Pemerintah Mesti Waspadai Traffiking Anak Di Area Bencana

Pemerintah Mesti Waspadai Traffiking Anak Di Area Bencana

Bencana alam sudah tentu tidak akan pilih-pilih korban, dewasa, kanak-kanak, manula dapat terkena dampak bencana. Namun, setelah bencana usai, masalah lain yang lebih krusial didapati, yakni bagaimana mendata serta menjaga anak-anak yang terkena dampak bencana, saat terpisah atau kehilangan orang tuanya?

Di Palu baru-baru ini dikabarkan, bahwa setelah gempa dan tsunami yang menyerang kota tersebut anak-anak yang kehilangan orangtua/kerabatnya terancam oleh sindikat penculikan / traffiker.

World Vision organisasi nirlaba Australia memperingatkan pemerintah bahwa di area bencana kini berkeliaran predator anak oportunistik. Sehingga untuk mencegahnya, Tim Costello dari organisasi tersebut berharap pemerintah diharap dapat mendidik para orang tua atau siapapun yang berada di area bencana untuk secara detil mendaftarkan anak-anak yang terlihat terpisah dari keluarganya, ke kamp pengungsian.

Pendataan tersebut sangat krusial untuk mempertemukan anak yang terpisah dari keluarganya untuk dapat bersatu dengan keluarga, atau kerabat terdekat.

Jangan sampai anak-anak tersebut terkirim ke kerabat yang keliru, walau ada niat baik untuk merawat anak yang terkena dampak bencana, namun ditakutkan tidak sedikit pula yang memperjualbelikan anak-anak tersebut.

"Kita yakin dengan memperhatikan (sistem) ini kita dapat selamatkan banyak anak." Jelas Costello sebagaimana dikutip dari News.com.au (27/10/2018)

"Memang ada orang yang berniat baik menyelamatkan anak terlantar di area bencana, tapi ada sebagian kecil orang yang ambil kesempatan dalam suasana kacau untuk keuntungan pribadi mereka."

Costello juga menjelaskan bahwa organisasi mereka telah memperhatikan pola-polla pencegahan ini sejak kasus penjualan / pengiriman anak terkena dampak bencana saat tsunami di Aceh pada 2006.*** red (news.com.au, al jazeera)