SBY Bidik Pembakar Hutan dan Berikan Solusi "Lonca"

SBY Bidik Pembakar Hutan dan Berikan Solusi "Lonca"

Masyarakat pertanian di Indonesia mestinya jauh lebih sadar akan bahaya dari teknik buka lahan yang asal potong dan-bakar, dan mereka harus mengadopsi cara-cara yang lebih berkelanjutan untuk mengelola suatu lahan pertanian. Begitulah simpul Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam kesempatan Forrest Asia Summit di Jakarta, Senin (05/05). Acara yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Kehutanan Internasional berkerjamsama dengan Departemen Kehutanan Indonesia.

 

Acara tersebut juga dihadiri oleh 2.000 peserta termasuk para menteri dari seluruh Asia Tenggara, chief executive officer, pemimpin masyarakat sipil, ahli pembangunan dan ilmuwan top dunia.

Menteri Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Air (MEWR) Singapura, Dr Vivian Balakrishnan, juga hadir pada acara dua hari tersebut karena negaranya ikut menderita kabut asap dari pembakaran hutan.

"Ada kisah sukses dalam mengadopsi kebijakan pro lingkungan juga dapat dilihat di desa Lonca, Sulawesi Tengah," kata Presiden Yudhoyono dalam sambutannya. "Selama beberapa generasi, desa Lonca mempraktikan pembukaan lahan tebas dengan jalan dibakar. Untuk beberapa dekade, ini adalah satu-satunya metode yang mereka tahu. Praktik ini berhenti setelah pengenalan program berbasis masyarakat untuk mengelola hutan dan daerah aliran sungai."

Yudhoyono mengatakan bahwa salah satu kebijakan hijau pemerintahannya adalah mengurangi emisi gas rumah kaca.

Sebagai bagian dari inisiatif ini pada tahun 2011 diperkenalkan moratorium pemanfaatan ijin konversi untuk melindungi lebih dari 63 juta hektar hutan primer dan lahan gambut.

"
Saya berharap pengganti saya dapat memperpanjang moratorium ini," ujar SBY, mengacu pada tahun ini merupakan akhir masa jabatannya.

Kebakaran yang terjadi digambarkan sebagai "bencana buatan manusia". Dan mengganggu kehidupan dan merusak kesehatan manusia tanpa kenal orang desa atau orang kota.

"Kabut melumpuhkan transportasi dan komunikasi yang penting untuk kehidupan sehari-hari. Dan menghalangi anak anak pergi ke sekolah," tambah SBY.

Oleh karena itulah segala tindakan pembakaran lahan dan hutan, penebangan ilegal, dan pertanian di perkebunan ilegal baik oleh individu atau perusahaan tidak akan ditoleransi atau dibiarkan tanpa hukuman.***Fey (sumber The Online Citizen)