Perbedaan antara Depresiasi dan Amortisasi

Perbedaan antara Depresiasi dan Amortisasi

Depresiasi dan amortisasi memiliki efek mengurangi nilai aset. Namun, ini tidak meniadakan perbedaan antara kedua konsep tersebut.

 

Produk yang memiliki nilai moneter diklasifikasikan sebagai aset. Aset dapat memiliki bentuk fisik, atau mereka mungkin tidak berwujud. Pabrik dan mesin, tanah, uang tunai dan piutang, persediaan, hak paten, dan merek dagang, adalah contoh aset. Piutang usaha, surat berharga, dan persediaan dapat dikonversi menjadi kas dalam waktu kurang dari satu tahun, dan dikenal sebagai aktiva lancar. Aset tetap, di sisi lain, mengacu pada properti, dan pabrik serta peralatan yang digunakan dalam kegiatan usaha tersebut. Mereka tidak dijual untuk uang tunai karena mereka membantu proses produksi.

 

Sebuah nama merek, seperti HP, secara otomatis terkait dengan produk-produk berkualitas tinggi di dunia komputer. Biasanya, hasil pengambilalihan sukses di perusahaan induk akan memperluas nama merek. Dengan demikian, merek dagang dan hak paten diklasifikasikan sebagai aset meskipun mereka tidak memiliki bentuk fisik.

 

Definisi
Depresiasi terjadi pada saat aset terus digunakan dan dapat rusak, mengakibatkan perusahaan harus mengganti dengan yang sama setelah mereka mencapai akhir masa pakainya. Aset juga dapat menjadi usang karena perubahan teknologi, dan akibatnya kehilangan nilai mereka. Nilai aset yang berkurang tersebut dinamai depresiasi. Depresiasi merupakan biaya akuntansi non-tunai, karena tidak ada arus kas yang sebenarnya sebagai akibat dari pengurangan nilai aset.

 

Amortisasi mengacu pada penyebaran biaya aset tidak berwujud selama masa pakainya. Misalnya, biaya pembuatan produk yang dipatenkan ditentukan masa manfaatnya selama 20 tahun. Tujuan pencatatan amortisasi adalah untuk mengukur nilai konsumsi aset tidak berwujud. Biaya yang terkait dengan pendapatan hak cipta untuk produk tertentu, yang diharapkan dapat terjual untuk 17 tahun ke depan atau lebih, dapat terhapus dari waktu ke waktu, atau diamortisasi sepanjang waktu.

 

Cara Menghitung
Depresiasi dapat dihitung dengan menggunakan rumusan berikut:
Depresiasi Tahunan = (Harga Pembelian Aset - Perkiraan Penurunan Nilai) / Taksiran Masa Manfaat Aset

Karena depresiasi adalah beban operasional non-tunai, maka harus ditambahkan kembali ke laba bersih sementara memperkirakan arus kas operasi.

 

Untuk menghitung amortisasi, mencakup pembagian biaya pengembangan atau pengadaan aset tidak berwujud. Misalnya, jika biaya paten adalah Rp. 45 juta dan akan jatuh tempo pada 15 tahun, amortisasi tahunan adalah Rp. 3 juta. Ini juga merupakan beban operasional non-tunai, sehingga perlu ditambahkan kembali ke laba bersih untuk memperkirakan arus kas operasi. ***int (Sumber: Buzzle)