Selain Upah Murah, Inilah yang Membuat Investor Jepang Menomorsatukan RI

Selain Upah Murah, Inilah yang Membuat Investor Jepang Menomorsatukan RI

Kenichi Tomiyoshi presiden direktur Japan External Trade Organization (Jetro), memberi gambaran bahwa Indonesia menarik di mata investor Jepang, karena SDM nya yang murah meriah.

 

Malaysia ambil contoh menetapkan tingkat upah minimum pada tahun 2013 sebesar 900 ringgit ($ 274) per bulan untuk pekerja di di kawasan industri. Di Jakarta, UMR nya 2,44 juta rupiah ($ 211) per bulan pada tahun ini, naik dari 2,2 juta rupiah pada tahun 2013. Maka tak mengherankan apabila Perusahaan-perusahaan Jepang akan memilih Indonesia menjadi pasar sekaligus basis produksi.

 

Bahkan menurut deputi Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo di Jakarta sebagaimana dilansir dari Bangkok Post (04/02), menjelaskan bahwa beberapa perusahaan industri otomotif dan kain di Thailand berencana merelokasi usahanya ke Indonesia demi meningkatkan produksi mereka,  namun Perry menolak menyebut nama perusahaan tersebut.

 

Berdasarkan paparan dari Mahendra Siregar, ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Investasi asing langsung di Indonesia naik 22 % pada 2013 dari tahun sebelumnya menjadi sebesar Rp 270.4 triliun, dengan Jepang sebagai investor terbesar sekitar $ 4,7 miliar atau 16,5 % share dibandingkan dengan Singapura 16,3 %.

 

Total investasi dari sumber-sumber domestik dan luar negeri pada 2014 bisa tumbuh 15 % menjadi sekitar 456 trilyun rupiah, setelah naik 27 % tahun lalu.

 

Pemerintah pada bulan Desember mengumumkan aturan baru yang mengurangi beberapa pembatasan kepemilikan asing, termasuk memungkinkan asing memiliki 100 persen dari pembangkit listrik yang dibangun di bawah kemitraan publik-swasta.

 

Indonesia juga mengharapkan adanya suntikan investasi Jepang $ 3,5 miliar pada pertengahan 2015 melanjutkan ekspansi oleh perusahaan yang sudah ada, termasuk dari Toshiba Corp, dan dari sektor pertambangan, otomotif dan industri elektronik.

   

Cina Merosot Indonesia Terdepan

 

Adapun China merosot ke posisi keempat dalam peringkat survey Japan Bank for International Cooperation (JBIC) pada 2013 untuk tujuan investasi paling menjanjikan bagi produsen Jepang selama tiga tahun ke depan, dan menyerahkan posisi teratas ke Indonesia.

 

Survei tersebut dilakukan pada 625 perusahaan dari bulan Juli sampai September. Malaysia merosot ke posisi 12 dari 11 pada tahun 2012.

 

Jetro menurut Tomiyoshi mengharapkan lebih dari 100 perusahaan Jepang kecil dan menengah bisa berinvestasi di Indonesia tahun ini, bergabung dengan sekitar 1.000 perusahaan yang sudah beroperasi di Indonesia. Sekarang sudah ada sekitar 60 perusahaan berkantor di Batam dan satu perusahaan di Medan.

 

"Bagi perusahaan yang berorientasi ekspor, Jetro merekomendasikan investasi di Batam, karena tingkat upahnya terendah di Indonesia." Jelas Tomiyoshi. "Perusahaan-perusahaan Jepang di Thailand barangkali tidak akan segera pindah, tapi pendatang baru akan takut untuk datang ke Thailand setelah mereka menonton berita (prahara politik Thailand), sehingga mereka akan melihat Indonesia, Vietnam, dan Filipina," tambahnya.***Fey