Pollycarpus, Intel Pembunuh Aktivis Munir itu Bebas

Pollycarpus, Intel Pembunuh Aktivis Munir itu Bebas

Pollycarpus Budihari Priyanto, itu nama lengkapnya. Jika melihat sosok yang banyak dikenal dengan nama depannya ini saja, akan banyak orang yang tak tahu bahwa ia berasal dari Jawa. "Pollycarpus itu nama pemberian orang Belanda," katanya. Nama lahirnya sendiri adalah Budihari Priyanto, dan ayahnya terkenal sebagai paranormal dan ahli pengobatan alternatif di Ungaran, Jawa Tengah.

Ia memperoleh nama baptis tersebut di Papua, dimana ia besar dan menjadi pilot untuk misi gereja sembari membawa makanan atau orang sakit.

Kemudian ia bergabung dengan Garuda Indonesia untuk menerbangkan Boeing 737, dan tak lama diberi kepercayaan untuk menjadi kapten pilot di Airbus 330.

Polly dipidana terlibat dalam kasus pembunuhan Munir, seorang aktivis HAM di zaman reformasi. Seorang saksi mata melihat bahwa Polly berbincang-bincang dengan Munir ketika keduanya berada di Bandar Udara Changi, Singapura, ketika pesawat yang mereka tumpangi sedang transit.

Saksi mata melihat bahwa mereka mengkonsumsi sesuatu. Dan inilah yang menjadi bukti keterlibatan Polly dalam kasus Munir. Pada 25 Januari 2008, ia divonis penjara 20 tahun karena terbukti membunuh Munir. Polly memasukkan racun ke dalam mie goreng yang dimakan Munir.


Pria kelahiran Surakarta, Jawa Tengah, 26 Januari 1961 ini, ditetapkan sebagai tersangka pada 19 Maret 2004. Pembunuhan menggunakan racun arsenik dengan jumlah dosis yang fatal. Munir mati dalam penerbangan menuju Amsterdam. Polisi memang menduga bahwa ia bukanlah tersangka utama tetapi hanya berperan sebagai eksekutor. Kursi di pesawat yang diduduki Munir adalah kursi untuk Pollycarpus. Hal ini memperkuat dugaan.

 

Kepolisian Belanda yang melakukan autopsi menemukan jejak senyawa arsenikum dalam tubuh Munir. Pollycarpus, Pilot garuda yang sedang cuti itu terbukti mendapat perintah untuk membunuh Munir. Putusan itu didapat setelah Pollycarpus menerima beberapa panggilan dari agen intelijen senior.


Kini Polly dapat menghirup udara bebas dan lepas dari bui per tanggal Pada 28 November 2014, Jumat lalu. Pasalnya, ia mendapatkan surat pembebasan bersyarat dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia setelah dipenjara 8 tahun di Lembaga Pemasyarakatan Sukamiskin, Bandung.

"Dia sudah dapat pembebasan bersyarat. Siang tadi sudah diantar ke kejaksaan dan Bapas (Balai Pemasyarakatan) Bandung," kata Kepala Keamanan Lapas Sukamiskin Bandung Heru Tri, di Bandung (28/11).

Sementara itu, Komisi untuk Orang Hilang dan Tindak Kekerasan (Kontras) mengecam pembebasan bersyarat ini.

"Kami menilai pemberian pembebasan bersyarat tersebut merupakan sinyal bahaya terhadap penuntasan kasus pembunuhan Munir dan perlindungan HAM dalam pemerintahan Presiden Joko Widodo," ujar Putri Kanesia, Kepala Divisi Hak Sipil Politik Kontras (30/11).

Kontras menuding bahwa hal ini adalah bentuk kurang berkomitmennya pemerintah untuk menyelesaikan kasus pelanggaran HAM. Hal itu tampak dalam Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM No. W11.PK.01.05.06-0028 Tahun 2014 Tanggal 13 November 2014 yang hanya melihat pembebasan itu dari aspek yuridis pemberian hak narapidana. ***intan (Sumber: Okezone & Tempo)