Mendaras Tujuh Pedoman Hidup Orang Lampung : Mak Nyerai Ki Mak Karai, Mak Nyedor Ki Mak Bador/ Berani Menghadapi Tantangan

Mendaras Tujuh Pedoman Hidup Orang Lampung :  Mak Nyerai Ki Mak Karai, Mak Nyedor Ki Mak Bador/ Berani Menghadapi Tantangan

Oleh Erwin Eka Kurniawan. S.E., M.Si

 

Dulu pada saat TVRI masih menjadi satu-satunya TV yang menyiarkan acara ke seantero negeri, saya pernah melihat film tengah malam tentang serangan tentara komunis Vietkong ke basis marinir Amerika Serikat saat Perang Vietnam berlangsung. Saya tidak ingat apa judul film tersebut, namun filmnya begitu membekas di hati karena ungkapan-ungkapan keren dari pemerannya. Lalu akhirnya belakangan diketahui bahwa fillm epik tersebut dibuat di Filipina oleh sineas Australia, judulnya The Siege Of Firebase Gloria.

Pengepungan ratusan tentara Vietcong terhadap pangkalan marinir Amerika dengan kode Gloria, di mana hanya tersisa belasan marinir yang mencoba bertahan hidup, bukan demi Amerika, bukan demi kapitalisme, bukan demi demokrasi di Vietnam, tapi demi nyawa mereka sendiri. Dalam kondisi demikian, tentara menjadi sangat manusia, tidak peduli dengan pangkat, sehingga perawat ikut memegang senjata, orang yang dirawat juga memegang senjata, tidak ingin satupun dari mereka berharap terbunuh oleh serangan bergelombang ratusan tentara Vietcong di bawah pimpinan Kolonel Cao Van.

Di sisi lain, Kolonel Chao Van pemimpin Vietcong bukanlah seorang barbar, dia digambarkan sebagai sosok terdidik, perwira Vietcong yang lain dalam film tersebut juga tampak terpelajar, seolah mereka bukanlah musuh satu dimensional yang selalu digambarkan jahat oleh film buatan Amerika. Saat tentara Vietcong menyerang, tampak dari wajah mereka wajah was-was, penuh rasa takut, enggan serta segan, begitupun dari pihak Amerika yang bertahan di bawah pimpinan Sersan Hefner, tidak ada yang merasa jadi pahlawan, menjadi Rambo atau koboi yang serba jago. Wajah prajurit marinir Amerika digambarkan penuh takut tapi disisi lain juga mencoba tegar. Dalam kondisi ini, tidak ada jalan lain selain ikut berdiri melawan. Sehingga Kolonel Cao Van yang kagum akan keberanian marinir AS menghadapi tantangan pasukannya berkata.

“Kehormatanmu terlihat dari bagaimana keberanian musuh terhadapmu.”

Menghadapi tantangan terbesar membawa kehormatan, walau dirimu dikalahkan, kamu tetap terhormat karenanya. Semakin besar tantangan, semakin besar rasa hormat yang dapat diraih. Oleh karena itulah, menjadi terhormat, menjadi penantang, menjadi tertantang, adalah bagian dari pedoman hidup menjadi orang lampung. Mak Nyerai Ki Mak Karai, Mak Nyedor Ki Mak Bador. Tidak surut oleh tantangan, tidak lari ke belakang, tidak sembunyi saat diberikan tugas yang berat.

Sehingga betapa bangga kita sebagai orang Lampung, pada saat menggali ke masa lalu, untuk lantas menemukan bahwa pedoman ini yang membuat seorang anak muda dari Kalianda bernama Radin Intan II, berani maju paling depan menantang Belanda, di usianya yang masih remaja.

Usia Remaja. Rentang usia di mana remaja nusantara pada umumnya hidup prihatin menangisi nasib sebagai anak muda di tanah jajahan, tapi tidak demikian anak muda Lampung bernama Radin Intan II, bersama anak muda Lampung lain di era kolonial mereka melawan, berani menantang nasib sendiri, bahkan mencoba mengubah nasib orang dewasa di Nusantara.

Mereka yang terlalu muda hidup di dunia, terlalu sedikit untuk melihat banyak hal di sekelilingnya, mampu melangkahkan kaki dengan langkah lebih besar, lebih maju ke depan, karena semata keberanian, menantang diri, mencoba, mencoba, gagal mencoba, namun terus mencoba, tidak ada hentinya, sampai di titik mereka lebih tajam dari sekedar usianya.

Sementara ada di luar sana, yang tua, yang telah mengalami asam garam hidup, merasa tantangan tidak lagi diperlukan, jiwanya telah surut, mereka hidup lebih lama, lihat lebih banyak lalu lelah akan segalanya. Tapi masih haus pada pujian, jabatan, kekuasaan, di mana segala kekuasaan yang mereka kejar justru tidak untuk dimanfaatkan untuk kebaikan rakyat, tidak menjadi mentor atau pembimbing yang baik agar yang muda ikut melakukan yang benar, melainkan malah ikut memupus segala tantangan itu, ikut merusak saat yang muda tengah berjuang.

Karena itu juga yang dirasakan oleh Radin Intan II, dirinya dikhianati sang paman, diracun, karena pihak lebih tua lebih takut pada konsekuensi Belanda. Perjuangannya dikalahkan oleh rasa ketakutan orang tua. Tapi sejarah mencatat bahwa Radin Intan II adalah jawaranya, pahlawannya, dia yang mati muda, karena dikhianati mereka yang tua, yang seharusnya membimbing pada kebenaran, merupakan suluh abadi di negeri Lampung ini. Suluh yang masih hidup, serta contoh besar bagaimana  pepatah Mak Nyerai Ki Mak Karai, Mak Nyedor Ki Mak Bador harus tetap dihidupkan di Lampung Sang Bumi Ruwa Jurai.

Di era pembangunan, di era demokrasi langsung ini, keberanian adalah keberanian dari rakyat, maupun para aparat pelayan rakyat, para pamong dan pemimpinnya, para karyawan dan manajernya, para manajer dan direksinya, para buruh dan mandornya, para petani, peladang, dengan para penyuluhnya, para nelayan bersama aparat di laut, di bumi Lampung untuk saling mendukung, menghadapi tantangan besar abad ini, yakni globalisasi.

Katanya, Globalisasi itu gombalisasi, yakni saling menggombal, saling menipu membohongi, negara yang lebih kuat, kepada negara yang lebih lemah. Kenyataannya tidak demikian,  globalisasi bagaikan film yang barusan yang sebutkan dalam pembukaan artikel ini, yakni serangan bergelombang, serta keberanian untuk menghadangnya, antara negara yang lebih kuat, lebih siap, lebih mantap posisi nya kepada negara yang mau tidak mau harus sama-sama siap.

Apa yang mesti disiapkan?  Untuk sukses menantang globalisasi, tidak bukan tidak lain adalah keterbukaan pikiran, perasaan mau maju, mau mempelajari hal-hal baru, tidak berhenti mencari cara baru, ilmu baru, pengembangan baru, tidak cupet, tidak jumud, serta meninggalkan mentalitas lama.

Misalkan mentalitas meminta-minta pada pemerintah, di mana pemerintah juga jangan berada dalam posisi pemberi yang berkuasa, sok tuan, sok ngebos pada rakyat. Mentalitas yang perlu dipupuk adalah mentalitas kerjasama, berdiri sejajar sebagai mitra antara rakyat dan pemerintah yang saling menguntungkan, serius mengembangkan saling dukung antara rakyat sebagai penyedia SDM, dengan pemerintah sebagai stream line, menuju pasar dunia.

Pemerintah harus sanggup menyediakan lahan serta modal usaha dari para investor, serta bimbingan juga pendidikan yang terbaik, rakyat juga harus sanggup menyediakan tenaga, usaha, pemikiran untuk kemajuan serta semangat tanpa henti untuk memperbaiki diri, tidak mudah tanggal, menyerah di tengah jalan. Pada saat itulah, Lampung tengah berada di jalan yang benar menuju kemajuannya, menaklukan globalisasi.

Sementara para legislator, wajib menyediakan seperangkat aturan serta menjadi mediator agar semua berjalan secara sempurna di lapangan. Tidak ada yang dirugikan, diperlemah, dipersulit, semua harus sama-sama berjalan lancar, legislatif wajib memiliki kekuatan lobi, mengontrol apa yang sulit berjalan untuk kemudian memastikan bahwa pemerintah dapat memberikan layanan yang berkualitas, serta masyarakat memahami penuh apa yang diharapkan oleh para pamongnya.

Segala kebaikan yang telah terjalin, yakinilah akan tetap memberikan kebaikan di waktu kemudian, menjadi contoh kepada generasi selanjutnya. Warisan budaya kita untuk berani menghadapi tantangan, dari sejak Radin Intan II, hingga kita sebagai penerusnya, akan abadi di negeri ini.***