Presiden Joko Widodo Butuh Sosok Habibie Baru!

Presiden Joko Widodo Butuh Sosok Habibie Baru!

Presiden Joko "Jokowi" Widodo dalam kesempatan pertemuan dengan Ikatan Sarjan Ekonomi Indonesia beberapa hari yang lalu (08/07), menyaratkan ekonomi Indonesia yang berkesinambungan dalam suatu pendekatan baru, yang artinya adalah transformasi besar besaran dari pakem menjual komoditas mentah dan merubahnya menjadi komoditas terolah.

"Ekonomi kita sedang mengalami transformasi mendasar. Ekonomi kita bergerak menjauh dari konsumsi ke produksi, dari konsumsi ke investasi," Jelas Jokowi . Seraya melanjutkan, bahwa era siklikal pertumbuhan, yang didasarkan pada melempar barang mentah asal Indonesia ke pasar asing yang tengah membangun tidak dapat diandalkan lagi. Indonesia mesti juga menjadi pemain dalam industrialisasi dan alih teknologi.

Presiden juga menyatakan pada kesempatan yang sama, bahwa semua ini mesti dilalui dalam perubahan yang akan menyulitkan posisi nyaman dan aman siapapun di Indonesia. Dalam hal ini adalah mereka yang selama ini menafsirkan bahwa kebenaran akan kemajuan itu adalah yang berlangsung dan telah berjalan dalam potensi, perhitungan, ceklist, dan tujuan tujuan pemerintahan sebelumnya.

Presiden meminta kita untuk bangkit, sementara sejatinya kita berada dalam kondisi ingin berlari. "Tunggu apa lagi?" Batin kita.

Artinya, alam nalar kita masih membenarkan untuk menyalahkan setiap langkah langkah berharap perubahan yang berlarut larut dari presiden. Karena sejauh ini pasar lebih dari sekedar menunggu, mereka ingin nyemplung dan basah basahan sekaligus. Tapi kolamnya belum terisi air, beberapa proyek yang dijanjikan di mulai oleh presiden tengah centang perenang.

Yang lebih mengejutkan, ada tampak perbedaan kecepatan kerja dari Presiden dengan menteri menterinya, yang bahkan menjadi sinyal awal akan ada perubahan beberapa pos penting di Kementerian.

Namun, di satu sisi kita pun sudah tidak takut bertransformasi walau hasilnya adalah kegagalan. Kita berharap tetap berada di belakang Presiden, dan berusaha keras memahami antara idealitas dan gagasan dirinya, dengan praktik praktik lapangan yang hasilnya bisa dihitungi dengan angka dan data. Di mana sejauh ini ada baiknya presiden berhenti berkeliling melihat Indonesia dari dekat, dan harus mulai mencatat dan menggaris merah birokrasi yang tidak efektif.

Rakyat Indonesia sudah sejak lama bertransformasi, tanpa uluran dan bantuan dari pemerintah. Saat peluang peluang transportasi massa bergerak dalam kecepatan tunak, ada di kalangan rakyat yang malah melakukan gebrakan hyperspeed dengan menciptakan fasilitas Go-jek.

Saat pemerintah mencoba mengangkat arus konsumsi lokal yang menurun, pengusaha muda tidak henti hentinya berinovasi dan mencari cara memangkas produksi dari ketergantungan pada bahan bahan impor.

Justru peluang peluang kreatif selama ini, yang membawa muatan konsumerisme negara didasarkan dari sifat generasi warga negara milenium yang tidak lagi takut akan perubahan. Tidak lagi takut bertransformasi.

Jokowi Yang Resah, Menteri Yang Gundah
Akan halnya kita bisa mengerti dan memahami posisi presiden yang sulit secara politik. Dirinya yang terengah engah di tengah himpitan klik kepentingan oldskool yang bebeda tujuan. Para politisi adalah politisi, dan dalam nalar politis purba bahwa kelemahan dari suatu pemerintahan adalah surga kesempatan yang baru.

Tidak ada satu politisi pun yang tidak girang dari kegagalan suatu pemerintahan. Termasuk mereka yang berada dalam pemerintahan sendiri. Watak dari politisi pada pemerintahan yang lemah, adalah jenjang baru, ruang ekspresi penuh energi bagai ikan dalam aquarium yang bertemu lautan luas. Sehingga rakyat Indonesia mesti sudah bisa mengukur bahwa kendala politik presiden tidak tercipta karena kebetulan belaka. 

Namun para politisi bukan berarti melakukan sabotase politik terang-terangan kepada Presiden, sebagaimana tindakan tidak terpuji tersebut akan mendapatkan perlawanan dari rakyat Indonesia. Para politisi tidak akan berani melakukannya. Mereka justru hendak menggoyang suatu pemerintahan melalui sifat dan kinerja pemerintahan tersebut.

Dalam arti kata lain, musuh pemerintahan Jokowi, bukanlah para politisi lawan atau kawan politiknya. Musuh dari pemerintahan Jokowi adalah Jokowi sendiri. Idealnya, Presiden yang kuat, tegas, dan berani melakukan tindakan garis tebal akan membuat lawan lawannya menjaga jarak lebih jauh lagi, untuk tidak "rusuh" pada suatu skema pemerintahan.

Jika suatu pemerintahan tersebut masih bisa diganggu, maka performanya memang bisa diganggu, masih menyisakan celah yang tidak perlu. Dari sini kiranya presiden bisa membentengi diri untuk menghindari celah celah yang membuat dia resah menjadi sasaran tembak politik, yang pada akhirnya terseret ke muka publik sebagai suatu bentuk "kegagalan birokrasi".

Kami pun melihat, bahwa ambisi presiden semestinya juga diimbangi pula dengan memilih sosok sosok yang mampu memenuhi ambisi tersebut. Atau minimal jangan terlalu memasang target ambisi yang muluk muluk. Walau demikian, kami yakin dan masih bisa mengerti angka angka target yang dikeluarkan oleh presiden sebagai angka yang sahih, dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun melalui koherensi potensi yang ada dan siap dimaksimalkan. 

Entah angka target pajak, angka pertumbuhan ekonomi, angka angka dwelling time, dan angka angka lain berkaitan dengan kemudahan berbisnis dan berinvestasi yang ada dalam pemikiran presiden.

Angka tersebut bukan masalah. Rakyat yang menontonnya, pun partikular tidak mempermasalahkan, sebagaimana kita sama sama mafhum, selepas pemilu kita bersiap akan segala kejutan kejutan dari pemerintahan. Permasalahannya pun presiden tampaknya sudah mengerti, bahwa dirinya mesti mengocok ulang kabinet, dan membawa penyegaran.

Jokowi Butuh Versi Habibie
Namun jangan sampai kabinet yang terbentuk wataknya lebih gloomy lebih muram dari yang sekarang. Presiden Jokowi setidaknya membutuhkan beberapa Mr/mrs. Smiley dalam kabinetnya. Sosok yang penuh gairah, penuh oktan tinggi, dan menggantikan tema presiden resah menteri gundah yang selama ini terlihat di mata rakyat. 

Karakteristik Menteri smiley, adalah yang bukan sekedar punya gagasan ideal. Tapi dirinya pun mesti aktif dan gempita dalam berita.  Harus menjadi pusat dan corong berita pada nada nada positif, sekecil apapun sisi positifnya. Inilah menteri berbentuk Public Relations gratis untuk sang presiden. Pengandaiannya, Jokowi mesti memiliki seorang Habibie sebagaimana presiden Soeharto memilikinya. 

Menteri Smiley, menteri dengan karakteristik PR ini, juga bukan menteri yang melulu serius di bidangnya. Bukan yang berwatak kelam penuh tema tema perjuangan dan perlawanan, good cop againts mob, sang baik melawan mafia yang memang penting, tapi sangat membuat urat tegang. 

Anda boleh merujuk Susi Pudjiastuti menteri yang populer, tapi beliau bukan Mrs Smiley, beliau adalah Good Cop yang memberikan kesan suspens, serta thriller yang menegangkan.

Mr/mrs Smiley adalah menteri yang relaks dan membawa kesan menyenangkan. Dirinya bukan termasuk menteri yang ingin menyisihkan diri karena berada di atas kebenaran, melainkan menteri yang ingin mengajak semua pihak bergabung, baik yang merasa benar, merasa sedikit benar, merasa kurang lebih benar, atau merasa dirinya salah tapi ingin menjadi benar. 

Menteri jenis ini tidak memiliki sekat, dendam lama, musuh politik, dan kepentingan rombak rombakan. Dirinya terus menerus ada di wilayah tone positif. Mampu mempertemukan bos nya dengan lawan lawan politik. Mampu menjadikan lawan kian jinak, mampu pula mengkonversi lawan menjadi sekutu hebat, sebagaimana apa yang dilakukan Habibie saat menggandeng Petisi 50. Mencairkan kebekuan politik Indonesia di era 80 an.

Namun, siapakah kiranya sosok smiley dalam belantara dunia persilatan politik Indonesia saat ini. Sosok berkaliber nasional, yang nyaman main pindah kursi seenaknya untuk ngobrol dari satu kubu ke kubu lain? Nah, siapa ya?****

Erwin Eka Kurniawan, SE, MSi - Ketua Umum Asosiasi Fiskal Indonesia