OJK :Literasi Keuangan Kurangi Kesenjangan Ekonomi

OJK :Literasi Keuangan Kurangi Kesenjangan Ekonomi

Langkah terbaru yang akan diambil untuk mengurangi kesenjangan ekonomi adalah dengan penyebarluasan literasi keuangan sehingga meningkatkan akses keuangan masyarakat.

Hal ini disampaikan oleh Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan, Muliaman Hadad. Selain itu, hal ini dianggap akan kurangi tingkat eksklusivitas akses keuangan serta mendorong inklusivitas keuangan untuk semua masyarakat Indonesia.

”Akses produk dan jasa keuangan ini tidak boleh eksklusif, namun harus inklusif. Jadi tidak ada satu pun keluarga, atau anggota masyarakat yang tidak masuk radar jasa keuangan,” ujarnya (24/2).

Target ini juga telah dituangkan dalam Undang- undang Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015.

”Meningkatnya akses keuangan ini akan membuat masyarakat di daerah dapat lebih dekat dan dapat terbantu dengan produk dan jasa keuangan,” katanya. Demi mendorong keuangan inklusif, ujar dia, fokus perhatiannya adalah upaya meningkatkan terlebih dahulu pemahaman masyarakat terhadap produk dan jasa keuangan. Muliaman menuturkan, seluruh lapisan masyarakat perlu memahami secara menyeluruh kelebihan, dan manfaat, begitu juga dengan kekurangan dari setiap produk dan jasa keuangan.

”Agar masyarakat tahu produk dan jasa keuangan mana yang cocok dengannya, tidak tertipu, sehingga mampu membantu memberdayakan dirinya,” jelas Muliaman. Hal mendasar untuk dapat meningkatkan akses keuangan yang dapat menggerakkan perekonomian masyarakat.

Berdasarkan survei OJK, tingkat literasi keuangan di Indonesia di tahun 2013 hanya 21,8%.

Sementara itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Anies Baswedan menjelaskan bahwa peningkatan literasi keuangan dan akses keuangan mestinya menyeluruh di Indonesia. Akses ini terutama dapat membantu masyarakat kelas menengah ke bawah untuk meningkatkan pendapatannya. ***intan (Sumber: Sindo & Tempo)