Pemilu 2014 mungkin Akan Jadi Pemilu Terakhir bagi PBB

Pemilu 2014 mungkin Akan Jadi Pemilu Terakhir bagi PBB

Menjadi salah satu pihak inferior dalam tiga pemilihan umum terakhir, Partai Bulan Bintang (PBB) terus berada dalam status ketidakjelasan yang relatif.

 

Didirikan pada bulan Juli 1998 ketika Indonesia sedang transisi dari rezim Orde Baru ke reformasi demokrasi, pendiri dan anggotanya telah berusaha untuk menghidupkan kembali kejayaan masa lalu dari Partai Masyumi yang mati suri melalui PBB. Sentimental suasana era Masyumi digunakan agar partai ini bisa menjadi partai Islam dengan berbasis terkuat, yang pernah berhasil mengumpulkan 20,9 persen suara dalam pemilu 1955, menang di 10 dari 15 provinsi di seluruh nusantara.

 

Bahkan inipun diperkuat dengan dukungan dari sejumlah organisasi Islam massa seperti Lembaga Dakwah Islam Indonesia (DDII), Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), Persatuan Islam (Persis), Himpunan Mahasiswa Muslim Indonesia (HMI), juga Muslimin Indonesia, salah satu elemen fusi yang membentuk PPP, dan lainnya, partai ini secara resmi dibangun pada 26 Juli 1998.

 

Ahli hukum tata negara terkemuka di Indonesia Yusril Ihza Mahendra, yang juga mantan menteri hukum dan hak asasi manusia dalam masa kepemimpinan Megawati Soekarnoputri, menjadi ketua partai pertama pada waktu itu, dan mantan menteri kehutanan MS Kaban menjadi sekretaris jenderal nya.

 

Namun yang mengejutkan PBB tidak membuat gebrakan besar di Pemilu 1999, mereka hanya mampu mengumpulkan 2 persen suara, atau 2.050.000 suara, sehingga mengamankan 13 kursi di DPR.

 

Prestasinya dalam politik nasional tetap stagnan di pemilu 2004, ketika mengumpulkan 2,62 persen dari total suara atau sekitar 2,9 juta orang. Setelah itu, dukungan untuk partai ini menurun. Pada tahun 2009, partai ini hanya memenangkan 1,7 persen suara, yang berarti PBB telah kehilangan 2,5 ambang batas legislatif dan dengan demikian tidak terwakili di DPR.

 

Survei terbaru menunjukkan bahwa PBB harus berjuang keras memobilisasi segala daya upaya yang luar biasa jika berharap untuk mendapat kesempatan dalam pemilihan tahun ini. Mengetahui bahwa masyarakat telah berubah tidak menjadi ideologis seperti di masa lalu, maka PBB mulai pragmatis, dalam beberapa kesempatan kampanye mulai mempersilahkan hiburan dangdut. Namun, sulit ditebak apakah upaya itu akan menghasilkan pemilih?

 

Survei yang dirilis pada bulan Januari tahun ini menemukan bahwa kurang dari 1 persen dari 1.200 responden nasional mengatakan mereka akan memilih partai tersebut. Analis politilk dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Syamsuddin Haris, mengatakan bahwa PBB tidak memiliki kesempatan untuk memenangkan pemilu karena konstituen mereka tidak jelas.

 

"Mereka mengklaim secara historis terkait dengan Masyumi, tetapi semua orang bisa klaim Masyumi. Saya tidak melihat dasar yang jelas pendukung mereka hari ini, "kata Syamsuddin sebagaimana dikutip the Jakarta Post.

 

Dia mengatakan bahwa popularitas yang rendah juga karena partai tidak mampu menangkap aspirasi masyarakat dalam kampanye Selain itu, visi, misi dan platform partai tidak disampaikan dengan baik kepada publik, membuat PBB cukup asing di antara warga. Basis pesantren pun mulai direbut partai lainnya.

 

"Lebih baik bagi mereka bergabung dengan pihak lain di masa depan kecuali mereka ingin tetap menjadi partai penting di negeri ini. Setelah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan menunjuk Joko Widodo sebagai calon presiden, telah menjadi jauh lebih sulit bagi semua orang, terutama partai kecil seperti mereka, untuk bersaing dalam pemilu," kata Syamsuddin.***Int