Pemerintah : Rupiah Boleh Jatuh, APBN Jadi Bagus

Pemerintah : Rupiah Boleh Jatuh, APBN Jadi Bagus

Gambaran Rupiah Indonesia yang memimpin pelemahan mata uang di Asia dan mencapai titik terendah sejak 16-tahun era krismon dipandang bukan sesuatu yang menyedihkan bagi pemerintah, setelah Bank Indonesia melihat penurunan ini menjadi strategi moneter dan fiskal demi meningkatkan nilai ekspor.

Bahkan pemerintah menyikapinya dengan menerapkan kebijakan fiskal efektif anti dumping, yang akan mempertebal dompet APBN.

Bank Indonesia sendiri tetap fokus demi menjaga stabilitas makroekonomi dan melihat nilai tukar saat ini sebagai alat kompetitif bagi eksportir, sebagaimana ungkapan Deputi Gubernur Perry Warjiyo Selasa lalu (12/03), bahwa Indonesia perlu mempersempit defisit current account,

Dan dalam rilis terkini sebagaimana dilaporkan dari Strait (12/03), Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan kepada wartawan bahwa pelemahan rupiah kali ini tidak akan membahayakan APBN, mengingat bagian terbesar yang membebaninya yakni impor BBM bersubsidi telah mengalami dua penanganan, pertama pencabutan subsidi BBM dan kedua turunnya harga minyak dunia.

Alih alih pelemahan ini justru akan menguntungkan APBN.

"Saya hanya menyampaikan fakta, faktanya memang surplus bertambah. Jangan dibilang pemerintah cari untung. Pemerintah tidak cari untung dari pelemahan rupiah," ujar Bambang di Kantor Wakil Presiden, Jakarta, Rabu (11/3/2015).

Para pengamat pun tidak banyak ambil bagian kritik, dan memahami langkah pemerintah.

"Fokusnya (strategi) adalah pada transaksi berjalan dan pertumbuhan, karena bank sentral tidak menetapkan target rupiah," Jelas David Sumual, kepala ekonom di PT Bank Central Asia. "Impor barang modal untuk mendukung pertumbuhan yang lebih cepat akan perlu untuk naik dan membebani rupiah," tambahnya.

Nilai tukar rupiah turun 0,8 persen menjadi 13.193 dolar AS pada 10:17 di Jakarta, terlemah sejak Agustus 1998, harga dari bank lokal dikumpulkan oleh Bloomberg menunjukkan. Satu bulan ke depan turun 0,6 persen menjadi 13.415, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg.***Red (Strait, Liputan6)