Rupiah Adalah Senjata Ekonomi, Jangan Pandang Secara Dramatis

Rupiah Adalah Senjata Ekonomi, Jangan Pandang Secara Dramatis

Rupiah adalah keadaan dari rupiah itu sendiri saat ini. Yakni bising, bingung, dan lebih terlihat sebagai tragedi dramatis dibanding sebagai momentum atau peristiwa kecil ekonomi. Walau demikian, kita tidak bisa begitu saja menyalahkan yang bersikap dramatis dan memandang penurunan nilai rupiah terhadap dollar Amerika sebagai tragedi. Karena setiap warga Indonesia sudah pasti memiliki rupiah, kenal uang sepanjang hayat mereka, bahkan lebih intim dari para pasangan masing masing.

Sehingga tumbuh nilai melankolis romantis apabila manusia Indonesia berdekat dekat dengan rupiah. Anda lalu bicara pada mereka yang romantis dengan uang, "Imani Tuhan bukan uang," itu tidak cukup, karena haribaan Sang Tuhan, dalam bentuk rezeki bernama rupiah. Tanpanya Anda tidak bisa sedekah, tanpanya Anda tidak bisa menikah, tanpanya Anda tidak bisa naik haji dan beribadah dengan layak. Bahkan mengacu pada masalah nilai tukar, di rupiah serta foreign exchange, sudah mengatur-ngatur cara Anda dalam beribadah, mau paket ibadah macam apa? Untuk lebaran haji misalnya, beli sapi impor yang dibeli untuk membuat rupiah sedang terpuruk, atau beli sapi lokal yang makan ongkos lebih mahal karena begitu sulit transportasinya?

Seketika rupiah menjadi sakramen, yang disucikan, sulit dilecehkan walau Anda misalnya tidak sepakat Republik Indonesia ini berdiri di tempat Anda berlari. Walau Anda pemberontak, GPK, simpatisan ISIS, yang menolak keberadaan Republik, Anda tidak bisa menolak rupiah.

Dan lalu nilai rupiah jatuh drastis di depan mata Anda. Siapa yang bisa menyalahkan bila lantas Anda memandangnya sebagai suatu persitiwa dan tragedi yang dramatis, dan bukan hokus pokus mantra mantra sihir ekonomi. Bahkan para ekonom, pemerintah, pekerja keuangan, menjadi sasaran kambing hitam dari jatuhnya rupiah, teori teori dan ekonom ekonom versi box comment lalu muncul di pelbagai media online, media sosial, ada argumen yang inspiratif dan ada pula yang tidak pernah ke mana mana, kecuali cerita tentang sakit hatinya, curhat. 

Saya sendiri bukan pengamat ekonomi, namun praktisi fiskal dan mau tidak mau memandang tragedinya manusia Indonesia ini dari sudut pandang fiskal. Sementara pandangan umum ekonom tentang pelemahan rupiah terkonvergensi pada satu titik, yang intinya memang sudah semestinya jatuh, karena Indonesia selama ini mendapatkan keuntungan dari kebijakan Quantitative Easing The Fed, dan seperti halnya negara negara penghasil isi bumi mengalami sedapnya booming komoditas di tengah menguatnya pertumbuhan ekonomi di China. Lalu semuanya berbalik saat dollar dipanggil pulang sang pemilik pada 2013 yang bisa kita sebut tapering tahap awal. Efeknya serius, Indonesia masuk ke dalam fragile five, lima negara berkembang yang rapuh pelarian mata uang / modal.

Rupiah kena guncangan, tapi ekonimi Indonesia jauh dari cita rasa krisis, sehingga ekonom menganggapnya sebagai "bumpy road" jalan terjal yang sifatnya sementara. Mereka lebih khawatir pada defisit transaksi berjalan yang mendadak melebar, membuat Indonesia mendekati defisit fiskal karena harus membeli BBM subsidi yang nilainya ditekan penurunan rupiah. Sialnya 2013 adalah gerbang pemilu. Alih alih mencabut subsidi BBM yang memberatkan fiskal, pemerintah mengalah pada ambisi politik dan enggan melakukan reformasi fiskal dan moneter. Dan hasilnya pemerintahan baru hasil Pemilu 2014 belum mampu adaptasi pada jalan terjal yang tengah dijalani oleh rupiah.

Rupah 14000 perUSD = Krisis?

Namun, mata rakyat adalah mata mengenai krisis dan trauma. Walau ungkapan krisis sendiri memiliki definisi yang sulit dijinakkan.

Misalkan kita krisis saat segala jenis value yang ada merosot menjadi berkurang nilainya. Misal berkurang nilai rupiah, cadangan devisa, kemunduran pertumbuhan, lalu resesi.

Ada yang lain menilai, bahwa krisis terjadi pada saat tidak ada kejelasan situasi, chaos, pemimpin tidak tahu apa yang mesti dilakukan, rakyat menolak berpartisipasi pada program reformasi ekonomi, karena komunikasi atas dan bawah terhambat, membuat nasib mereka ditentukan oleh negara lain.

Krisis yang selanjutnya adalah, pemerintah mengerti salahnya di mana, ekonom tahu mesti berbuat apa, pelaku usaha dan pasar sadar apa yang sedang mereka hadapi, tapi mereka terpaksa merelakan nilai nilai positif untuk menyelamatkan golongan masing masing karena perbedaan garis politik. Pada krisis jenis ini, segala kesempatan untuk bisa tumbuh di tengah krisis diabaikan, karena sama sama tidak ingin saling membantu, merasa berada di zona nyaman masing masing, pada akhirnya sama sama terjebak pada pendapatan menengah (middle income trap).

Jadi nilai rupiah sempat menyentuh 14000 perUSD. Adakah Indonesia tengah krisis? Krisis yang macam apa? Resesi, kekurangan devisa, Bank Bank panik dilanda rush seperti 1997 lalu? Atau terjadi defisit yang memaksa Indonesia semeja dengan IMF sebagai negara pasien? Makro sejauh ini menyatakan Indonesia belum pantas disebut krisis, walau rupiah terlihat bagai zombie. Karena Anda kenal uang Anda sendiri, jangan jangan rupiah pura pura jadi zombie, ada yang memasangnya topeng zombie, jangan jangan yang memasang topeng Zombie itu kita sendiri -oleh karena itulah kita bahas dilain waktu bahwa segala apa yang Anda pikirkan krisis, Anda pula yang menanamnya.

Sejauh ini pemerintah sepakat bahwa tidak ada krisis di antara kita. Sebagaimana diungkap Menkeu (25/08) semua masih terkendali. Tidak perlu ada krisis center. Terlebih di mata penulis Indonesia telah memiliki crisis center berkaitan dengan segala jenis krisis yang akan hendak menghantam, di mana tanggungjawabnya ada pada Badan Kebijakan Fiskal Departemen Keuangan serta Otoritas Jasa Keuangan yang bertugas memberikan masukan dan kredensi serta hasil forecasting yang diperlukan untuk menjalani bumpy road dikarenakan pelemahan rupiah.

Hasilnya sebagaimana yang kita ketahui bersama adalah, tidak ada intervensi pemerintah lebih jauh pada dunia moneter, sebaliknya pemerintah tetap rajin mencari celah agar pertumbuhan ekonomi bisa ditingkatkan, dengan jalan mempercepat segala proses pembangunan infrastruktur. Pemerintah pun memberi jaminan -sejauh kita sendiri tidak menggeliat panik bahwa semuanya berada dalam kendali. Anda bisa menyebut mereka bohong, namun data tidak mungkin berbohong, bukankah baru baru ini sudah disiarkan ramai indikator kita tengah krisis sebagaimana pada 1997 tidak hadir?

Akan tetapi, Indonesia mestinya memiliki Crisis Center lainnya dalam bentuk pemilu. Loh mengapa dalam bentuk pemilu? Karena sebagaimana pengakuan dari Mantan Gubernur The Fed AS, Ben Bernecke. Segala otorisasi Federal Reserve dipengaruhi oleh keputusan politik, yang tidak populer dan dibenci pasar. Tapi itu adalah fakta.

Jauh jauh hari semestinya pendidikan politik kepada pemilih juga memberikan adanya pemahaman literasi fiskal serta pemahaman tentang tujuan dari APBN, sampai pada nasib rupiah, apakah hendak sengaja di turunkan, atau hendak mati matian dinaikkan nilainya, kepada para pemilih. Sehingga mereka mengerti pemimpin macam apa yang hendak mereka pilih, dan mampu memberikan semacam dukungan serta asuransi politik kepada mereka yang terpilih untuk melaksanakan resep reformasi ekonomi.

Rupiah naik dan turun adalah situasi ekonomi, cermin tabula rasa yang tidak bisa dipandang hitam dan putih. Keduanya baik naik atau turun, dengan strategi yang tepat bisa berujung pada keuntungan dan pola positif. Seperti halnya China yang memilih melemahkan mata uang demi membuat mereka profit, dan melakukan upper cut balik pada kebijakan menunggu nya The Fed. Kita semestinya juga bisa melakukannya. Bisa membuat rupiah sebagai senjata ekonomi.

Namun pertama-tama, cobalah memandang rupiah tidak dengan dramatis dan melankolis.****

Erwin Eka Kurniawan, SE, MSi - Ketua Umum Asosiasi Fiskal Indonesia