Rusal Rusia Ingin Indonesia Kalahkan China sebagai Pusat Alumina Asia

Rusal Rusia Ingin Indonesia Kalahkan China sebagai Pusat Alumina Asia

Raksasa aluminium United Company Rusal ingin menjadikan Indonesia sebagai pusat regional produksi alumina. Maka tak heran jika perusahaan asal Rusia itu memutuskan investasi pembangunan smelter di Kalimantan Barat yang menelan investasi hingga 3 miliar dolar.

 

Maxim Sokov, wakil CEO First En +, mengatakan akhir tahun adalah "waktu yang ideal" untuk berinvestasi di Indonesia mengingat harga aluminium global diperkirakan tak menentu pada tahun ini, sebagian berkat larangan UU Minerba pada ekspor bauksit.

 

"Kami berada dalam momen dalam siklus ketika ada sejumlah peristiwa yang saling menghimpun untuk membantu harga mulai naik ke atas lagi," kata Sokov dalam kunjungan ke Jakarta, sebagaimaa dikutip the Moskow Times, Jumat (28/02). Indonesia mencetak semua kotak dan menjadi platform terbaik untuk siklus pertumbuhan berikutnya," tambah Sokov yang juga bagian dari delegasi tingkat tinggi Rusia yang dipimpin wakil perdana menteri Russia.

 

Indonesia melarang semua ekspor bijih mineral yang belum diproses untuk memaksa penambang membangun smelter dan mengolah bahan baku di dalam negeri. Sebelum larangan tersebut, Indonesia menyediakan sekitar 60 persen bauksit pesaing Russia, yakni China.

 

Penarikan bauksit Indonesia dari pasar global telah mendapat dukungan luas di kalangan raksasa pertambangan global seperti Rusal, yang telah terpukul keras oleh harga aluminium murah.

 

Sokov mengatakan Rusal telah kehilangan posisinya sebagai produsen aluminium top dunia tersaingi oleh Aluminum Corp of China Ltd, atau Chalco, setelah perusahaan Rusia menutup setidaknya tiga smelter di bagian barat negara itu.

 

Rusal sekarang melihat Indonesia sebagai pengganti paling tepat kapasitas peleburan mereka yang hilang.

 

"Rencana kami adalah menutup semua smelter berbiaya tinggi di Russia, dan membangun basis berbiaya rendah. Indonesia adalah peluang baru," kata Sokov .

 

Rusal pada Selasa menandatangani MOU dengan PT Arbaya Energi untuk membangun smelter alumina di Kalimantan Barat, jantung industri bauksit Indonesia. Bauksit merupakan bahan utama dalam pembuatan alumina, yang kemudian diproses untuk menghasilkan aluminium.

 

Sokov, yang juga anggota dewan Rusia Norilsk Nickel, jauh lebih optimis kali ini karena adanya kombinasi dari pengurangan produksi, shutdowns smelter dan pertumbuhan yang stabil dari permintaan global.

 

Dia berharap harga aluminium naik kembali ke $ 2.500 per ton dalam tiga sampai empat tahun ke depan, sekitar waktu yang sama itu akan membuat smelter baru Indonesia yang bisa mulai beroperasi.

 

Untuk Indonesia, Sokov memperkirakan pasokan domestik membutuhkan sekitar 3 juta ton aluminium per tahun, dan akan naik sekitar 6 sampai 7 juta ton alumina jika industri kekaryaan dan kelas menengah beralih ke alumina.

 

"Jika Indonesia ingin mengkonversi rantai nilai produksi, ini momentum terbaik dan semua sudah tersedia di tangan. Jika kehilangan kesempatan ini, akan disayangkan sekali," tutup Sokov.***Fey