Kado "Gosong" Awal Tahun Dari Ekonomi Cina

Kado "Gosong" Awal Tahun Dari Ekonomi Cina

Ekonomi Cina masih menyimpan kejutan di tahun 2016 ini. Sebut saja kado awal tahun yang diberikan Cina, membaut sesak nafas investor pasar modal dunia. Guncangan pada pembukaan perdagangan pasar modal China awal tahun ini membuat panas dingin investor global. 

 

Bagaimana tidak, hanya setengah hari di awal tahun perdagangan, Senin (4/1), indeks bursa Shanghai yakni CSI 300 Index amblas hingga 7%. Sontak ini membuat otoritas bursa China menghentikan perdagangan saham (suspensi) di waktu yang tersisa. Indeks bursa Shanghai anjlok 6,86% ke 3.296,26.

 

Sedangkan, indeks bursa Shenzhen terpangkas 8,22% menjadi 2.119,16. Kepanikan pasar saham China timbul pasca Biro Statistik Nasional China melansir data manufaktur China yang tercermin dalam Purchasing Manager Index (PMI) Desember 2015 sebesar 49,7.

 

Penurunan yang sudah terjadi lima bulan berturut-turut menjadi penanda bahwa ekonomi China tengah bermasalah. Tren pelemahan ekonomi Cina masih akan terus berlanjut bahkan diduga akan semakin buruk di tahun 2016 ini. 

 

Itu pula sebabnya investor individu yang berkontribusi hingga 80% pada pergerakan saham bursa China melakukan aksi jual dan berujung penghentian perdagangan. Perilaku investor dan trader China cenderung spekulatif. Semua orang di Cina terjun ke pasar saham. Baik kakek, nenek, sopir taksi, ibu rumah tangga dan mahasiswa semua ikut hiruk-pikuk kedalam "chao gu" atau goreng-menggoreng saham. 

 

Karena hal ini posisi investor China sangat leveraged, dan menghadapi margin call, akhirnya mulai sell off. Pasar saham Cina pun mulai fluktuatif dengan rentang sangat lebar, kadang dibuka melompat sebanyak 3,%, 5% bahkan sampai 7%. Investor pun panik dan kehilangan kepercayaan terhadap ekonomi Cina. 

 

Sedemikian dahsyat pengaruh bursa China awal tahun lalu, ikut menyeret pasar saham dunia. Sehari setelahnya Indeks Dow Jones dibuka melorot 2,28% ke level 17.027,28 hingga pukul 22.05 WIB. Sedangkan, S&P 500 turun 1,81% menjadi 2.006,88. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga tergelincir 1,46% ke level 4.525,92. 

 

Keadaan ini juga mengancam Indonesia karena Indonesia banyak mengirim bahan baku komoditas ke sana, seperti batu bara, CPO, dan lain sebagainya. 

 

Sebagaimana diketahui pasar saham China merupakan yang terbesar kedua sejagat. Kado awal tahun ini, boleh jadi merupakan sinyal kuat bahwa China akan menjadi momok ekonomi sekaligus pasar keuangan dunia tahun ini. *** kny (kontan)