Kejeniusan Ahok Dan Masa Depan Indonesia

Kejeniusan Ahok Dan Masa Depan Indonesia

Dia muslim tanpa syahadat, dia Pendeta tanpa gereja... dia Ahok..


Jika kau ingin mengetahui siapa paling rakyat di antara rakyat, maka ambilah orang yang selalu bicara tentang enaknya hidup di masa lalu. Dan jika kau ingin mengetahui siapa itu pemimpin di antara pemimpin, maka carilah orang yang selalu bicara tentang masa depan.

Tapi barangkali makna bicara masa depan bagi masing masing orang itu berbeda. Masa depan dibatasi oleh syak wasangka orang masa kini, adalah masa depan yang bisa menjamin hidup mereka lebih nyaman, setidaknya 10 tahun mendatang, 20 tahun mendatang, di era di mana mereka masih hidup.

Namun, pemimpinnya pemimpin, bicara tentang masa depan generasi. Dia tidak membelamu, dia membela generasi setelahmu. Oleh karena itu, dirinya menjadi pemimpin, dari mereka yang akan memimpin kelak.

Dan beranikah dirimu mengorbankan masa hidupmu bersenang-senang, hanya untuk anak-anakmu di masa depan? Mereka yang memiliki anak, akan bicara lantang "siap dan  berani!", tapi setengah yakin apakah benar pemimpin tersebut akan membawa anak-anaknya menuju kesejahteraan?

Setelah mengamati seksama, saya berikan Anda satu contoh mustahil, Ahok di Jakarta. Gubernur dengan nama KTP  Basuki Tjahaja Purnama ini merupakan perwujudan dari masa depan itu sendiri. Setidaknya dia terlalu cepat 100 tahun untuk warga kota nya.

Jakarta sebelumnya dikepalai oleh Joko "Jokowi" Widodo, tapi kita sama sama mengerti jas Gubernur pun terlalu sempit untuk dirinya, opini publik tidak pernah melihat dia sebagai Gubernur, setidaknya pertanda ini dilihat dari bagaimana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam satu kesempatan bersama Jokowi ditanggapi dingin orang masyarakat yang lebih memilih dekat dengan Jokowi.

Orang Solo tersebut dijerumuskan bangsanya untuk segera naik ke atas dan melakukan sesuatu, bagaimanapun itu pokoknya Jokowi harus kasih perbedaan dari pemimpin-pemimpin sebelumnya yang "membosankan".

Kebalikannya Ahok, dia tipe serba ngepas. Apapun jabatan kenegaraan yang disematkan padanya akan selalu pas. Bukan karena dia serba mampu, punya kelebihan ekstra dimensional, dan kemampuan versatil. Tapi sudut pandang yang membedakannya. Sudut pandang yang selalu meminta lebih di saat orang lain melihat apapun serba kekurangan.

Orang Bangka ini tidak pernah hidup dalam ironi, tidak juga dia memberi belas kasih pada gagasannya sendiri, atau memaklumi situasi bawahannya, memaklumi keadaan lingkungannya, dia menolak menjadi Mr. Maklum seperti umumnya pemimpin lokal selama ini. Semua harus dinegosiasikan, semua mesti melewati "tenggang rasa" dan "kesantunan".  Bukan kesantunan, pikir Ahok, tapi meminta SANTUNAN. Tanpa "KE". Ahok sudah paham semua ini dari cerita ayahnya yang pengusaha.

Apa yang Ahok pikirkan? Anda bertanya. Bukan hanya Anda, siapapun yang terbiasa dengan kondisi pemakluman akan merasa Ahok ini alien dari planet lain. Barangkali itu benar, barangkali Ahok memang dari planet lain, karena wajahnya tak pernah tertunduk ke bawah lalu menangisi nasib bumi yang semakin berantakan. Dia lebih melihat ke langit mencari planet planet yang kiranya bisa membawa manusia agar selamat. Dia alien.

Dan alien melihat, tidak ada yang perlu dikasihani dan dimaklumi dari Jakarta. Kota di mana birokrasi gila-gilaan berpesta anggaran, birokrasi dan PNS yang memperkaya diri lebih cepat 1000 kali lipat dari para tetangga, membuat para tetangga memohon pada anak anak mereka untuk bercita-cita jadi PNS di Jakarta. Kota dengan raja kecil, raja setengah besar, raja besar, raja kakap, raja super kakap, raja gigantis, berkerumun menunggu kebocoran hasil pajak mampir ke rekening mereka.

Membereskan Jakarta butuh 10 nyawa dan 10 nyali. Ahok hanya punya satu nyawa, tapi tampaknya dia punya 100 nyali untuk melakukannya. Setelah menggantikan Jokowi, yang dirinya lakukan adalah membuka kertas kertas angka dan anggaran. Apa kira kira yang masih bisa diselamatkan untuk generasi penerus. Bila dimulai dari harga diri, maka harga dirilah yang menjadi fokus awal kerjanya.

Anggaran Harga Diri
Setiap kota utama di negara berkembang, pemandangan slump, atau tempat kumuh dipinggiran sungai adalah bumbu penyedapnya. Orang orang hidup bersama sampah sampah yang dibuang orang lain, harus berdamai dengan sampah sampah kiriman yang dialirkan entah lewat sungai, atau dilempar langsung dari atas jembatan. Mereka warga negara, mereka penduduk kota yang dipastikan masih produktif. Apa perlakuan pemerintah selama ini? Adalah menjadikan kemiskinan dan ketidakberdayaan mereka sebagai reklame untuk membuat proposal-proposal anggaran fiktif.

Kemiskinan itu bermanfaat bagi yang pandai membuat proposal. Baik LSM, Partai Politik, Premanisme, hidup dari hidupnya si miskin. Bila si miskin tidak ada, maka berhentilah uang senang-senang mereka, habislah peluang mengeksploitasi mereka. Jadi jangan heran apabila kemiskinan dalam suatu klaster harus dibiarkan tetap ada.

Hal yang dilakukan Ahok sederhana, memastikan anggaran yang ada dikunci, dan dilepaskan untuk pembangunan hunian yang layak. Berupa rusun yang berharga "give away" alias harga nyerah, ditambahi rusun itu fasilitas untuk berdagang, fasilitas kesehatan, fasilitas pengajian, fasilitas yang memastikan harga diri berada di tempatnya. Apa harga diri bagi Ahok, adalah berani membawa nasib sendiri, sebelum nasibmu dipilihkan orang lain secara semena-mena.

Walau kemiskinan tidak bisa diberantas karena menjadi kawan sejarah dari kemanusiaan, tapi mereka yang memanfaatkan kemiskinan bisa dihabisi. Upaya Ahok menyebarkan harga diri dari manusia yang tadinya hidup bersama sampah, adalah untuk mempersempit peluang para bromocorah itu bergerak.

Anggaran Berketuhanan
Apakah Ahok orang yang bertuhan? Jelaskan, bagaimana mungkin orang yang mengaku bertuhan lebih tunduk pada ayat-ayat konsitusi, dibanding kitab suci? Bahkan pada uang dollar Amerika Serikat pun tidak tertulis "In Constitution We Trust" Tidak pada konstitusi kita percaya, tapi bertuliskan "In God We Trust" Pada Tuhan kita percaya.  Tuh negara yang pernah disebut Setan Besar aja percaya Tuhan. Jadi apakah Ahok ini orang yang munafik? Tidak. Malah pertanyaan bisa dibalik, apa yang orang orang yang mengaku tunduk pada kitab suci lakukan selama ini di pemerintahan?

Suatu anggaran, yang dibuat pat gulipat, penuh angka angka fiktif, mengada-ada, semisal biaya beli sepasang printer sampai 100 juta, satu set UPS sampai miliaran, untuk keperluan sekolah!!?? Atau permohonan uang makan perhari untuk beli (dafuq!) LOBSTER!! Apakah itu Anggaran yang dibuat oleh orang yang mengaku tunduk pada ayat ayat kitab suci? Apakah yang semacam itu, orang orang yang mengaku agamis selama ini lakukan? Upaya korup, manipulatif, mencari kesempatan memperkaya diri tanpa melihat kepentingan kota nya, yang masih membutuhkan anggaran perbaikan?

Sementara orang yang mengaku tunduk pada ayat konstitusi, malah membersihkan Anggaran tersebut dari tulisan para "ifrit sim salabim gue kaya", dan akhirnya menjadi Anggaran yang berketuhanan. Anggaran yang ingat Tuhan. Karena tahu batas nalar antara takut Tuhan, adalah takut suap, takut mencuri dan mengambil yang bukan haknya secara akal-akalan. Upaya mengunci Anggaran karena Ahok mengerti, bahwa satu peser pun uang untuk ummat, untuk rakyatnya, kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat. Jadi mengapa orang yang mengaku tunduk pada ayat konstutusi bisa lebih religius, dari yang mengaku religius?

Fiskal Masa Depan Jakarta? Bukan.. Indonesia!
Dan baru baru ini, penulis dikejutkan oleh berita surga, berita tak disangka yang membuat penulis yakin, bahwa Ahok adalah jenius. Dia membaca arah Indonesia. Dia melihat lebih jauh kebutuhan negara ini, melampaui jabatannya sendiri. Berpikir negara dalam format lokal, itu yang sangat jarang, jika ingin tidak menyebut TIDAK PERNAH ADA, dalam sejarah republik ini.

Adalah, gebrakannya dalam pengenaan electronic road pricing (ERP), identitas berbasis elektronik berupa electronic registration dan identification (ERI), dan hukum lalu lintas berbasis elektronik, berupa electronic law enforcement (ELE). Ketiga piranti kebijakan itu akan membuat jalanan Jakarta lebih tertata dan efisien. Dan perlu diketahui, bahwa efisiensi di Jakarta sebagai Ibu Kota Indonesia, adalah penentu kecepatan bisnis di mana Jakarta menjadi hub utama dunia bisnis Indonesia dengan rekan rekan Internasional.

Kebijakan tersebut juga akan diikuti dengan tata laksana pembatasan kendaraan yang masuk. Kelak kendaraan roda dua pribadi tidak diizinkan masuk ke Jakarta, ini juga merupakan revolusi dalam penataan kendaraan. Sebuah kota beradab memang tidak dilihat dari berapa banyak mobil yang lalu lalang, tapi berapa banyak orang yang menggunakan kendaraaan umum.  Dengan demikian, Ahok secara coersif berupaya merevolusi mental rakyat untuk berhemat, apa yang dihemat kalau bukan SDA bernama BBM.

Indonesia setengah mati mencari cara lepas dari jebakan energi, dan bahkan berani memalak rakyat untuk berkontribusi mencari sumber energi baru. BBM juga merupakan potongan fiskal signifikan di APBN. Terlebih Indonesia selalu tumbuh, investasi bermunculan, smelter mulai dibangun, kebutuhan energi, penghematan BBM dengan demikian mutlak. Kepala daerah yang memikirkan nasib energi nasional dengan gagasan jenial mereduksi massif penggunaan bahan bakar, sekaligus mereduksi emisi karbon dan polusi, demi digantikan kendaraan umum yang terkontrol emisinya, adalah negarawan jenius!

Dan umumnya seorang pemimpin, akan memikirkan wilayahnya terlebih dahulu, kebutuhan kebutuhan dan target lokal demi elektibitas dirinya atau kelompoknya pada pemilu yang akan datang. Artinya, setiap kepala daerah mustahil memikirkan kebutuhan warga daerah lain, untuk apa? toh mereka tidak akan ikut mencoblos dirinya atau kelompok politiknya pada pemilu? Dalam kasus Ahok, dilihat dari kacamata pengamat politik yang dibayar murah sekalipun, mustahil bisa terpilih lagi. Karena seolah bukan kepentingan warganya yang dia perhatikan pada kasus ERP ini. Mencegah motor masuk Jakarta, mencegah motor berkeliaran di Jakarta. Ii orang cari gara-gara.

Tapi setidaknya Ahok memberi contoh, pada siapapun kepala daerah yang sedang mengemban amanat rakyat. Berpikirlah dalam spektrum yang lebih luas. Dalam kondisi di mana negara secara keseluruhan membutuhkan peran mereka semua. Ikut memikirkan kesulitan defisit nasional, dan apa yang negara butuhkan, juga bagaimana diri mereka di daerah masing masing mampu mengelola anggaran dan satu nafas dengan strategi anggaran nasional. Dan, satu hal lagi!

Tidak perlu menjadi presiden untuk ikut menentukan nasib negara ini... Ahok style.****

Ferren Bianca