Ryan Tumiwa, Kelas Menengah dan Hikikomori Gaya Indonesia

Ryan Tumiwa, Kelas Menengah dan Hikikomori Gaya Indonesia

Masih segar dalam ingatan ketika buku Daniel Goleman tentang Emosional Intelligence pertama kali keluar di negeri ini, maka tidak butuh waktu lama menjadi booming di dalam banyak diskusi baik yang ilmiah, atau warung kopi. Baik yang bisa mendatangakan uang, atau sekedar buang buang uang.

Goleman menyatakan adanya sisi intelegensi lain dari manusia yang luput dikembangkan secara rekayasa oleh para pendidik, dan bahkan orang tua di rumah. Yakni emosinya.

Bagaimana seseorang walau pintar juga mampu mengatasi kesulitan kesulitan mentalitas.

Pada saat itu, saya pun teringat cerita seorang kawan, yang memiliki anak yang putus sekolah karena murni bodoh. Anak kawan saya itu walau bodoh dan sulit menyerap pelajaran, namun dirinya aktif dalam pergaulan.

Aktif bergaul dengan drill komunikasi sepanjang waktu, membawa anak kawan saya itu menjadi seorang pegawai salesman mobil.

Tidak butu ijasah perguruan tinggi dengan gelar serba wah untuk menjadi sales. Cukup ikuti intruksi apa yang dijual, lalu mulai menjual.

Dan anak kawan saya itu berhasil melakukan itu, berhasil dalam bidangnya hingga menjadi manajer penjualan. Tidak tamat SMA, menjadi manajer yang handal dan diandalkan.

Kaya karena jual perkawanan dan omongan.

Jangan Lupa ini Abad Informasi
Contoh skill emosi membawa rezeki itu semakin ngetrend di abad informasi ini. Ya.. Abad informasi, abad di mana apa yang Anda tahu dari orang yang tepat akan membawa Anda pada benefit yang banyak.

Emosi juga menentukan bagaimana Anda mengatur finansial. Mengatur fiskal. Mengatur ekonomi rumah tangga, termasuk kewajiban normal sebagai manusia, yakni menjadi orang bermanfaat.

Dengan mengatur dan memahami apa yang Anda butuhkan dan bagaimana Anda mempertahankan kebutuhan itu dalam siklus yang berkembang (expanding) dan bukan menyusut (shrinking), maka Anda jelas bisa melihat perbedaan mendasar dari kualitas manusia di mata manusia lainnya.

Anda tidak bisa muncul dalam suatu kawanan untuk dikucilkan (shrinking) karena Anda mengecilkan mereka. Sebagaimana adanya kredo, orang pintar bukanlah orang yang menjadikan orang lain tampak bodoh, tapi ikut membuat orang lain ikut pintar. Maka dari itulah orang pintar dan cerdas akan berupaya mengembangkan dan meluaskan kepintarannya (expanding).

Di abad informasi ini benefit di dapatkan dari orang yang sangat informatif dan aktual, dan bukan sekedar tekstual atau teoretis mampu menjawab segala tantangan soal soal dari buku dalam teori teori determinitif (ajeg) bersifat lampau. 

Karena dalam mitos pergaulan urban orang yang informatif itu asyik, sementara orang yang tekstual itu berjarak. Sang gaul banyak main lebih disenangi dari sang kutu buku yang bersembunyi. 

Ryan Tumiwa adalah kasus yang sempat kita lupa bahwa otak bukan segalanya.

Fenomena Hikikomori
Di Jepang sejatinya ada fenomena Hikikomori, yakni mereka yang dengan sengaja menarik diri dari pergaulan sosial. Menutup rapat pintu kamarnya, dan mencegah orang lain masuk ke dalam dunianya, sebagai bagian dari pengucilan diri, dan egoisme tingkat akut.

Orang orang yang melakukan hikikomori ini, merasakan bahwa dunia memusuhi dirinya, dan dunia dipenuhi oleh skandal, kengerian, kemunafikan, teror, kejahatan, serta konspirasi tanpa henti.

Seorang psikolog bernama Tamaki Saito lah yang pertama kali menciptakan istilah ini. Dan diperkirakan ada lebih dari satu juta hikikomori di Jepang, atau sekitar 1% dari total penduduk Jepang, menjadi bagian dari budaya laten mereka.

Ryan mengingatkan kita akan hikikomori ini. Karena pada dasarnya seorang Hikikomori bukan orang yang pemalu. Mereka mampu berinteraksi dengan orang sekitar tanpa ada barrier dan jarak interpersonal karena dihantui perasaan sungkan atau malu akan dipermalukan.

Hikikomori adalah fenomena urban hermit, penyendiri karena marah, depresi, dan kalut karena dirinya tidak mampu menjawab segala ekspetasi yang ditanggungkan.

Ini terjadi di kala orang terdekat atau orang lain terlalu banyak memuji secara terburu buru.. "anak saya pintar, anak saya jagoan, anak saya mampu ini itu, dia hebat, dia bernas, dia jagoan.." dan seketika sang anak tidak mampu mempertahankan durasi kemampuannya, terlebih tidak bisa menjembatani apa yang dia capai sebagai suatu prestasi pribadi dengan harapan orang banyak di tengah masyarakat yang semakin materialistis.

Maka terjadilah defisit hancurnya kepercayaan diri sendiri untuk kembali mencapai cita citanya.

Di Jepang, para hikikomori yang mencapai tingkat depresi tinggi tidak perlu merepotkan sekian banyak orang untuk bunuh diri. Mereka melakukannya langsung dengan lompat dari gedung tinggi meninggalkan sepasang sepatu di atap, dekat dengan pijakan terakhir. Selalu sepasang sepatu yang bisu.

Sementara mereka yang mampu melewati masa depresi akan butuh waktu mengurung diri hingga berbulan bulan lamanya dalam kamar sampai dia kembali siap ke masyakarat, kembali bertarung, innocent starter.

Sarjana Fiskal tidak Memahami Inti Fiskal
Syahdan, apabila Ryan yang merupakan jebolan S2 Universitas Indonesia (UI) jurusan Administrasi Fiskal berhasil bunuh diri dengan segala egoisme ingin legalitas yang telah dikabulkan pemerintah. Kita akan mencatatkan lembaran lain, bertapa ilmu itu tidak sepenuhnya dipahami oleh pelajarnya.

Dia yang konon jenius, mencapai prestasi akademik tinggi, tidak mampu mengerti untuk apa buhul buhul ilmu itu dia pangku dan panggul ke mana mana? Ryan bermasalah dengan kepribadiannya, dan benar beberapa tokoh dari Hakim MK, sampai Wakil Gubernur Basuki Thajaja Purnama, memintanya untuk pergi mengaji entah ke pastur, pendeta, atau ke orang yang mau menampung curhat segala macamnya.

Terlebih bila dikaitkan dengan ilmu administrasi fiskal. "Lah bagaimana mau mengadministrasikan anggaran orang lain, apabila anggaran dirinya sendiri termasuk dalam anggaran harga diri tengah dalam kondisi defisit?" Tengah mencari asupan hutang bahu pada orang lain yang mau memberikan bahu dan mendengarkan semua rengekan.

Namun sekali lagi ini merupakan fenomena sosial umum, yang bahkan sudah dinamai di Jepang (hikikomori), dan yang membuat kisah Ryan menarik karena dia membawa norma norma hukum agar mendapat sertifikat legal bunuh diri saat tidak dapat kerja, atau tidak dapat kasih sayang orang lain.

Di abad di mana citra di bentuk media dengan hebat ini. Mudah mudahan kita bisa lupakan kasus Ryan dengan cepat. Orang ini masih ingin hidup lebih lama seperti orang orang lainnya. Walau saya juga tidak berani jamin, hehehe.****

Erwin Eka Kurniawan, SE, MSi - Ketua Umum Asosiasi Fiskal Indonesia