Nama Baik Politisi? Adakah Politisi Memiliki Nama Baik?

Nama Baik Politisi? Adakah Politisi Memiliki Nama Baik?

Oleh Erwin Eka Kurniawan 

 

Nama baik politisi? Ha ha ha, jangan kebangetan, jangan jadi komika, atau ini bahan untuk para komika? Tidak demikian adanya. Kita mesti meyakini, bahwa di luar sana, masih ada politisi yang ingin menjaga nama baiknya, dengan cara berbuat baik, fokus berkerja untuk memperbaiki keadaan sosial, ekonomi, dan politik, melalui keterlibatannya dalam pemerintahan.

Karena itulah yang dilakukan seorang politisi untuk mencapai titik negarawan.Yakni mereka yang tidak punya apa-apa lagi yang bisa dilakukan di waktu kerja atau senggang liburan selain memikirkan nasib rakyat.

Pernah dalam masanya politik itu terkait sebenar-benarnya dengan suara rakyat. Politik menyuarakan keresahan rakyat, keinginan untuk merubah kondisi, takdir yang tengah dijalani oleh rakyat. Suara rakyat yang dikumpulkan kolektif oleh para negarawan demi adanya perubahan besar pada masa depan mereka. 

Perubahan yang memberikan harapan bahwa anak cucu mereka tidak menderita seperti yang tengah mereka alami.  Namun, sayangnya, selalu kisah pilu ini yang terjadi. Setelah rakyat melakukan revolusi atau reformasi bersama para negarawan, menggulingkan tirani, maka para politisi (kebanyakan yang tidak cakap) mengambil alih kemudinya.

Setelah revolusi berakhir, para negarawan yang berjasa menggulingkan tirani ada juga yang menjadi korban para oportunis, atau politisi yang tahunya berkuasa selama-lamanya secara feodal. 

Itulah setidaknya gambaran yang terjadi pada Danton dan Desmoullins, dua negarawan pencetus Revolusi Perancis, pendiri Republik Perancis modern, namun dihukum mati justru oleh Republik yang dia dirikan sendiri, yang saat itu dikendalikan politisi oportunis, rezim teror kaum Jacobin yang dipimpin Robbespierre. 

Walau rezim politisi teror Jacobin itu berhasil dijatuhkan oleh gerakan revisionis yang disebut sebagai kaum Thermidorian, peniru Jacobin dikemudian hari akan selalu muncul dalam bentuk politisi fasis, feodalis, elitis, dan oportunis. 

Saya tidak takjub apabila ada politisi yang buruk yang mencoba membonceng diri dalam gerakan perebutan kekuasaan atau penggulingan tirani. Di semua tempat, pada setiap profesi faktanya selalu terdapat mereka yang ngasal dan asbun semacam itu.

Politisi buruk ini tidak memberikan contoh politik yang elegan dan mendamaikan masyarakat, kebalikannya menggunakan kekuatan emosi massa sebagai jalan pintas menuju kekuasaan, pada saat justru negara membutuhkan integrasi nasional yang lebih kuat lagi, karena negara ini tengah diancam oleh guncangan fiskal dan moneter.

Sehingga benar adanya kritikan dari Gustika Hatta bahwa politisi mesti membuat nama mereka baik melalui gagasan dan pemikiran yang bermanfaat, karena tidak ada momentum yang lebih tepat dibanding saat ini.

Untuk apa cara-cara yang tidak berkepribadian semacam mendompleng nama besar digunakan, jika masih ada cara yang lebih elegan seperti memasarkan ide pemerintahan yang lebih baik? Mumpung ini sedang masa kampanye Pileg dan Pilpres.

"Setiap waktu, waktu pilpres, kenapa tidak berusaha membuat nama (besar) sendiri," tulis Gustika.

Di sanalah poinnya. Siapa dirimu, politisi? Ke mana dirimu? Sedang apa, dan hendak berbuat apa untuk rakyat banyak? Tunjukkan gagasanmu, ide-ide yang kelak akan terwujud dalam perundang-undangan bagi para wakil rakyat, atau terwujud dalam Rencana Pembangunan bagi para calon eksekutif.

Jangan tiru Robbespierre yang oportunistik, karena tidak akan berakhir dengan baik bagi dirinya juga bagi keluarganya. Karena kita maju berpolitik, salah satunya untuk memastikan keluarga kita hidup di tengah rakyat yang aman, tentram, dan sejahtera.

Kita berpolitik tidak ingin menghasilkan suatu realitas di mana tirani menguasai perihidup masyarakat, sehingga anak istri kita takut berjalan keluar, takut pada rakyatnya sendiri yang kelaparan, takut kecurian, takut dirampok, atau takut lambat laun negara ini berakhir gagal, semua orang terpuruk dan tidak peduli pada sesamanya lagi.

Saya takut jika realitas kekerasan itu yang muncul di negara kita, dan mestinya Anda juga takut. Oleh sebab itu, buatlah nama sendiri, sebagai politisi cobalah untuk melakukan yang terbaik melalui ide dan gagasan riil, hingga mendapatkan pengakuan masyarakat.

Di mana sebagai bentuk pengakuan tersebut, masyarakat akan mengikuti semua program pemerintahan kepada kesejahteraan, atau masyarakat akan lebih cenderung bersabar serta mengandalkan pemerintahnya saat berlangsung krisis tercipta oleh guncangan eksternal.

Masyarakat juga akan menempatkan Anda sebagai politisi-negarawan yang sukses.

Karena Anda telah membuat nama baik untuk Anda sendiri, nama besar melalui satu alasan. Karena Anda peduli pada keluarga Anda. Sehingga Anda bisa mencegah rakyat saling berkonflik, mencegah ketimpangan sosial, juga ketimpangan ekonomi.***