OJK Harapkan Peningkatan Indeks Saham Tahun Depan

OJK Harapkan Peningkatan Indeks Saham Tahun Depan

Cara lain untuk merayakan ketidakberhasilan, atau ketidaksukseskan adalah mencari tahu pencapaian orang lain. Apabila orang lain lebih berantakan pencapaiannya dari pencapaian kita, maka boleh jadi kita sebenarnya tengah sukses. 

Nah, sukses jenis inilah yang tengah diamini oleh Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Muliaman D Hadad.

 

"Kita perlu mensyukuri kondisi ini meski indeks tidak meningkat seperti tahun sebelumnya. Tapi kondisi ini cukup kondusif walaupun Amerika Serikat dan Eropa bergejolak. Terima kasih kepada semua pihak, kami berharap pemangku kepentingan pasar modal untuk bekerja keras lagi tahun depan," ujarnya di BEI, Jakarta, pada Senin (30/12/2013).

 

Sebagaimana yang perlu diketahui, IHSG tahun 2013 ditutup pada level 4.274, artinya menguat 61,19 poin. Level ini lebih rendah dibanding penutupan tahun sebelumnya yang posisi nya berada pada 4.316. Alasan mengapa tahun ini tidak ada peningkatan, diakui karena adanya guncangan dari eksternal dan internal.

 

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida pada konferensi pers Senin (30/12/2013), membeberkan data bahwa tahun 2013 memang buruk bagi BEI, atau tepatnya bursa regional kita setidaknya sampai sampai 27 Desember. Ambil contoh bursa Jepang Nikkei225 dengan “Abenomic” nya yang sanggup mencatat pertumbuhan tertinggi, yakni 51,37 persen.  Berikutnya di China Shenzhen yang berada pada posisi tertinggi kedua dengan persentase 19,72 persen.

 

Di Asia Tenggara dibandingkan Filipina Bursa Indonesia tahun 2013 ini mencatat pertumbuhan negatif, yang mencapai -3,07 persen. Walau demikian, sebagaimana Muliaman D. Hadad, Nurhaida juga ikut menjelaskan bahwa semua ini dikarenakan sentimen negatif karena kondisi global dan domestik.

 

Apakah selamanya ini kabar buruk? Tidak juga. Karena menurut Direktur Utama BEI Ito Warsito, adanya penambahan 31 emiten baru telah menambah nilai pasar saham sebesar 0,87%. Kenaikan ini berarti naik Rp 4.127 triliun dibanding pada akhir Desember 2012, menjadi Rp 4.163 triliun pada 27 Desember 2013. Pasar memang selalu mencari sisi baik dari hal hal yang menyulitkan.***