Kapten Kapal Thailand Ini Mengaku Suap Otoritas Indonesia Demi Teruskan Maling Ikan

Kapten Kapal Thailand Ini Mengaku Suap Otoritas Indonesia Demi Teruskan Maling Ikan

Pengakuan mengejutkan dikabarkan dari Bangkok Post, setelah seorang kapten dari kapal penangkap ikan asal Thailand mengatakan Rabu (25/03) bahwa dia bersedia untuk ambil risiko mencuri ikan di perairan Indonesia meskipun pemerintah Indonesia punya ribuan ton peledak untuk meledakkan kapal pencuri ikan demi memerangi illegal fishing.

Kapten bernama Khomsan ini mengatakan dia yakin bisa bebas dengan membayar biaya konsensi saat pencarian ikan walau pada akhirnya kapal mereka akan disita oleh pihak berwenang Indonesia.

Khomsan mengatakan iuran konsesi bulanan ini dibayarkan ke berbagai
otoritas Indonesia "yang bertanggung jawab" untuk wilayah perairan alias jalur suap. Operator seperti dirinya memang harus selalu bersiap  untuk membayar uang suap ekstra.

Kas, bensin atau tangkapan mereka - senilai ribuan dollar bisa menjadi sarana suap untuk mendapatkan kapal kapal disita, jelas Khomsan, yang mengoperasikan 21 armada kapal pukat ikan dan lima kapal dengan unit freezer.

Khomsan, yang berasal dari Thailand timur ini telah memancing di Perairan Indonesia selama hampir 10 tahun.

"Sebagian besar kapal nelayan Thailand membayar suap untuk angkatan laut atau patroli kelautan, dan Polisi. Tetapi jika kapal disita oleh instansi lain, seperti perikanan berwenang, artinya harus ada ekstra suap," jelasnya.

Khomsan juga mengatakan perairan Indonesia yang luas dan dapat dibagi menjadi beberapa zona misalkan utara dan selatan. Zona selatan, dekat Australia dan Papua New Guinea, berlimpah dengan sumber daya laut dan lumayan hasilnya, butuh beberapa bulan sebelum kapal kembali ke pelabuhan.

"Ketika sebuah kapal nelayan Thailand yang disita karena memancing secara ilegal, dan dapat ditenggelamkan atau disita, di darat. Para awak kapal akan ditahan untuk waktu yang lama sebelum kasus tersebut disidangkan, Kadang-kadang mereka harus menunggu pengampunan dari pemerintah Indonesia. Bagi mereka yang membayar biaya konsesi, para perantara akan membantu semuanya." tambahnya seraya mengaku ia menyiapkan uang suap sekitar 50.000 baht per kapal.

Gimana ini bus Susi?***Red