Mendaras Tujuh Pedoman Hidup Orang Lampung, Pedoman Kedua RATONG BANJIR MAK KISIR, RATONG BARAK MAK KIRAK/ TEGUH PENDIRIAN

Mendaras Tujuh Pedoman Hidup Orang Lampung, Pedoman Kedua RATONG BANJIR MAK KISIR, RATONG BARAK MAK KIRAK/ TEGUH PENDIRIAN

Oleh Erwin Eka Kurniawan. S.E., M.Si

 

Kegagalan boleh jadi merupakan keberhasilan yang belum kita pahami. Pada saat Tuhan memutuskan suatu garis hidup pada kita, pada upaya kita, sekuat tenaga kita menghindari suatu masalah, namun pada akhirnya yang kita anggapa masalah itu tetap mendatangi, didatangkan oleh Tuhan.

Akhirnya kita mesti menginsyafi bahwa yang tengah terjadi pada saat itu, bukan karena kita kurang pandai menghindari masalah, bukan karena kita gagal berupaya, melainkan karena Tuhan ingin kita mengalami dan mempelajari rahasia-rahasia serta pengetahuan hikmah dibalik nasib buruk atau segala yang kita anggap sebagai kegagalan.

Ukuran serta takaran Tuhan akan takdirnya pada manusia, tidak akan pernah kita pahami, kita hanya menjalaninya, dengan rumus ikhlas. Dan perlu Anda ketahui, bahwa kekuatan yang dapat membuat Anda ikhlas pada garis nasib yang tengah Anda alami adalah keteguhan hati.

Keyakinan diri, bahwa dibalik semua nestapa, keburukan, dan keberadaan yang iminent digambarkan akan mencelakakan hidup, tidak akan menjadi masalah selagi kita punya keyakinan serta keteguhan diri.

Belajar dari kegagalan, akan memberikan perspektif lain yakni belajar mencari jalan yang baru kepada kebaikan, sehingga kita mau tidak mau semakin menyadari bahwa jalan kepada kebaikan akan semakin banyak, membuat kita mengerti arti kesyukuran pada Allah. Sehingga tidak ada yang namanya masalah, karena semua akan dianggap sebagai tantangan yang akan membuat hidup makin asyik, bergairah, membawa semangat, dan berwarna.

Anda tentu kenal McGyver, bagi kita orang jadul McGyver diperankan oleh Richard Dean Anderson di era 80-90, sementara bagi para millenial sosok McGyver diperankan oleh Lucas Till, keduanya memerankan sosok teguh pendirian, keras kepala kata para bosnya, menyebalkan menurut musuh-musuhnya, karena dia melihat kesulitan, kegagalan, situasi pelik, ancaman, bagai gula dalam secangkir teh nya. Jika pahlawan film lainnya cenderung menghindari masalah, McGyver malah mencari-cari dan meminta masalah untuk diselesaikan bagai rumus matematika.

Apa yang dibutuhkan McGyver untuk menyelesaikan masalah kriminal dan ancaman pada dunia? Apakah perlengkapan gagdet canggih bagai James Bond? Sumber daya intelejen bagai Ethan Hunt di Mission Imposible? Tidak, McGyver seperti kita, orang biasa di kehidupan nyata, yang mengandalkan apa yang ada di sekelilingnya untuk menyelesaikan masalah.

Dari permen karet, tisu bekas pakai, pentil ban, penggaris, saos tomat, semua bisa digunakan untuk bisa bertahan hidup. Dengan cukup modal keteguhan hati dan sikap, tidak kenal mundur ke belakang, tidak surut akan ujian, hadapi, tuntaskan mentalitasmu untuk naik kelas sebagai manusia yang tidak pernah patah dan goyah oleh siksaan, atau deraan nasib.  

 

The Lastman Standing

Ratong Banjir Mak Kisir, Ratong Barak Mak Kirak menegaskan posisi kita dalam pertarungan hidup, sebagai pribadi, juga sebagai bangsa. Sebagai bagian dari suku bangsa Lampung, dan lebih umum lagi sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Manusia Indonesia, bangsa Lampung khususnya, memiliki pendirian yang teguh, tidak mudah goyah oleh godaan, siksaan, tantangan tidak mundur ke belakang, tidak mudah patah, melainkan memiliki bayangan ke depan yang sangat jelas.

Jika kita kalah, entah sebagai pribadi atau sebagai suatu bangsa, maka tidak ada selain kesia-siaan, selain sisa-sisa yang terhapus bagai debu sejarah. Anda ingat di dunia ini ada bangsa yang bernama Lydian? Ke mana mereka? Anda ingat di dunia ini ada suku bangsa bernama Sioux, Sycthian, Mamluk, Hun, Sarasin ke mana bangsa-bangsa itu lenyap? Tanah tempat mereka huni, diami selama ratusan tahun masih ada, tapi di atasnya, sudah berganti bangsa, berganti bahasa.

Belajarlah dari suku bangsa yang punah, namun juga belajarlah dari suku bangsa yang masih bertahan hidup menjadi The Lastman Standing / orang yang berdiri paling akhir di tengah gelimpangan mereka yang merasa gagal, dihancurkan, dirusak, ditantang lalu kalah dan terpuruk. Bangsa the lastman standing tidak ikut terpuruk. Tapi merestorasi diri, memulihkan diri, untuk kembali menantang lagi, menantang dan terus menantang hingga menjadi pemenang untuk waktu yang lama.

Itulah juga yang dilakukan oleh Datuk-datuk kita di Lampung, betapa perlawanan Raden Inton I dan Raden Imba II dikalahkan, hingga menunggu 15 tahun bagi Lampung menunggu bibit perlawanan lainnya tumbuh dan menantang kembali kolonialisme Eropa melalui Raden Inton II. Saat perlawanan Raden Inton II dipatahkan, perlawanan serentak di seluruh bumi pertiwi malah tumbuh bagai cendawan di musim hujan, hingga akhirnya kita merdeka sepenuhnya pada 1945.

Skenario Amerika Serikat saat pihak kolonialis Eropa sebagai pendatang mengkoloni serta menggenosida suku bangsa lokal, dari Sioux, Apache, Maidu, Mojave serta ratusan pribumi lokal gagal diduplikasi di Indonesia oleh kolonialis Belanda. Karena bangsa ini punya falsafah yang luar biasa luhur, membuat bangsa ini tetap menjadi Lastman Standing di Nusantara.

Lalu apakah yang menjadikan kita tetap menjadi Lastman Standing, pribadi yang tetap hidup tidak kalah, bangsa tetap berdiri tegar di tengah tantangan? Karena kita memilikinya, kita mewarisinya dari para Datuk kita, semangat, falsafah, dan aji-aji pusaka budaya leluhur yang apabila kita tinggalkan kita ganti dengan falsafah yang tidak mengakar dari kearifan lokal, bodohlah kita sebagai suatu bangsa, payahlah kita sebagai seorang pribadi.

Sebagai pribadi, ya sebagai pribadi bung. Ratong Banjir Mak Kisir, Ratong Barak Mak Kirak, tegarlah berdiri kita punya keluarga, punya anak, istri di rumah, yang butuh kehadiran kita, kalau dirimu patah, bagaimana caranya kamu bisa berbakti pada keluarga, atau bangsamu sendiri.***