Ngambek Soal Impor Garam, Menteri Susi Ancam Hentikan Program Pemberdayaan Petani Garam

Ngambek Soal Impor Garam, Menteri Susi Ancam Hentikan Program Pemberdayaan Petani Garam

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengatakan akan menghentikan program pemberdayaan petani garam tahun depan jika rembesan garam impor masih terus membanjiri pasar sehingga menyebabkan harga garam petani anjlok dan produksi tidak terserap.

 

“Rembesan impor garam itu kan intinya karena garam industri yang masih impor. Tapi jumlahnya di atas kebutuhan industri. Sebenarnya hanya perusahaan-perusahaan kimia dan makanan, yang masih memerlukan garam impor,” ujar Susi di Gedung Mina Bahari III, Jakarta, Selasa (11/8).

 

Menurut Susi, hampir tak ada perbedaan antara garam industri dengan garam rumah tangga karena keduanya sama-sama bisa dikonsumsi. Dan untuk garam industri, Susi mengakui petani lokal belum bisa menyediakan, namun bukan berarti kouta impor garam industri ini boleh semaunya. 

 

“Kalau dari dalam negeri sudah ada, industri itu hanya butuh 1,1 juta ton impor, jadi tidak perlu impor 2,2 juta ton. Apalagi impor masuk saat panen. Padahal, Mendag sudah bilang garam tidak boleh masuk sebulan sebelum dan dua bulan sesudah panen,” tuturnya.

 

Menurut Susi, segala upaya yang telah dilakukan untuk meningkatkan kualitas garam petani tidak akan bermanfaat jika pada akhirnya garam impor mendominasi pasar. Padahal pemerintah telah menyiapkan anggaran pemberdayaan untuk petani garam mencapai Rp258 miliar. Dana tersebut di antaranya dimanfaatkan untuk menyelenggarakan pelatihan bagi petani serta pembagian geomembran.

 

“Kalau kita mau petani garam ya harus tegas gitu, kalau mau kasih mati petani garam, ya impor saja banyak-banyak. Tahun ini, kalau terus menerus seperti ini saya tidak mau melaksanakan pemberdayaan petani garam. Percuma kita buang uang, tapi petaninya tidak mendapatkan manfaatnya karena harga jatuh,” tegas Susi. *** kny (cnn, bisnis)