OPM SERING MEMERAS PEKERJA INFRASTRUKTUR PAPUA

OPM SERING MEMERAS PEKERJA INFRASTRUKTUR PAPUA

Sebagaimana yang dikutip dari New York Times, berdasarkan pengkabaran dari periset tentang Papua, gerakan separatis bersenjata yang dinamakan OPM (Organisasi Papua Merdeka) kerap melakukan tindakan kriminal, mulai dari pencurian, perampokan, hingga pemerasan.

Tidaklah mengherankan apabila pihak kepolisian Indonesia menyebut mereka sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) sepadan dengan cara-cara 'perjuangan' mereka dalam memisahkan diri.

Bahkan baru-baru ini, mereka bertindak keji dan brutal mengeksekusi 31 pekerja konstruksi (31/11/2018) yang berasal dari pulau-pulau jauh untuk membantu pembangunan Papua.

Menteri Pekerjaan Umum Basuki Hadimuljono, sampai menyatakan bahwa pembangunan infrastruktur akan dihentikan sementara hingga Nduga 'bersih'.

Menhankam Jenderal Purn Moeldoko bahkan menyatakan bahwa hanya ada dua pilihan bagi OPM pelaku eksekusi, menyerah atau 'dibersihkan'.

Pada sisi lain, Bobby Anderson, seorang periset School of Oriental and African Studies di London menceritakan pengalaman panjangnya di Papua, bahwa wilayah Nduga bukanlah basis khusus dari OPM, namun sering ada tindakan kekerasan di sana.

OPM dan simpatisannya seringkali memeras, mengancam para pengusaha serta pekerja pembangunan untuk memberikan uang kepada mereka, karena mereka menganggap para pekerja itu sebagai orang asing yang wajib dipajaki.***