Polemik Bendera Tauhid, Waspada Suriahsasi Indonesia

Polemik Bendera Tauhid, Waspada Suriahsasi Indonesia

Suhu politik menjelang Pemilihan Presiden 2019 semakin memanas. Pertarungan demokrasi yang akan digelar tahun depan ini, juga di luar pakem yang ada, karena persaingan sengit dua kubu yang hendak bertarung dalam perhelatan pesta demokrasi tersebut sudah berjalan sejak 2014, dan saat ini tengah berada dalam puncaknya.

Suhu politik yang sudah panas, akhir-akhir ini semakin dipanaskan dengan munculnya video viral yang membakar kemarahan pada gelaran hari santri 22 Oktober lalu di Garut.

Video  viral tersebut memperlihatkan beberapa anak muda dari Barisan Serbaguna Nadhlatul Ulama (Banser NU) membakar bendera hitam bertuliskan lafadz tauhid. 

Di dunia para santri membakar lafadz itu sudah lazimnya dilakukan demi mencegah terkotorinya tulisan tauhid tersebut. Bagi santri, mereka tidak ingin tulisan tauhid terinjak-injak, lapuk dan kotor, sehingga perlu dihilangkan dengan cara membakarnya.

Namun, hal tersebut menjadi masalah bagi sebagian muslim yang belum pernah mengetahui "kebijaksanaan" yang didasarkan dari pendapat banyak ulama tersebut. Sehingga efeknya menimbulkan kemarahan total.

Yang membuatnya makin runyam, ada yang mengatakan bahwa banser membakar bendera tersebut karena tujuan politis, untuk menghilangkan bendera organisasi terlarang Hizbut Tahrir Indonesia (HTI).

Tentu saja, pengungkapan motif politik ini bisa memberi peluru bagi simpatisan HTI yang kini tanpa bentuk untuk semakin eksis, dengan cara mengeksploitasi kemarahan ummat Islam yang merasa simbol tauhid dilecehkan oleh para santri Banser.

Bagaimanapun, walau organisasinya dibubarkan oleh pemerintah, serta dianggap terlarang oleh Pengadilan, simpatisan serta pengikut HTI tidak serta-merta membubarkan diri, karena HTI adalah organisasi massa berbasis pengkaderan ideologis.

Tidak ayal, terjadi eskalasi,  pengorganisasian massa yang marah, yang berdemontrasi menuntut pembubaran Banser. Demontrasi tersebut seolah tanpa tuan, digalang entah oleh siapa, mengatasnamakan apa, dan apakah akan selesai pada pembubaran Banser saja, tidak pernah jelas?

 

NU KENA BIDIK

Satu hal yang jelas, pemerintah dan aparat keamanan dibuat repot karenanya.

Masalah ini bahkan jika tidak diwaspadai, akan digunakan oleh sebagian pihak menjadikan Indonesia sebagai Suriah kedua.

Gerbangnya adalah ketidakpuasan terhadap penanganan masalah bendera tauhid ini.

Karena pada satu sisi, Banser dan NU membela diri, mereka pun didukung oleh sekian banyak elemen yang tidak menyukai gerakan yang dibawa oleh HTI, yang bertujuan menjadikan NKRI sebagai khilafah Islamiyah..

Sementara pihak HTI mendapat dukungan dari para netizen yang awam dalam pengetahuan serta khazanah Islam,

Kemarahan netizen tereksploitasi sedemikian rupa, sehingga berhamburan meme kecaman terhadap Banser dan pada akhirnya mengarah anak panahnya pada NU sebagai organisasi tradisionalis yang paling depan mempertahankan NKRI.

Jika NU kehilangan simpati dari massa nya sendiri, lebih parah lagi jika banyak massa NU menyebrang menjadi fundamentalis, maka masa depan NKRI akan semakin runyam.

Boleh jadi masa fundamentalis yang jumlahnya semakin banyak akan menuntut syariah sebagaimana dalam penerapan khilafah atau mereka memilih memisahkan diri dari NKRI.

Pada akhirnya perang saudara seperti di Suriah tidak akan terelakan, karena TNI dan para republiken tidak akan membiarkan itu terjadi.

Sementara bagi para oportunis politik, Indonesia baik berbentuk Republik atau Khilafah asalkan rakyatnya senang berpeang akan membuat mereka semakin meraup keuntungan, menjual isi negeri kepada pihak asing dengan sangat murah, tanpa harus memperhatikan kebutuhan sandang, pangan, papan, rakyat yang sedang asyik perang saudara.

Rakyat Indonesia harus mampu menahan diri, menyerahkan masalah ini pada aparat, dan jangan mau dibodohi oleh para oportunis politik, seperti apa yang terjadi di Suriah.*** Salman