Kamar Dagang AS, Yakin Jokowi Sanggup Atasi Tiga Isu Investasi

Kamar Dagang AS, Yakin Jokowi Sanggup Atasi Tiga Isu Investasi

Managing director American Chamber of Commerce (AmCham) Indonesia, Andrew White  kembali menegaskan bahwa

"
Perusahaan-perusahaan AS siap untuk terus berinvestasi di Indonesia, karena ada tanda-tanda bahwa pemerintah baru akan mengambil serius tiga isu [regulasi, infrastruktur dan tenaga kerja],"

Sebagaimana studi yang dilakukan bersama oleh AmCham Indonesia, Kamar Dagang AS dan USAID tahun lalu mengungkapkan bahwa perusahaan-perusahaan AS selama ini melempar investasi total US $ 65 milyar antara tahun 2004 dan 2012, yang artinya setia menjadi investor asing terbesar di Nusantara.

Data resmi berdasarkan aliran dana ini juga dicatat oleh Bank Indonesia (BI) dan menunjukkan bahwa investasi langsung asing (FDI) menetap di hanya $ 7 miliar selama periode delapan tahun, menempatkan Indonesia sebagai tujuan investor terbesar asal AS diposisi keempat.

AmCham adalah federasi bisnis terbesar dunia yang mewakili kepentingan lebih dari 3 juta pebisnis dari semua ukuran, dan di semua sektor, dan daerah, serta asosiasi negara dan ruang lokal dan industri.

Menanggapi penilaian positif AmCham, Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suryo Bambang Sulisto mengakui bahwa Indonesia mesti serius memperbaiki sektor infrastruktur dan energi meskipun ada jaminan berkelanjutan dari investor karena menjadi pasar yang terbesar secara regional.

Suryo memberi daftar adanya ekspor mesin-mesin berat, eksplorasi minyak dan barang konsumsi sebagai sektor utama di mana investor AS akan cari.

"Indonesia menawarkan potensi terbesar untuk investasi, banyak kesempatan," katanya, seraya menambahkan bahwa Amerika tertarik untuk mengambil bagian dalam proyek-proyek berbasis konstruksi.

Suryo juga mengatakan bahwa investasi terus mengalir meskipun ada sedikit penurunan karena tahun pemilu. Dia percaya bahwa pebisnis di Amerika Serikat akan menjadi lebih optimis menanggapi hasil pemilu yang dimenangi oleh Pasangan Joko Widodo dan Jusuf Kalla, yang keduanya adalah politisi berbasis pengusaha.***Fey (Sumber Asiaone)