Jokowi dan PKB Murni Koalisi, bukan Perkawinan Ideologi

Jokowi dan PKB Murni Koalisi, bukan Perkawinan Ideologi

Partai Islam yang pada 2014 ini mendapat keterpilihan terbesar dari partai Islam lainnya di Indonesia pada hari Sabtu lalu mengumumkan dukungannya terhadap calon presiden Joko "Jokowi" Widodo untuk siap menghadapi pemilihan presiden pada bulan Juli, dengan demikian koalisi yang sudah digadang sejak minggu minggu lalu telah resmi.

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), yang lahir dair NU, organisasi Muslim terbesar di Dunia, adalah partai terlawas yang bergabung aliansi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang mendukung Jokowi.

Koalisi ini mengikutsertakan pula Partai Nasional Demokrat (NasDem) yang telah memberikan Jokowi dasar hukum untuk membantunya melewati batas keterpilihan dalam mencalonkan presiden.

"PKB akan bergabung dengan koalisi yang dipimpin oleh PDIP. Karena kami percaya visi mereka untuk melanjutkan perkembangan politik dan ekonomi Indonesia mirip dengan yang kita perjuangkan,"  jelas Helmy Faishal, politisi DPP PKB .

Wakil Sekretaris PDIP, Jenderal Hasto Kristiyanto menegaskan koalisi dengan PKB lebih dimungkinkan karena kemesraan antara kedua ideologi. "jejak sejarah yang sama dan ideologi " ujarnya.

Adapun pengamat politik
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Indria Samego, (LIPI), masih belum menangkap kesamaan jejak ideologi tersebut. Dan baginya PDIP dan PKB tengah mencari cara penjelasan paling masuk akal koalisi keduanya.

“Strategi yang mungkin dianggap lebih populis dan diharapkan bisa meningkatkan elektabilitas elite politik PDIP, PKB, dan Nasdem. Sebab, bagaimanapun juga, elektabilitas Jokowi dan Prabowo tampaknya tidak jauh berbeda. Karena itu, mereka (PDIP) mencari metode yang paling pas untuk meyakinkan publik,” jelas Indira sebagaimana dikutip dari BBC (11/05)

PKB didirikan oleh mantan presiden Abdurrahman Wahid, Gus Dur dikenal sebagai ketua organisasi Muslim moderat terbesar di dunia Nahdatul Ulama (NU) yang di awal 2000-an menjadi presiden Republik Indonesia dengan kebjakan pluralis yakni merangkul dan melindungi berbagai agama minoritas. Jadi kedekatan dengan PDIP dianggap sebagai meneruskan perjuangan Gusdur.

Akan halnya di sisi lain, Mantan jenderal Prabowo Subianto, yang juga ketua dewan pembina Partai Gerindra diambang keberhasilan untuk mendapatkan dukungan dari salah satu partai Islam lainnya (PPP).

Pejabat partai Gerindra juga sempat melakukan pembicaraan dengan Golkar dan aktif dengan PAN, setelah memastikan dukungan dari partai Islam konservatif, PKS.***Fey (sumber Reuter)