"Ngantri Itu Nggak Miskin Mbak.." Florence vs Jogja dan Negara

"Ngantri Itu Nggak Miskin Mbak.." Florence vs Jogja dan Negara

"Orang Inggris, bahkan jika dia sendirian, membentuk antrian yang tertib." canda George Mikes komedian yang juga penulis.

Lalu apakah itu yang menyebabkan Inggris sepi dari kisah-kisah pemberontakan dan dipenggalnya raja-raja, sejak kelahiran bangsa itu pada abad ke 11?

Namun faktanya memang Inggris yang "menemukan" hukum dan keteraturan dalam pengertian hak-hak bersama pada dunia. Dimulai dari Magna Charta yang membatasi kekuasaan para raja, serta lahirnya ahli hukum seperti John Locke dan Thomas Hobbes, menjadi alasan mengapa orang-orang harus bersikap tabah dan sabar.

Menjadi tabah dan sabar juga masuk ke dalam kultur orang orang Inggris dan ini dimulai dari kebiasaan di mana mereka tampak unik dari yang lain, yakni tidak suka serba rusuh, termasuk dalam hal mencari nafkah. Antrian menjadikan Inggris efektif dan berdaulat. Orang Inggris sangat paham masalah kedaulatan.

Maka dari itu tidak mengherankan apabila kelas pekerja di Inggris tidak sedrastis kawan-kawan mereka di Russia yang menggulingkan kekuasaan borjuis. Padahal teori Sosialis, Marxis, dan Engels "lahir" di Inggris, bicara tentang tabiat Inggris dan situasi orang orang Inggris.

Engels orang Jerman bicara nasib buruk kelas pekerja Inggris dalam karyanya "The Condition of the Working Class in England", tapi karya besarnya itu tidak begitu dapat simpati, terlebih mencoba mengobarkan tindakan anti normatif seperti perjuangan kelas dengan jalan kekerasan dan main serobot.

Mau kekuasaan? begitu pikir orang Inggris pada Anda.. "Anda harus ambil antrian."

Maka dari itulah kerja Inggris di Indonesia boleh diselorohkan hanya membuat orang orang mengantri. Kepada orang orang Jepang Inggris membuat mereka yang datang mengantri untuk pulang. Adapun kepada orang orang Belanda yang tadinya pulang untuk datang ke Indonesia.

Tentu saja mengantri adalah perihal paling sumpek yang Anda alami, terlebih sebagai orang Indonesia yang sudah "dari sono" nya selalu mempermasalahkan dan menyalahkan ketertiban, setidaknya di dalam hati.



Mengapa Florence?

Maka tidak heran apabila ada seseorang dari kelas urban mencak-mencak di media sosial dalam perkara antrian, karena barangkali dia sudah sumpek menjadi "kebarat-baratan". Ialah Florence Sihombing yang kini sedang naik daun digunjingkan di media sosial.

"Orang Jogja Bangsat. Kakak mau beli Pertamax 95 mentang-mentang pake motor harus antri di jalur mobil terus enggak dilayani. Malah disuruh antri di jalur motor yang stuck panjangnya gak ketulungan. Diskriminasi. Emangnya aku gak bisa bayar apa. Huh. KZL,"

 
Tulisnya, menimpali pendapat awalnya yang tak kalah "bernas"

"Jogja miskin, tolol, dan tak berbudaya. Teman-teman Jakarta-Bandung jangan mau tinggal Jogja,"


Kita bisa sama sama simpulkan, bahwa amukan mahasiswi S2 Universitas Gajah Mada jurusan Fakultas Hukum adalah tentang masalah

(1). Harus diperbolehkan antri di jalur mobil.
(2). Tidak mau pindah antrian yang panjang.
(3). Dan baginya diskriminasi adalah tentang siapa yang bayar berapa

Ketiga poin ini mesti kita cermati sama-sama, karena tidak tanggung tanggung yang menyuarakannya adalah kaum urban kita. Kelasnya mereka yang sanggup membiayai kuliah Starta 2 di kampus favorit Indonesia, dan sanggup bayar Pertamax 95 untuk kendaraan roda dua.

Dan di atas semua itu dia mahasiswi jurusan hukum. Dan dia sempat menyalami "pemimpin politik" Gubernur Daerah istimewa Yogyakarta dengan ungkapan kotanya begitu membosankan.



Cermati barangkali ada semacam pola serupa yang luput dari pandangan kita selama ini, tentang bagaimana hukum ditegakkan di masyarakat, dan tentang bagaimana pandangan masyarakat tentang keadaan sosial dan ekonomi negaranya. Terlebih pada mereka yang sedang kuliah hukum S2 di salah satu universitas top negara ini.

Tidakkah mahasiswi ini melihat latar belakang mengapa orang mengantri BBM? Tentang bagaimana kesulitan pasokan BBM subsidi, dan wacana pencabutan subsidi itu sendiri? Jika benar benar tidak paham ini akan jadi masalah besar. Bagaimana tidak?

Jika masalah yang dihadapi sehari hari saja oleh kaum urban kita dipahami dengan cara crowding, rusuh, tidak runut. Maka tidak pula mengherankan jika pemahaman mereka tentang dunia makro ekonomi kita, tentang anggaran, fiskal dan sejenisnya bisa berada dalam tingkatan lebih buruk lagi.

Namun, akan ada selalu harapan di balik kejadian heboh. Yakni berharap ini hanya oknum saja. Oknum dari seseorang kelas menengah terdidik, terpelajar tinggi tinggi, namun tidak bisa memahami arti pentingnya antrian, terlebih dalam pemahaman yang lebih luas berkaitan dengan mengapa antrian itu terjadi.

Walau demikian, saya pribadi lebih senang Florence-Florence yang lain ikut menampakkan diri, dibandingkan berdiam dalam sekam yang akhirnya meledak tanpa dikenali penyebabnya.***

Erwin Eka Kurniawan, SE, MSi - Ketua Umum Asosiasi Fiskal Indonesia