Saat Jokowi Membuat PKS Bertekuk Lutut, Mengaku Kalah dan Salah

Saat Jokowi Membuat PKS Bertekuk Lutut, Mengaku Kalah dan Salah

"Seorang Insinyur yang berbudi pekerti, lebih bermanfaat dibanding 100 Pendeta."
                                                                                 Thomas Paine, The Age of Reason



Ini kisah lama, yang sejatinya merupakan suatu pertaruhan besar. Siapa yang bertaruh? Adalah gerakan Islam. Apa yang dipertaruhkan? Indonesia. Di mata para aktivis Islam, Indonesia yang sekarang ini sama sekali tidak benar. Indonesia sekarang ini, adalah Indonesia yang salah. Salah segalanya!
Aktivis Islam (di antaranya adalah penulis setidaknya di masa lalu), selalu menyadari bahwa ketika kekhalifahan Islam menjadi utopia bersama, maka masyarakat Islami, masyarakat yang dijaga oleh UU syariah adalah tujuan yang paling masuk akal untuk di perjuangkan. Bagi kami para jundi (prajurit), para sabilillah (pejuang di jalan Allah), Indonesia saat ini bukanlah Indonesia yang kita cita-citakan sejak era kemerdekaan 1945.

Indonesia yang kami yakini, dibajak oleh Soekarno menjadi negara sekuler dengan Pancasila sebagai dalihnya. Indonesia yang sebenarnya adalah Indonesia dalam rumusan PPKI yang mencantumkan butir pertama Pancasila "Ketuhanan dengan Menjalankan Syariat Agama Islam Bagi Pemeluknya." Tapi saat itu tidak ada yang mampu menandingi ketokohan Soekarno. Tidak ada satu tokoh Islam kaafah yang dipercaya rakyat melebihi Soekarno. Walau klaim klaim sepihak internal pergerakan Islam selalu menyebut nama Kasman Singodimedjo, Muhammad Natsir, sebagai tokoh yang lebih hebat dari Soekarno.

Namun Soekarno lebih popular, lebih tercitrakan, sehingga Indonesia adalah perwujudan dari Soekarno. Para pendahulu kami dahulu tidak mampu melawannya. Pendahulu kami takluk oleh kehebatan orasi Soekarno yang menyihir puluhan juta warga Indonesia. Sehingga akhirnya kata kata "Syariah" itu berubah menjadi "Ketuhanan Maha Esa" saja. Tidak ada satu tokoh Islam pun saat itu yang bisa mencegah dan melabrak keputusan Soekarno dan Hatta.

Kalah di meja tiktak politik, pendahulu kami mencoba peruntungan lain di meja taktik militer. Namun, sekali lagi, ketika angkatan perang pembela Republik dibentuk, Badan Keamanan Rakyat (BKR) dan lalu Tentara Keamanan Rakyat (TKR), lebih disukai para pemuda dibandingkan bergabung dengan Laskar Sabillah, atau laskar laskar Islam lainnya. Rakyat pun lebih memilih dan mendukung Tentara Nasonal Indonesia (TNI), dibandingkan Tentara Islam Indonesia (TII) saat terjadi schisma (dalam bahasa Buku Sejarah : pemberontakan), antara Darul Islam dengan Republik Indonesia di awal 50-an. 

Sehingga akhirnya mesti diakui bahwa di meja perang kata-kata, dan meja perang nyalak senjata, gerakan Islam kalah oleh Republiknya Soekarno. Indonesia lalu menjadi penjara ideologis bagi para pendahulu kami, dan perasaan terpenjara itu diwariskan secara doktrinal kepada generasi penerus, hingga ke abad 21.

Walau demikian, dalam kondisi terpenjara itu, ada doktrin untuk tidak dan tidak akan pernah menerima kekalahan dari Soekarno dan keturunannya, entah keturunan biologis (Megawati dst), atau keturunan ideologis (Joko Widodo dst). Ada doktrin untuk selalu mencoba dan mencoba mengulang setiap kesempatan untuk kembali setara bahkan unggul entah di meja tiktak politik, atau meja taktik militer dengan Indonesianya Soekarno.

Anehnya kami selalu kalah. Walau bahkan taktik "kasar" dalam bentuk "cheat" dilakukan. Misalkan merekrut para jundi baru, para prajurit Islam politis dan ideologis, sejak mereka di Taman Kanak Kanak, dengan membuat sebanyak mungkin sekolah berlabelkan Islam, di mana di dalamnya di ajarkan ideologis Islam politik. Tidak berhenti disitu, sekolah umum pun dimasuki para ideologis Islam dengan melalui jalan Rohis. Segala bantuan keuangan dan dana kampus sekolah umum dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk pengkaderan para jundi.

Segalanya tampak mudah. Segalanya tampak hendak panen besar saat pemilu 2014, di mana para jundi yang dibibit sejak sekolah pastilah sudah sangat besar jumlahnya, terhitung dari munculnya Partai Keadilan (PK), yang mempersatukan para aktivis ideologis Islam di tahun 1999 dan lalu menjadi Partai Keadilan Sejahtera  hingga saat ini. Sehingga target 2014 pun dipasang, TIGA BESAR PEMILU. Artinya partai mesti mendapatkan dukungan setidaknya dua digit pemilih, yang artinya juga modal besar untuk kembali berinvestasi di bidang pendidikan untuk mendidik para jundi lebih besar lagi. 

Kenyataannya segala perhitungan kembali salah.  Kenapa? Kenapa? Kenapa!!?

Kenapa Mereka Memilih Jokowi? Bukan Aher Misalnya?
Ada apa dengan Indonesia? Pikir kami, tidakkah mereka mestinya memilih Islam, memilih orang orang yang Islami sebagai wakil mereka di parlemen? Padahal mereka orang Islam? Mengapa ini selalu terulang? Saya tidak akan pernah menyadari mengapa ada yang salah, atau mampu menjawab segala anomali Indonesia itu, setidaknya ketika saya masih berada dalam gerakan Islam.

Lalu saya keluar dari gerakan ideologis tersebut,  melihat dari titik terjauh darinya, melihat dari garis tepian yang tidak pernah mampu dilewati oleh kami saat kami berada di dalam gerakan Islam. Karena gerakan Islam bagaimanapun selalu dibatasi oleh pemikiran pribadi tentang Islam itu sendiri. Segalanya adalah keterbatasan. Segalanya sudah ada di dalam cetakan. Mustahil kami mengambil sesuatu yang di luar protokol dan manual yang telah diciptakan oleh para pemikir ideologis Islam. Entah itu Hassan Al Banna dari Mesir, Muhammad Natsir dan Anwar Harjono dari Indonesia, atau Taqiyuddin Nabhani dari Palestina. 

Karena bergerak di dalam teritorial yang ironisnya menurut kami waktu itu "luas" seluas Islam itu sendiri. Bahkan tidak ada yang melampaui betapa luasnya ideologi kami dibanding ideologi sekuler. Ketika saya berada diluar, pernyataan luas itu adalah salah kaprah.

Fakta yang saya lihat, kenyataan yang diperoleh ruang dalam gerakan Islam cenderung menyempit, karena satu alasan :tidak ada rasa hormat pada pencapaian pihak luar. Dengan menolak kesuksesan orang, Anda menjadi sempit, kerdil.

Rakyat Indonesia di era modern itu sederhana. Mereka penuh respek, merindukan kehormatan dan harga diri. Menyayangi segala bentuk keberhasilan dan pencapaian riil. Rakyat Indonesia dari sifatnya yang gotong royong, lebih memilih lapar jika itu bisa memenangkan para pahlawannya dalam menggapai hal hal prestise. Indonesia dalam suatu penelitian beberapa tahun lalu, ada di posisi pertama dalam hal berderma. Segala koin dan dukungan keuangan mudah dikumpulkan demi memenuhi rasa keadilan sosial. Siapapun yang memegang pemerintahannya.

Ini yang luput dari pengamatan para pejuang dan aktivis ideologis Islam. Perang mereka masih di masa lalu. Tema-temanya masih klasik, sekuler vs Islam, Syiah vs Islam, kapitalisme vs Islam, komunis vs Islam, dst. Sifat-sifat mencurigai pihak sekuler pun masih berasa di era 45. Mereka tidak kenal dengan rakyat sendiri. Mereka merasa asal rakyat kasih liat Baksos, jilbab panjang para Umahat (wanita partai), dan beberapa dalil agama demi proksimitas dengan rasa keIslaman yang dianut mayoritas rakyat, semuanya kelar! Tidak demikian kenyataannya.

Tidaklah mengherankan, apabila dari rakyat lalu dimunculkan anak ideologis Soekarno bernama Joko "Jokowi" Widodo, yang merebut panggung. Maka aktivis Islam se Indonesia kejang-kejang. Panggung yang tadinya mau dimenangkan, malah jadi panggung suram.

Padahal dalam hitung-hitungan pemilu, tidak ada tokoh sekuler yang bisa dijual awet. Mereka tokoh tua, yang pada 2019 pensiun semuanya. Entah Prabowo, Megawati, Jusuf Kalla, Surya Paloh, Wiranto, dan beberapa nama senior sudah masuk rumah jompo. Sementara dari aktivis Islam, mereka bisa menjual Ahmad Heryawan, Gubernur Jawa Barat. Gatot Pudjo Nugroho Gubernur Sumatera Utara, atau Anis Matta yang dijuluki internal sebagai Soekarno kecil karena jago ngomong. Kesemuanya masih muda, siap dipoles dan di jual mahal. Lah kok malah muncul Jokowi, dan Ahok pula. Memusingkan.

Soekarno tereinkarnasi secara engga banget. Muncul justru bukan dari kalangan elite Jakarta. Melainkan kota kecil penuh aura mistis jawa, di Surakarta! Jokowi ini sesempurnanya lawan bagi para aktivis Islam. Dia bukan elite, dia ideologis marhaenis, dia punya kharisma, nasionalis, dan yang paling gawat masih muda! Mengalahkan Jokowi adalah prestise lain, karena bisa diibaratkan bagai mengalahkan Soekarno di era lalu.

Saya pun sudah bisa menebak apa langkah aktivis Islam dalam mengalahkan Jokowi pada saat pilpres 2014. Taktik yang mencerminkan perasaan insecuritas, dan ketidakpercayaan diri di dalam diri mereka. Yakni diskreditkan Jokowi serendah-rendahnya. Permalukan, bongkar mitosnya. Jadikan Jokowi adalah sosok palsu yang penuh polesan. Buat rakyat percaya bahwa mereka tengah ditipu. Alih alih menyajikan lawan sepadan, yang mampu mengungguli Jokowi secara prestasi. Disitulah kekalahan moral sudah terasa.

Kenapa tidak percaya diri memasang Aher? Padahal Aher konon berprestasi, dan bahkan hafidz Quran? Gubernur dengan ratusan penghargaan dari pemerintah pusat. Gubernur dari provinsi yang mendempet Jakarta. Kok tidak berani maju melawan si cungkring ceking dari kota kecil di Jawa Tengah? Apa yang menghalangi partai andalan para aktivis Islam untuk memasang Aher, dan setidaknya Gatot? Atau Anis Matta? Mengapa minder berhadapan dengan Jokowi?

Bahkan ketika ujung pangkalnya malah mengusung Prabowo dan Hatta Rajasa, sudah diperlihatkan sejernih-jernihnya PKS mengaku kalah dari Jokowi. PKS melempar handuk untuk berhadapan dengannya, dan mengakui bahwa hitung-hitungan mereka jika menghadapi Jokowi sekali lagi, bagai mengulang kekalahan di Pemilihan Gubernur Jakarta beberapa tahun sebelumnya.

Mengaku kalah sudah, dan kini PKS juga mengaku salah. Saat Ketua DPP PKS, Sohibul Iman  dengan jajaran DPP nya (2112/2015) mengunjungi Presiden Joko Widodo. Dan lalu mengadakan pernyataan pers meminta pendukungnya untuk berhenti mendiskreditkan nama Jokowi. Sekali lagi, aktivis Islam kalah besar dalam pertarungan politik modern. Kelas mereka masih jauh dari Jokowi. Sangat jauh.

Namun, sebelum jauh jauh membahas tentang menang kalah pemimpin Islam vs sekuler. Bolehkah sejenak bertanya pada PKS sendiri, dan para wakilnya di parlemen? Di mata para aktivis Islam tujuan jangka pendek yang saat itu didengungkan kepada kami sebagai jundi adalah UU yang bernafaskan Islam, demi mencapai masyarakat Islami. Apakah tujuan tersebut sudah diperjuangkan? Sejak lahirnya Partai Keadilan pada 1999, yang artinya hampir 17 tahun lalu, bisa ditunjukkan mana UU bernafas Islam itu kepada ummat? Dan bagaimana hasil dan manfaatnya?

Atau ini sudah saatnya ada koreksi besar di kalangan aktivis Islam. Bahwa Indonesia sudah benar. Hanya Satu Indonesia, dan Ini bukan Indonesia yang salah. Indonesia sudah benar. Adapun justru aktivis Islam sangat malas untuk berjuang dan berprestasi di dalamnya. Sampai-sampai rakyat tidak kenal aktivis Islam, dan tidak bisa dipaksa mengakui keberadaanya.****

Ferren Bianca