Lima Masalah di Indonesia ini Bikin Bete Investor Hi Tech

Lima Masalah di Indonesia ini Bikin Bete Investor Hi Tech

Indonesia; populasinya lebih dari 250 juta, dalam situasi ekonomi yang cenderung menaik di Asia, ini artinya pasar yang sangat potensial bagi mereka yang tertarik untuk berbisnis.

Namun, bagi para investor jauh dari terkaan di atas meja mereka tentang ragam cantiknya statistik dan istilah-istilah yang menghanyutkan dan bullish bagi para investor global, utamanya mereka yang menjajakan barang barang hi tech, yang di antaranya

T
entang potensi startup bisnis teknologi di Indonesia.

Sering kali, mereka berliru melihat kestabilan enam persen pertumbuhan ekonomi dalam beberapa tahun terakhir, atau penduduk lebih dari 250 juta; lebih dari 50 persen di antaranya adalah orang-orang di bawah usia 29, yang secara demografis lebih cenderung untuk mengadopsi produk teknologi dan mendorong konsumsi ke tingkat yang baru dalam waktu kurang dari satu dekade.

Memang benar, selera hi tech di Indonesia tengah naik. Tapi para ventura kapitalis dan investor yang benar-benar memiliki pengalaman nyata di Indonesia dapat menceritakan sebuah cerita yang berbeda.

Negeri yang dahulu dinamai nusantara ini adalah pasar yang menarik, tetapi bisa sulit dipahami dan membuat frustasi juga. Banyak pelaku pemula gagal di Indonesia.

Bukan karena ide-ide yang gagal dieksekusi, atau pola pendirian yang buruk, tetapi karena adanya beberapa tantangan pasar yang berlawanan.

Para star up harus berpikir tentang bias budaya, tingkat pendidikan kongruen yang sering memisahkan audiens pasar dari dinyatakan tunggal menjadi banyak faksi. Negara ini juga belum dapat diandalkan dalam mengkonversi pertumbuhan menjadi pembangunan infrastruktur, dan dari rata-rata tingkat kepercayaan untuk bisnis e-commerce lebih rendah.
 
Hasilnya adalah pemikiran bahwa ada lima tantangan mengapa bisnis pemula hi tech bisa gagal di Indonesia.

1 Indonesia meiliki kolam bakat yang dangkal, SDM belum terlatih, dan hilang potensi
2 Birokrasi njlilmet
3 Target audiens yang licin
4. logistik tidak dapat diandalkan untuk e-commerce
5. Konsumen senang "makan merk"

Uniknya ini juga berlaku bagi para pemain dan investor asal Indonesia sendiri. Berani?***Fey (symber viewtimes)