Apple iPhone berserta pesaing lain yang menggunakan sistem operasi Google Android.

Akan halnya pada Jumat kemarin hanya sekitar 50 orang antri di depan acara lauching ponsel tersebut.

Dan  ini tentu saja sangat kontras dengan kerumunan besar dari kaum muda Indonesia  berbondong-bondong bersedia mengantri, serta berebutan sampai ada yang pingsan ke acara peluncuran sebelumnya pada BlackBerry di Indonesia edisi Bellagio, menggarisbawahi bagaimana popularitas pembuat smartphone ini telah menurun bahkan di negara dianggap sebagai salah satu benteng terakhir.

Namun demikian masih ada beberapa penggemar hardcore yang datang acara itu bersemangat mendapatkan ponsel layar sentuh baru "Z3 , Jakarta Edition" .

"Saya memiliki harapan tinggi untuk Z3 dengan semua fitur baru - layar besar, kamera dansistem operasi terbaru," kata Nisma Mediyanti 32 tahun umurnya dan lepas lima tahun lalu sejak Blackberry booming pada 2009, usianya baru 27 tahun.

"Mudah-mudahan lebih baikdaripada, iPhone." harapnya.

BlackBerry berharap ribuan perangkat ini akan bisa dijual pada acara tersebut selama tiga hari ke depan, di mana ponsel yang ditawarkan dengan seharga diberi diskon sebesar 400.000 rupiah dari harga aslinya yang 2.199.000 rupiah.

Bagi banyak orang di Indonesia  BlackBerry adalah masa lalu yang tidak begitu indah indah amat. Karena walau menjadi pelopor dari chating ke sesama perangkat dengan ciri khas Blackberry Messenger, masyarakat Indonesia tidak mudah ditaklukan oleh sekedar fitur yang itu itu saja, dan selalu tertarik mencoba inovasi terbaru berdasarkan booming dan viral di media sosial.

Apalagi boleh jadi antrian besar besaran saat peluncuran Blackberry Bold kode Bellagio pada 2011 lalu yang sempat bikin ricuh, adalah juga dipenuhi oleh para orang tua yang ingin memanjakan anaknya. Dan atau anak muda gaul yang kini sudah menjelang usia dewasa.

"Saya lebih memilih telepon yang berfungsi seperti komputer mini, dan saya tidak melihat BlackBerry bisa seperti itu," ujar Charlie Tanara 28 tahun, yang sedang berbelanja di mal, tapi tidak punya minat melihat lihat BlackBerry baru, dan orang seperti Charlie ini berharap hal yang compact seperti Pad.

"Saya menggunakan Samsung dan saya suka mereka karena mereka memiliki banyak pilihan aplikasi, banyak yang gratis." tambahnya lagi mengingatkan kembali bahwa rumus gratis masih nomer satu di negara ini.

Chief executive John Chen meluncurkan BlackBerry Z3 ini kali pertama sejak ia mengambil alih kepemimpinan perusahaan dan langsung bermitra dengan raksasa teknologi Foxconn.

Indonesia adalah testbed untuk ujicoba Z3. Setelah Indonesia, BlackBerry berencana untuk melepaskannya di negara-negara Asia lainnya, termasuk Vietnam dan Filipina.

Menjelang peluncuran, pengecer menunjuk pre-order online yang bagus, sejak 28 April. Tapi hutan belantara minat di Indonesia utamanya pada ponsel lebih menuntut hal hal yang lebih baik dan tidak monoton. Di tambah fakta miris bahwa andalan Blackberry yakni BBM sudah bisa diintegrasikan dengan android. RIP Blackberry? Belum tentu? Ya kita lihat saja nanti.***Fey