Pengamat Asing Nilai Pertumbuhan Ekonomi RI Tak Separah Pandangan Pengamat Lokal

Pengamat Asing Nilai Pertumbuhan Ekonomi RI Tak Separah Pandangan Pengamat Lokal

Biro Pusat Statistik (BPS), Rabu (05/02), membuka data Ekonomi Indonesia tumbuh kurang dari 6 persen per tahun untuk pertama kalinya sejak 2009, saat kuartal keempat 2013 mengalami penurunan tajam sebagai imbas mata uang yang sakit, suku bunga yang tinggi, defisit transaksi berjalan, dan isu-isu lain yang menurut para pengamat akan tetap muncul tahun ini.

 

BPS juga menjelaskan bahwa Indonesia mencatat pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 5,78 persen pada tahun 2013. Bandingkan dengan pertumbuhan tahunan sejak 2010-2012 yang lebih dari 6 persen. Sementara produk domestik bruto Indonesia tumbuh 4,6 persen pada tahun 2009.

 

Untuk kuartal keempat tahun 2013, perekonomian menyusut 1,42 persen, meskipun BPS mencatat pertumbuhan lebih baik 5,72 persen, dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun 2012.

 

Didik Rachbini, direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengungkapkan beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan PDB.

 

"Pertama, tekanan terhadap rupiah karena bank sentral memaksa suku bunga terlalu tinggi, yang telah mempengaruhi sektor swasta untuk menunda investasi," katanya. "Dan juga, ada penurunan impor bahan baku dan mesin. Penurunan tidak terjadi hanya kuartal ini, tapi mungkin dua atau tiga kuartal berikutnya akan lebih lambat," papar Didik.

 

Bank Indonesia memang menaikkan suku bunga acuan lima kali - total 1,75 persentase poin - pada tahun 2013, tapi ini dilakukan demi menahan defisit transaksi berjalan yang mencapai $ 10 miliar pada kuartal kedua 2013.

 

Stephen Schwartz, pengamat ekonomi dari BBVA Research in Hong Kong, memaparkan penurunan di Indonesia dari tahun ke tahun dan tingkat pertumbuhan triwulanan belum separah seperti yang diumbar banyak pengamat lokal, dan malah bisa dilihat secara positif, mengingat tanda-tanda pada 2013 bahwa ekonomi tengah overheating karena pertumbuhan kredit yang cepat.

 

"Kabar baiknya adalah rupiah Indonesia telah stabil dalam beberapa bulan terakhir, dan itu mendorong adanya volatilitas terbaru yang kami lihat dalam pasar negara berkembang, Indonesia tampaknya berada di sisi lain dari mereka yang bermasalah," katanya.

 

Bagi Schwartz segala kebijakan BI dan kebijakan fiskal pemerintah belakangan ini, dipandang sebagai hal yang menarik kepercayaan.

 

"Ini menunjukkan bahwa setidaknya untuk saat ini, pasar memberikan perhatian positif pada Indonesia pada kebijakan, untuk mengatasi isu-isu seperti defisit transaksi berjalan, yang menyempit, dan cadangan devisa meningkat," tambahnya, mengacu pada cadangan devisa.

 

Pada hari Selasa sebelumnya (04/02), Menteri Keuangan Chatib Basri menyerukan peningkatan tata kelola perusahaan untuk menarik lebih banyak investor asing. Dan itu menjaid bagian dari apa yang Schwartz sebut sebagai positif.

 

"Banyak orang berpikir perlambatan (ekonomi Indonesia) karena faktor struktural," tandas Schwartz mengkritik cara pemahaman pengamat ekonomi di Indonesia yang terlalu menyalahkan pemerintah, dan lantas mendapat reaksi keras dari Chatib bahwa yang mereka butuhkan adalah obat gosok bukan kebijakan ekonomi.

 

"Kita harus fair bahwa pemerintah sudah memulai reformasi (fiskal)," kata dia. "Ini terlihat menjanjikan, walau masih tidak pasti, karena ada pemilu yang datang pada tahun ini." Jelasnya, seraya berharap bahwa orang-orang yang sama di kantor OJK masih ada di kursinya nanti, walau pemerintahan berganti.***Fey