JK: Masak Sri Mulyani Senang Mati Berdiri

JK: Masak Sri Mulyani Senang Mati Berdiri

Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla yang dihadirkan sebagai saksi dalam sidang kasus Bank Century menyebut adanya kesalahan dalam keputusan pemberian Fasilitas Pendanaan Jangka Pendek (FPJP) dan juga ditetapkannya Century sebagai bank gagal berdampak sistemik.


Pernyataan tersebut serupa seperti yang diutarakan mantan menteri keuangan kala itu, Sri Mulyani. Bahkan melihat adanya perubahan besar pada FPJP secara mendadak, Sri Mulyani pun mengibaratkan ia bisa mati berdiri mengetahui hal tersebut.


"Kalau lihat pembicaraan Bu Sri Mulyani bisa mati berdiri, itu berarti salah kan? Masa orang senang mati berdiri," ujar JK di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis (8/5/2014). 


Lanjut, namun JK menolak pernyataan Sri Mulyani yang mengatakan waktu itu telah melaporkan keputusan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) yang menetapkan Bank Century sebagai bank gagal berdampak sistemik. 


Dari pengakuan Sri Mulyani yang bersaksi lebih dulu, dirinya yang pada waktu itu menjabat sebagai ketua KSSK sudah memberikan laporan langsung ke JK via pesan singkat. 


"Tapi, mana saya terima (pesan singkat) kan tidak?" sergah Jusuf Kalla.


Mengenai nilai PMS sendiri, awalnya telah disepakati Rp 632 miliar dengan CAR negatif 3,53 persen. Setelah itu, menurut Sri Mulyani ada perubahan CAR yang turun tajam ke level negatif 35,92 persen.


Itulah yang menyebabkan pemberian PMS membengkak hingga Rp. 4,6 triliun.


“Saya bisa mati berdiri kalau angkanya berubah-ubah," ungkap Sri Mulyani saat bersaksi di Pengadilan Tipikor Jakarta, 2 Mei lalu. 


Dari hasil kesaksian persidangan terungkap, dana PMS sebesar Rp 6,762 triliun telah digelontorkan melalui Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dimulai tanggal 24 November 2008. Setelah itu , Bank Century resmi sepenuhnya dibawah tanggung jawab LPS. ***mjd (sumber Liputan6)