Rupiah Merangkak Naik, Tarif Pesawat Batal Naik?

Rupiah Merangkak Naik, Tarif Pesawat Batal Naik?

Fiskal.co.id, Jakarta – Dampak kenaikan nilai tukar rupiah terhadap dollar AS beberapa waktu terakhir membuat Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berfikir ulang tentang rencana kenaikan tarif pesawat.

 

Hal ini masih menjadi pembahasan pemerintah dengan melakukan kajian ulang akan perlu ditidaknya menaikkan tariff layanan transportasi udara. Kenaikan tariff pesawat sendiri selalu disesuaikan dengan kebijakan biaya tambahan bahan bakar atau yang disebut fuel surcharge.

 

"Kami bersyukur kalau rupiah menguat. Ya kita kaji lagi (surcharge) karena itu sudah diputuskan, tapi tarifkan belum," jelas Menteri Perhubungan, EE Mangindaan, Selasa (18/2/2014) lalu.

 

Pihaknya menyatakan, saat ini keputusan tentang pemberlakuan fuel surcharge belum bisa diambil. Pasalnya meskipun rupiah perlahan mulai menguat, namun secara umum hal tersebut masih belum menjamin perbaikan ekonomi yang signifikan dalam beberapa waktu ke depan.

 

Menhub menegaskan pihaknya tidak akan langsung membatalkan rencana keniakan tersebut. "Jangan dulu langsung batal (surcharge)," ungkapnya.

 

Kemenhub sebelumnya memang telah mensetujui adanya kenaikan tariff pesawat yang akan diberlakukan oleh maskapai tanah air.

 

Hal tersebut dilakukan sebagai upaya antisipasi terpuruknya kondisi maskapai jika biaya operasional tidak sebanding dengan pendapatannya. Hal ini tentunya diakibatkan oleh masih labilnya iklim ekonomi Indonesia beberapa waktu yang lalu.

 

Tariff yang sudah disetujui oleh Kemenhub yaitu sebesar Rp 50 ribu-Rp 60 ribu tergantung jenis pesawatnya.

 

Informasi terkini, rupiah masih merangkak naik 1,3% pada nilai Rp. 11.678 per dolar AS hingga Rabu (19/2/2014). Diprediksi tren positif ini masih akan bertahan hingga beberapa hari kedepan. [mjd]