PDIP Dinilai Kurang "Islami", PPP Pilih Dukung Prabowo

PDIP Dinilai Kurang "Islami", PPP Pilih Dukung Prabowo

Partai Persatuan Pembangunan (PPP) telah memutuskan arah kiblat koalisi yang bakal dipilih dalam gelaran Pemilihan Presiden 9 Juli mendatang. 


Sebelum keputusan tersebut diambil, pandangan umum PPP telah mengerucut pada dua sosok calon presiden yang kian santer menjadi kandidat terkuat, calon PDI Perjuangan yakni Joko Widodo dan calon Partai Gerindra, Prabowo Subianto.


Walhasil, Rapimnas PPP yang baru saja usai digelar, Senin (12/5/2014) dini hari tadi akhirnya diputuskan PPP mendukung Prabowo pada Pilpres mendatang. 


Politikus PPP Ahmad Yani menyatakan PPP sendiri telah mempunyai kriteria dan tolak ukur mengenai arah koalisi.


Ia menuturkan awalnya Rapimnas tidak langsung membahas nama calon presiden melainkan melalui mekanisme skoring kriteria dari partai pengusung. Dan kriteria utama yang diterapkan partai berlambang Kabah tersebut adalah Ideologi. 


"Ini terkait dengan perjuangan PPP dalam membuat dan mengusulkan UU," ujar anggota Komisi III DPR itu. 


Yani menjelaskan PPP sebelumnya juga telah melihat  track record kedua capres serta parpol calon koalisi. Dari situ bisa dipantau kubu manakah yang lebih memiliki kesamaan visi dan misi dengan PPP.


"PPP kan partai Islam yang memperjuangkan spirit itu dalam UU. Misalnya, kami perjuangkan UU Anti Miras maupun UU Pornografi, dari situ siapa yang mengganjal kami. Lantas di daerah kami mendorong Perda syariah, siapa juga yang mengganjal," tutur Yani. 


Yani melanjutkan setelah kriteria utama dipertimbangkan, baru kemudian melihat kualitas serta elektabilitas sang calon presiden.


"Pertimbangan praktis itu juga tidak kami menafikan. Oleh karena itu jangan dikotomikan unsur kabinet dari unsur profesional," tutupnya.

 

Sebelumnya Pondok Pesantren Al Anwar, Sarang, Rembang dikabarkan menolak pencalonan Joko Widodo sebagai calon presiden. Isu itu justru semakin santer pasca Jokowi sowan ke ponpes menemui KH Maimoen Zubair, sang pengasuh Ponpes yang juga Ketua Dewan Syariah PPP. “Saya tidak rela PPP berkoaliasi dengan partai kaum abangan yang anti Islam,” tegas KH Najih, Putra dari KH Maimoen.

 

Meskipun saat sowan ke KH Maimoen, Jokowi tampak akrab berbincang mendengarkan petuah dan pesan mbah Maimoen yang sempat menafsirkan nama Jokowi yang berasal dari kata "jaa'aqoiwiyyun" yang artinya dalam bahasa Jawa, "mongko wis teko sopo wongkang kuwat". Dalam bahasa Indonesia "telah datang orang kuat yang akan memimpin bangsa.***mjd (sumber Vivanews dan voa-islam)