Schott Jerman akan Tingkatkan Keberadaan di Sektor Farmasi Indonesia

Schott Jerman akan Tingkatkan Keberadaan di Sektor Farmasi Indonesia

Schott, produsen kaca dari Jerman, diatur untuk meningkatkan kehadirannya di Indonesia untuk memacu negara dalam industri farmasi.

 

"Karena naiknya permintaan negara dan persyaratan dari Badan Pengawas Obat dan Makanan, peluncuran produk ini bertujuan untuk membantu perusahaan-perusahaan farmasi untuk meningkatkan operasi mereka," Gunawan Setokusumo, direktur penjualan regional Schott untuk kawasan Asia - Pasifik, mengatakan di Jakarta, Rabu (21/05).

 

Menurut Gunawan, botol yang siap digunakan, secara resmi disebut sebagai ADAPTiQ, akan meningkatkan efisiensi operasional perusahaan farmasi.

Secara tradisional, produsen seperti Schott menyediakan kemasan kaca untuk perusahaan farmasi, yang kemudian akan bersih dan mensterilkan botol sebelum mengisi mereka.

 

Dengan ADAPTiQ, proses sterilisasi dapat dihapus dari perusahaan farmasi dan diambil alih oleh Schott selama proses manufaktur.

 

"Kita bisa melakukan sterilisasi, sehingga perusahaan farmasi hanya perlu mengisinya dengan produk mereka," kata Gunawan, menambahkan bahwa produk tersebut akan memungkinkan perusahaan untuk memotong biaya keseluruhan pada mesin cuci air, yang mahal untuk diperoleh dan dipertahankan.

 

Selain ADAPTiQ, Schott juga meluncurkan delaminasi kontrol botol, produk baru yang dikembangkan untuk meminimalkan risiko serpihan kaca mengelupas dari permukaan dalam wadah farmasi.

 

Berbasis di Jerman, Schott memproduksi kaca untuk berbagai penggunaan, termasuk peralatan rumah tangga, elektronik, dan farmasi.

 

Schott, yang memiliki 15 pabrik di seluruh dunia, saat ini sedang memperluas fasilitas di Bekasi, Jawa Barat, dengan rencana untuk meningkatkan kapasitas produksi di pabrik sekitar 20 persen, menurut Gunawan.

 

"Ekspansi harus diselesaikan pada akhir bulan ini," tambahnya.

 

Pembagian Indonesia dari Schott terutama memproduksi botol kecil yang disegel disebut ampul, kata Gunawan. Saat ini, sekitar 50 persen hingga 60 persen dari penjualan perusahaan lokal dan 40 persen hingga 50 persen adalah ekspor, terutama ke negara-negara di Asia, seperti Korea Selatan dan Jepang. ***int (Sumber: The Jakarta Post)