Mampukah Indonesia Raih Untung Ekspor Di Tengah Lemahnya Permintaan?

Mampukah Indonesia Raih Untung Ekspor Di Tengah Lemahnya Permintaan?

Lagi lagi pemerintahan Indonesia Baru mencatat surplus perdagangan untuk bulan ketiga berjalan, dan ini menjadikan kabar baik, atau lebih tepatnya mestinya jadi kabar baik di tengah  defisit transaksi berjalan terus-menerus dari tahun ke tahun yang membuat Indonesia tergantung pada pembiayaan luar negeri.

Mestinya jadi kabar baik, namun menjadi hambar karena ekspor dan impor jatuh sekitar 16% pada tahun ini, yang memperlihatkan bahwa sesuai prediksi berbagai kalangan, aktivitas ekonomi telah melambat sejak masa jayanya dengan pertumbuhan PDB 6,5% pada tiga tahun yang lalu.

Dan berkaitan dengan tekanan mata uang, surplus masa depan juga tidak bergantung pada meningkatkan ekspor namun juga permintaan - dan dengan itu, pertumbuhan ekonomi berjalan.

Ketika BI mengadakan pertemuan hari Selasa (17/03) lalu, para ekonom sepakat ada kemungkinan keputusan pemotongan suku bunga untuk memacu pertumbuhan baru, jangan sampai mendorong rupiah lebih dalam ke rendah dalam 17 tahun terakhir terhadap dolar AS.

Resep untuk pertumbuhan yang lebih tinggi tidak membaik dalam jangka pendek mengingat bahwa ekspor bukanlah pilihan dalam perekonomian yang mengabaikan sektor manufaktur selama booming komoditas pada dekade terakhir.

Ekspor Indonesia saat ini terutama komoditas, seperti batu bara dan minyak, kurang laku, karena pasar utamanya, China sedang berhemat hemat.

"Ini berarti peningkatan neraca perdagangan harus berasal dari impor yang lebih lemah," seperti yang terjadi pada bulan Februari, jelas Santitarn Sathirathai ekonom Credit Suisse.

"Kalau pemerintah bisa anjurkan resep, coba ringankan aturan ekspor misalkan tentang UU Minerba. Tapi yang semacam itu tidak akan terjadi dalam waktu dekat." Tambahnya.

Sebuah pilihan jangka panjang, kemudian, adalah untuk "mempercepat pengembangan industri yang menghasilkan barang modal dan input industri di sini," ujar Sugandi. pengamat dari Standard Chartered Eric

"Tidak peduli apakah investor lokal maupun asing." menurut Sugandi, Insentif pajak akan membantu usaha, tapi pemerintah juga harus memfasilitasi proyek-proyek, membantu perusahaan memperoleh tanah dan memantau kemajuan untuk mengarahkan kemacetan birokrasi.***Red (WSJ)