Rp 4.000, Angka Ini Ideal untuk Kenaikan BBM Menurut BPH Migas

Rp 4.000, Angka Ini Ideal untuk Kenaikan BBM Menurut BPH Migas

Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menyatakan bahwa kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi yang ideal adalah sebesar Rp 3.000 sampai Rp 4.000 per liter.


"Pokoknya kalau Rp 3.000-Rp 4.000 bagus banget itu harga. Itu pengalihannya segitu. Kita usulinnya sekitar segitu," kata Kepala BPH Migas Andy Noorsaman Sommeng, Senin (27/10).


Ia berpendapat bahwa kenaikan harga BBM bersubsidi dengan besaran tersebut akan mendekati situasi ideal. Dengan begitu bisa mengurangi penyalahgunaan BBM bersubsidi yang membuat konsumsi tidak melampaui kuota yang telah ditetapkan.


"Tidak bakal jebol. Kalau jebol juga, greedy (rakus) sekali orang malingnya. 46 juta kiloliter itu tepat sasaran," tuturnya.


Selain dengan mengamankan kuota, kenaikan harga BBM bersubsidi berarti ada subsidi yang dialihkan ke sektor lain yang bisa dinikmati oleh masyarakat secara langsung.


"Nggak ada kenaikan BBM, tetapi pengalihan subsidi. Pengalihan itu artinya ada sebagian subsidi yang tadinya mau diberikan ke BBM akhirnya untuk bangun infrastruktur di desa," jelasnya.


"Tinggal bagaimana mengelola distribusinya. Mudah-mudahan ada kebijakan baru. Kami berharap ada kebijakan baru. Apakah pengendalian baru ada peraturan menteri baru atau adanya yg lebih baru lagi," tambahnya.


Sementara itu, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Edy Hermantoro mengatakan bahwa pihak mereka diundang ke kantor Kementerian Koordinator Perekonomian untuk membahas masalah kenaikan harga BBM.


Dalam pertemuan itu akan dibahas teknis inflasi dan kenaikan harga BBM. "Tapi masih bahas teknis saja kalau BBM naik sekian inflasinya berapa," ujarnya (27/10). ***intan (Sumber: Liputan6 & Tempo)