Literasi Moda Transportasi Antara Terbang Murah vs Keselamatan

Literasi Moda Transportasi Antara Terbang Murah vs Keselamatan

Oleh Erwin Eka Kurniawan. S.E., M.Si.

 

Kiranya Anda pernah dengar cerita warung kopi yang dijadikan judul dari pengkabaran ini.

Tentang seorang supir Bajaj, yang dipaksa rela mendapat tarif setengah harga dari penumpang, yang memanfaatkan banyaknya Bajaj lalu menekan supir Bajaj untuk menerima tarif di bawah harga pasar.

Syahdan supir Bajaj menerima permintaan tarif tersebut, tapi demi menghemat waktu, serta bensin, dia mengebut dan ugal-ugalan di jalan. Si penumpang tentunya tidak terima. "Pak bawa bajajnya yang aman dong!" si supir Bajaj hanya komentar pendek, "Mas e, Mas e, mangewu kok njaluk slamet, bayar lima rebu kok minta aman?"

Ilustrasi di atas mengambarkan dengan tepat bagaimana transportasi murah di jalankan. Penumpang harus siap ambil resiko, ngebut, cepat, atau jikalau sial akan celaka di jalan, adalah bagian dari harga yang telah dibayarkan.

Bagaimanapun, angkutan yang lebih mahal, akan berarti bahan bakar ekstra untuk penumpang, sehingga supir tidak keberatan membawa kendaraannya dengan hati-hati, santai, bahkan menerima kemacetan jalan raya dengan tidak membawa masalah finansial.

Begitupun saat kita coba uraikan logika ini pada penerbangan murah. Karena terbang dengan murah, ada beberapa bagiann yang membuat penerbangan menjadi mahal lantas ditanggalkan.

Misalkan pada bagian teknis, pesawat tidak mendapat perawatan dengan presisi tinggi, melainkan hanya perawatan cek up biasa. Penumpang pun lebih dibatasi bagasinya demi menghemat bahan bakar. Rute pun dipilihkan yang straight, dan lebih hemat, tidak mencoba berspekulasi dengan rute yang ada. 

Apa yang ada dibenak para pilot tentunya take off, terbang dan mendarat dengan efektif, efisien, bagai mengantarkan barang sampai pada waktunya. Pillot seolah berada dalam misi berbahaya, dengan bahan bakar yang telah ditetapkan, di mana setiap misi hanya ada dua kemungkinan, gagal atau celaka di udara, berhasil ke tempat tujuan.

Dalam bahasa marketing yang simpatik tentunya tidak ada yang tidak ingin penumpangnya selamat. Namun dalam bahasa bisnis, tetap berlaku kredo Anda mendapatkan apa yang telah Anda bayarkan.

Mengutip Rusdi Kirana pemilik Lion Air, salah satu maskapai yang berbayar murah, sebagaimana dikutip dari Kompas, 21/02/2015  "Airlines saya adalah yang terburuk di dunia. My airlines is the worst in the world, but you have no choice. Makanya, ada yang bilang, Lion Air dibenci, tapi dirindu,"

Hingga titik ini, sudah jelas bahwa penumpang lebih memilih membayar apa yang kelak datang pada mereka, berupa pesawat yang terbang dalam kondisi "mission imposible" dan para penumpang adalah agen rahasia yang seyogianya menjadi orang paling banyak berdoa semuka bumi, karena faktor risk mereka untuk celaka lebih besar dari penerbangan lain.

Tapi penumpang tidak punya pilihan lain. Di sinilah kita bicara lebih tajam lagi, really? Benarkan penumpang tidak memiliki pilihan lain? Benarkan penumpang terutama di Indonesia lebih memilih jadi expendables di udara semata karena itulah harga yang terjangkau bagi semua orang?

Mengapa tidak mulai mencoba mencari suatu formulasi yang tepat, yakni Murah kok bisa ya aman?

Misalkan, kereta api antar provinsi, tarif kelas eksekutif, bisnis, hingga ekonomi, walau berjalan di rel yang sama, menaiki kereta yang sama, dalam sistem yang sama tetap sama-sama aman. Yang berbeda hanya jenis layanannya saja. Ada yang kursinya saling berdempet antar penumpang, ada ekslusif perseorangan, intinya adalah soal kenyamanan, bukan keamanan.

Begitulah tarif terbang murah di Indonesia harus didasarkan. Yakni tentang masalah kenyamanan, bukan lagi masalah keamanaan penumpang. Setiap yang terbang di Indonesia wajib diberikan rasa aman, walau dirinya membayar dengan sangat murah.

Tentang cara mengakali penerbangan murah, pemerintah toh memiliki senjata yang bernama pengurangan pajak. Demi penerbangan perintis yang mengorbankan rasa nyaman di dek, namun tidak mengorbankan rasa aman. Selaiknya pemerintah mulai memikirkan paket-paket fiskal bagi penerbangan murah di Indonesia.

Bagaimanapun penerbangan murah turut menggenjot dan membuka sektor pajak baru di  daerah.***