Kelak SBY kan Bilang Piye Kabare, Masih Penak Zamanku Toh?

Kelak SBY kan Bilang Piye Kabare, Masih Penak Zamanku Toh?

Dalam pemilihan umum 9 April untuk memastikan parlemen Indonesia terisi sejatinya ada yang banyak dipertaruhkan. Dari jumlah 200.000 calon memperebutkan hampir 20.000 kursi di legislatif, dengan 532 gedung di seluruh negeri kita tengah melihat demokrasi dalam kapasitas besar, mahal, penuh lemak. Dan sejauh mana pemilihan memastikan adanya pemerintahan terbaik? Dan bagaimana lanskap politik Indonesia ke depan? Dan apa tantangannya yang akan dihadapi? Semua Tidak ambil pusing.

Karena masih ada beberapa pemahaman politik bergaya Indonesia banget, yakni ingin melihat satu golongan mengalahkan golongan lainnya. Dan akhirnya pemilu adalah untuk memastikan si fulan dan partainya hancur berkeping keping, dibandingkan mencari resolusi akan tantangan kerja bersama. Semua ini terlihat dari bagaimana rumitnya porsi koalisi dan begitu sulitnya ideologi bertemu.

Akhirnya ditemukan sang pecundang yang signifikan yakni tidak bukan tidak lain Partai Demokrat (PD), partai yang mendudukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kepada dua kali masa jabatannya, mereka beroleh 9 persen suara dengan salah satu alasannya adalah tidak ada SBY lagi di kursi kekuasaan. Karena SBY memang berhasil membawakan negeri ini dalam kondisi stabill secara ekonomi, dan beroleh kado 40 juta kelas menengah baru. Namun pemilih di Indonesia begitu pragmatis dan tidak ideologis - maka dari itu secara parlementer ada penurunan tajam 21 persen itu pada Pemilu 2009  menjadi 9 persen saja.

Ada alasan
PD didera oleh serangkaian skandal korupsi sejak tahun 2011. Namun, alasan korupsi itu tidak menjual di Indonesia, karena tengok saja PDIP, dan PKS, dua partai lainnya yang kena hantam skandal korupsi. Berbeda dengan PKS, PDIP berhasil menaikkan porsi suaranya. Dan PKS pun berhasil untuk tidak melorot telalu tajam.

Artinya perang daftar korupsi pada survei pra-pemilu sama sekali tidak dijadikan alasan oleh pemilih untuk memilih partai yang mereka inginkan.

Ada pula prediksi tentang penurunan untuk lima partai-partai Islam, hasilnya survei salah besar. Secara kolektif, partai-partai ini mempertahankan pangsa mereka yang sekitar 26-30 persen dari total suara sejak 2009, hanya berubah komposisi dari masing masing partai saja. Artinya, secara individu, partai-partai Islam seperti PAN dan PKB menunjukkan ketahanan yang luar biasa dan melakukan kampanye cerdas.

Sementara itu, meskipun PDI - P memenangkan kursi terbanyak untuk pertama kalinya sejak tahun 1999, secara luas diperkirakan oleh "efek Jokowi " tapi belum cukup mengamankan kursi presiden. .

Indonesia kini berada dalam labirin koalisi yang akan membuat adanya penampilan politik yang jelek. Sangat jelek. Sangat penuh ambisi dan intrik yang menjijikan di kalangan partai yang bertarung pada sesi berikutnya yakni pemilihan presiden.


Dua kandidat presiden - Jokowi dan Prabowo Subianto - memang memimpin sounding di media massa dan di lapangan dalam hal popularitas. Tapi partai yang berhasil meraih dukungan koalisi yang bisa mendaftar baru PDI-P saja, terakhir mereka terganjal urusan penentuan Wapres. Adapun Gerindra yang mengusung Prabowo Subianto masih belum bisa dipastikan akibat perolehan kursi yang jauh dari harapan.

Jaring jaring koalisi tengan di tebar. Dan rakyat Indonesia sekali lagi akan memilih dengan pragmatis, tentang siapa di antara dua kandidat yang mau mendekati situasi seperti zaman SBY yang lumayan "penak."***Fey