Jokowi adalah Soekarno, Sandiaga adalah Hatta, Mari Buktikan Dalam Gagasan Nyata

Jokowi adalah Soekarno, Sandiaga adalah Hatta, Mari Buktikan Dalam Gagasan Nyata

Oleh Erwin Eka Kurniawan, S.E., M.Si.

Kisah Gustika ini mungkin bukan yang pertama, dan juga bukan yang terakhir. Akan tetapi, dia adalah yang pertama dari keturunan pendiri negara ini, yang bicara secara lantang muak terhadap kondisi politik di tanah air, dengan bahasa gaya milenialis.

Jika Anda perhatikan gaya twitter Gustika Hatta yang dia tujukan khusus kepada Dahnil Simanjuntak, bahasanya campur aduk dengan istilah Inggris ngepop, serta umpatan khas milenial, menandakan Gustika berusaha blak-blakan, tidak ada rem tangan dan rem depan.

Gustika menulis:

"untuk orang yg kesabarannya minus kyk gue gini denger kakek gue disamain sama sandiaga uno rasanya mau muntah. every. single. time. waktu pilpres. why. cant. you find. your own fucking voice. hatta is hatta, you is you. i am a hatta, but i ain't bung hatta. anj**g."

Untuk Anda generasi yang lahir di era 80-an, seperti halnya Dahnil Simanjuntak, yang melewati musim duren bersama Lintar, mampir ke Cafe Blue milik Sasa, bermain bersama Olga dan Sepatu Roda nya, mengikuti petualangan si Roy, mendengar lagu Maafkan dari Slank, atau menyenandungkan Kisah Kasih di Sekolah, dan akhirnya kini Anda telah menjadi bagian elite politik, kalimat dari Gustika itu tentunya sangat kasar, tidak ada etiket. Apalagi, dari cucu seorang pendiri negara.

Tentu saja ini bisa menjadi pertanyaan penting, apakah para milenialis segalak Gustika? Apakah begitu mudah mereka melepas umpatan, siapa gurunya? Apakah efektif kritik disampaikan dengan cara.... "nge-gas" macam itu?

Kami juga khawatir bahwa ini merupakan salah satu dari banyak ruang konflik mengikuti Pilpres 2019. Jika pada akhirnya, keras hati di balas dengan keras hati pula tentunya akan menjadi pembiasaan. Sehingga disintegrasi antar sesama elemen bangsa akan sulit terhindarkan.

Jika boleh mengkritik kembali kepada Gustika, kiranya menyampaikan kritik agar para politisi tetap pada treknya, fokus ke gagasan proklamator tentang koperasi, tanpa ada istilah kasar, tentunya akan lebih mewarnai setidaknya mengurangi tensi tinggi di dunia perpolitikan kita akhir-akhir ini.

Bukankah suatu keuntungan besar, jika benar ada dua kelompok ikut kontestansi sama-sama membawa gagasan proklamator, Trisakti Soekarno di sisi Jokowi-Ma'ruf, dan Koperasi Hatta dari sisi Prabowo-Sandiaga.

Kita hanya perlu mencari waktu dan tempat untuk men-debugging gagasan kedua kelompok tersebut, apakah benar-benar memperjuangkan gagasan Soekarno-Hatta, yang kemudian dapat dicerminkan dengan baik di waktu kekinian, melalui Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional? Atau hanya sekedar polesan bibir kampanye lainnya.

Kita sendiri mestinya antusias bila benar-benar gagasan 'Keynesian Terpimpin' versi Soekarno dapat di adu dengan gagasan 'Soft Marxis' a'la Hatta. Soekarno ingin menjadikan bangsanya besar, maju, setara, dan berwibawa di mata dunia, sementara Hatta ingin masyarakat Indonesia membesarkan kapasitasnya sendiri tanpa pusing apa yang terjadi dengan kemajuan dunia.

Jika kedua gagasan ini bertemu dalam forum sekelas kampanye pemilihan presiden, bukankah ini hebat, dan patut kita tunggu-tunggu, di mana masyarakat akan mendapatkan manfaat dari debat dua kutub proklamator yang berniat dan bertujuan yang sama, namun menghiliri arus mata sungai yang berbeda.***   .