Pengamat Australia: Kekuatan Indonesia Tak Bisa Lagi Dianggap Sepele

Pengamat Australia: Kekuatan Indonesia Tak Bisa Lagi Dianggap Sepele

Australia harus bersiap menyambut Indonesia sebagai kekuatan baru, yakni sebagai kekuatan regional yang besar di tahun-tahun mendatang. Demikian menurut para pakar dan akademisi negeri kanguru itu, walau kekuatan Indonesia tidak ditujukan untuk menganggu stabilitas negara tetangga di selatan itu.

 

Dalam laporan penelitian Lowy Institute dikatakan Indonesia akan mengejar peran yang lebih ambisius di panggung dunia, tetapi peran itu tidak akan diterjemahkan ke dalam wujud kekuatan diplomatik atau militer.

 

Dave McRae, peneliti dari Universitas Nasional Australia (ANU) mengatakan, meski pertumbuhan ekonomi Indonesia sangat mengesankan, masih akan membutuhkan beberapa sumber daya untuk bisa memaksimalkan potensinya.

 

"Sebagai aktor kebijakan luar negeri, Indonesia bukan kejutan besar berikutnya," tulis McRae dalam artikel berjudul Banyak Bicara Dari Berkerja, yang dirilis pada Kamis (27/02), sebagaimana dikutip, news.com.au.

 

"Memang ada aura kekuatan besar, yang bisa menutupi kemampuan menengah Indonesia," tambahnya.

 

Laporan ini juga menjelaskan bahwa pengeluaran militer Indonesia hanya sepertiga dari anggaran militer tahunan Australia, lebih kecil sedikit dari pengeluaran Singapura.

 

Dengan kekuatan macam itu belumlah dipandang bisa mendiktekan agenda forum regional seperti ASEAN, meskipun menjadi satu-satunya negara Asia Tenggara yang diundang forum G-20.

 

Menteri Keuangan Indonesia Muhammad Chatib Basri mengatakan dalam forum di Canberra baru-baru ini ia yakin negaranya menjadi negara dengan ekonomi yang tumbuh tercepat kedua di kawasan Asia, meskipun ada tantangan fiskal.

 

Tapi tidak jelas apa dampak yang lebih tegas dari kuatnya Indonesia pada hubungan bilateral dengan Australia, yang sempat goyah setelah perselisihan kasus mata-mata dan pencari suaka.

 

McRae mengatakan Indonesia tidak mungkin meningkatkan hubungan dengan Australia dalam prioritas kebijakan luar negeri, karena mitra dagang yang lebih strategis ada di utara.

 

"Di luar dari pertengkaran bilateral, Australia tidak muncul dalam diskusi kebijakan luar negeri Indonesia," jelasnya.

 

Profesor studi strategis ANU, Hugh White mengatakan krisis diplomatik baru-baru ini disengaja oleh Australia untuk mendikte hubungannya dengan Indonesia. Namun, ditanggapi dengan preseden lebih kuat oleh Jakarta.

 

Menurut White, gertak sambal itu sia-sia, karena pada akhirnya Australia harus mengubah pola pikir bahwa Indonesia akan muncul sebagai kekuatan yang kuat di wilayah tersebut.

 

"Indonesia, dalam rangka untuk menjaga kepentingannya sendiri, akan melakukan hal yang beda dengan kita (balas menggertak)," jelas White.***Fey