Muda, Kreatif, Kaya, Adalah Gambaran Indonesia Tahun 2015, Seperti Apa Resepnya?

Muda, Kreatif, Kaya, Adalah Gambaran Indonesia Tahun 2015, Seperti Apa Resepnya?

Anak muda yang terjun dalam bisnis industri kreatif makin marak, dan tentu saja mestinya ikut mengisi lembar demi lembar pendapatan pajak negara ini. Sebelum menengok "kalangan biasa" tengok kalangan elite, di mana putera Presiden Joko "Jokowi" Widodo sendiri merupakan anak muda entrepreneur yang sudah membuat lini usaha sebelum ayahnya menjadi pejabat.

Gibran Jokowi bisa disebut merupakan bagian paling remeh dari gelombang anak anak muda kreatif dan pebisnis, mengingat skupnya saat ini masih lokal berbasis di Solo saja. Dan ada banyak nama nama Anak muda lain yang kelak Anda kenali sebagai mereka yang senang berkeringat uang.

Kevin Naftali, misalnya, memulai usaha pakaian rajut dengan merk Kevas.co, pada tahun 2011, demi meraih pasar yang "ada di luar sana" dia menjual produknya secara online. Mahasiswa 21 tahun dari desain produk ini dan kemudian membangun pabrikran sendiri di Bandung, Jawa Barat. Dan sejak itu clothing line-nya sukses memiliki pelanggan di seluruh Indonesia.

"Kami kapalkan sweater terutama untuk tempat-tempat di luar Jakarta," jelas pada even LocalFest.co.id, yang mengumpulkan para pengusaha muda dan kreatif dalam fashion, seni, musik dan makanan di pusat perbelanjaan Senayan City di Central Jakarta.

Produknya menggunakan sistem pre-order melalui website dan akun media sosial. Kevin mengatakan pendapatan clothing line-nya bisa mencapai antara Rp 150 juta sampai Rp 200 juta per sesi pre-order.

Dengan bisnis yang menjanjikan ini,  Kevin mengatakan ia telah memutuskan untuk bekerja penuh waktu di Kevas.co setelah lulus.

Data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan bahwa industri kreatif menyumbang 7 persen dari pendapatan domestik bruto nasional pada tahun 2014, atau sekitar Rp 642 triliun.

Meidita Agustina dari LocalFest.co.id mengatakan pengusaha yang terlibat dalam industri kreatif setiap tahunnya adalah generasi muda.

"Sebelumnya, mereka mulai melakukan bisnis setelah menyelesaikan studi. Sekarang Anda bisa melihat banyak dari mereka yang masih kuliah," katanya.

Pengusaha muda lainnya, Abiyasa, seorang mahasiswa 19 tahun dari Sekolah Bisnis Manajemen di Institut Teknologi Bandung, mengatakan ia memulai bisnis Perhiasan bersama 15 kawan kawanya awalnya hanya sekedar memenuhi tugas kuliah dari dosen!!

SBM sendiri memang memiliki "kebijakan" bahwa muatan kuliah harus diimplementasikan dengan karya nyata, karena ini sekolah bisnis, maka mahasiswa yang hendak lulus harus benar benar berbisnis.

Dengan "tekanan" dari kampus tersebut Abiyasa dan timnya memutar otak, sampai membuat keputusan untuk memproduksi jam tangan dengan tema keindahan alam, flora, fauna dan budaya Indonesia.

Tim ini berbisnis serius setelah mengetahui bahwa proposal bisnis mereka telah menarik perhatian dari Bank Rakyat Indonesia (BRI), yang memberi mereka modal.

"Kami sekarang telah memutuskan untuk melanjutkan usaha dan mendapatkan pelatihan dengan mesin setelah kami lulus pada bulan April (tahun ini)," katanya.

Pengusaha muda umumnya memasarkan produk mereka di media sosial dan toko online, setelah mengetahui bahwa penetrasi internet di Indonesia sangat menggiurkan.

Kementerian Komunikasi dan Informatika sendiri mengatakan 150 juta dari populasi 255.5 juta di seluruh nusantara sudah memiliki akses ke Internet tahun ini, sementara lembaga BMI Research memprediksikan bahwa total nilai belanja konsumen Indonesia 'pada belanja online akan mencapai Rp 50 triliun pada tahun ini, atau dua kali lipat dari tahun lalu.

Namun, beberapa pengusaha muda masih percaya pada ungkapan "seeing is believing"  yang artinya berinteraksi langsung dengan pelanggan tetap hal paling utama.

Dan pada acara LocalFest.co.id ini salah satu cara toko online eksis di dunia nyata. Ayo pemuda!***Red (Asiaone)